Skip to content

TRILOGI CERITA DARI PINGGIR KAMPUS (BAGIAN III)

    TRILOGI CERITA DARI PINGGIR KAMPUS (BAGIAN III)

     

    Jurang Lebar Antara Selasar, Tempat Pingpong, dan Meja Meja Payung Hijau (ditulis pada Bulan Februari 2014)

    Tampak sekali Kota Jogja mendung sore ini, dengan awan yang cukup gelap. Baru kemarin aku mendarat dengan pesawat di Bandar udara Adisucipto, terasa sekali rasanya sebelumnya pesawat berkali kali terkurung di dalam awan. Akibatnya tak jauh beda menaiki moda transportasi pesawat terbang dengan bus malam dengan sopir ugal-ugalan. Beruntunglah aku bisa sampai ke Jogja dengan selamat setelah menempuh perjalanan dari kota Denpasar. Itu cerita kemarin. Kali ini aku awan mendung tak menghalangiku menuju ke kampus untuk berkumpul dengan kelompok tugas salah satu mata kuliah, yang mana aku baru pertama kalinya berkumpul dalam satu semester.

    Kupacu dengan hati hati motor kesayanganku sejak SMA yang penuh dengan debu vulkanik, melintasi jalanan berselimut debu pula. Inilah sisa sisa muntahan Gunung Kelud dari Jawa Timur tempo hari yang lalu, yang menyiratkan tanda tanda kekuasaan-Nya. Kota Jogja dihujani dengan abu vulkanik tepat pada malam sebelum hari valentine bagi yang merayakan. Aku menangkap bahwa hikmahnya adalah agar pada saat hari valentine para muda mudi tidak ke apotek untuk membeli kondom, tetapi justru membeli masker. Yah, seiring zaman moral agama semakin tergerus oleh budaya barat yang dianggap modern oleh banyak masyarakat muda Indonesia yang mengaku mengikuti zaman.

    Tak perlu waktu lama buatku untuk tiba di kampus. Salah seorang temanku yang merupakan “pensiunan” anggota Shariah Economics Forum, atau mahasiswa Fakultas Ekonomika & Bisnis biasa menyebutnya dengan SEF, tepat mengirim pesan pendeknya, mengatakan bahwa dia dan kawan kawan telah berada di Payung Hijau sisi selatan. Tak perlu menunggu lama untukku bergegas menuju kesana.

    Payung Hijau merupakan tempat sebutan mahasiswa kampusku untuk menyebut sebuah meja dengan kursi kursi melingkar yang beratapkan sebuah payung berwarna hijau. Di kampusku, yang namanya Payung Hijau tersusun rapi melingkari Plaza (atau “alun-alun” fakultas) FEB, dan sering dipergunakan para mahasiswa untuk berkumpul dalam rangka tugas ataupun agenda lain. Bagi sebagian besar mahasiswa kampusku, Payung Hijau merupakan tempat favorit untuk belajar dan mengerjakan tugas, hingga rapat kecil suatu organisasi. Namun tempat ini lebih sering digunakan sebagai tempat untuk agenda yang berhubungan dengan akademis. Cukup jarang ada mahasiswa kampus FEB yang mengadakan rapat kecil di barisan Payung Hijau. Tak pelak, selama tiga tahun kuliah di kampus ini, aku lebih sering melihat deretan Payung Hijau terisi oleh orang-orang yang aku nilai sangat perfeksionis dan rajin dalam hal akademis. Memang tak semua seperti itu, tetapi fakta menunjukkan kecenderungan seperti demikian.

    Sesampainya di deretan Payung Hijau selatan, aku melihat beberapa temanku telah menunggu dengan laptop terpasang di depan mata mereka. Pikirku, aku tak sebanding dengan kepintaran dan kerajinan mereka. Perasaan inferior sempat terbesit dalam pikiranku, karena sepertinya hanya aku yang berbeda dengan mereka. Ah, ternyata tidak juga, karena ada temanku yang sering aku jumpai dia sebagai panitia acara-acara music band fakultas berada disana. Aku teringat bahwa dia menjadi ketua acara jazz yang mengundang Cassiopea sebagai bintangnya di tahun kemarin yang belum lama berganti.

    Kami pun mulai membahas mengenai agenda tugas yang harus dikerjakan. Cukup banyak juga karena tiga hari lagi kami harus presentasi di kelas untuk tugas itu. Kali ini, aku memilih diam saja karena mata kuliah ini aku tidak terlalu menguasai (dapat dibilang tidak tertarik). Namanya juga manusia normal, pasti ada yang disukai dan tidak disukai. Kalau mahasiswa, pernyataannya akan berubah bahwa ada mata kuliah yang disukai dan tidak disukai. Tapi ada saja seorang rekan yang benar-benar menyukai dan menguasai banyak mata kuliah, walaupun orangnya sering mengikuti kegiatan kepanitiaan.

    Aku melihat Payung Hijau sekeliling, ternyata ada juga sekumpulan mahasiswa fakultasku yang sempat untuk berkumpul tugas di hari minggu seperti ini. Tak mengherankan juga sebenarnya buatku, karena hari minggu adalah hari yang dimana banyak mahasiswa tak ada kegiatan, sehingga semua anggota kelompok dapat hadir semua. Entah bosan atau bagaimana, salah seorang temanku mulai berbicara tentang mata kuliah dan dosen yang dia ambil. Aku pun menimpalinya pula, dengan membicarakan mata kuliah dan dosen.

    Temanku yang “pensiunan” anggota SEF tak mau kalah pula. Aku teringat bahwa dia juga anggota BEM fakultas pula dua tahun yang lalu. Bahkan dia juga bawahan stafku dalam kepanitiaan acara Ekonomi Bebas Korupsi 2012, sebagai panitia yang bertugas dengan urusan perlengkapan. Lambat laun, pembicaraan kami mulai mengarah pada salah seorang mahasiswa angkatanku, namun beda jurusan. Orang ini, adalah orang yang banyak tidak disukai oleh banyak kalangan mahasiswa. Banyak rekan menilai bahwa dia terlalu perfeksionis tentang hal akademis. Bahkan di warung makan pun dia membaca buku kuliah, yang dimana banyak mahasiswa secara wajar tidak melakukannya. Selain itu, pada semester satu dahulu, aku sempat satu kelas dengannya.

    Aku teringat bahwa dia sering “menantang” dosen dengan pendapat-pendapatnya yang ia utarakan di kelas. Lambat laun, tentu saja sang dosen “jengah” dengan kelakuannya, hingga pada suatu titik sang dosen diam saat mahasiswa tersebut mengacungkan tangan untuk berpendapat. Temanku menimpali dia, bahwa pernah suatu ketika di kelas, dimana banyak mahasiswa mengulang salah satu mata kuliah tersebut. Tak disangka, mahasiswa perfeksionis itu juga ikut hadir di kelas untuk mengulang mata kuliah itu. Saat ditanya sebabnya, jawabnya adalah mengulang karena dapat nilai B+ adalah hal yang memalukan. Sungguh merupakan sindiran disaat mahasiswa yang bertanya, dan banyak juga temannya mendapatkan nilai C dan D, dengan dosen yang sama. Itulah faktanya mengenai seorang mahasiswa dengan sikap perfeksionis yang tinggi terhadap hal akademis.

    Tetapi tak apa buatku, karena apabila seorang bersikap seperti itu, maka akan terlihat dampaknya kemudian hari, kalau saja mahasiswa tersebut masih bersikap perfeksionis seperti itu. Bahkan jadi dosen pun rasanya kurang cocok apabila memiliki sikap seperti itu. Jadi praktisi apalagi, dijamin tak akan dapat karena berkomunikasi dengan orang lain saja tidak sanggup. Bolehlah mahasiswa pintar secara akademis, asal diimbangi dengan pelajaran hidup dan kemampuan yang cukup dalam mengaplikasikan apa yang dia pelajari. Kalau bahasa ilmiahnya, antara IQ, EQ, dan SQ harus seimbang. Jadinya harus seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Rata-rata, mahasiswa yang seperti itu dia kurang menikmati hidup (menurutku), karena segalanya harus serba teratur dan serba tertekan. Aku jadi teringat bahwa seorang petani terkadang justru lebih bahagia dibanding dengan seorang direktur yang selalu dipusingkan dengan berbagai masalah dan berbagai kebutuhan. Orang mencari kebahagiaan, bukan mencari uang. Memang uang dapat membantu kebahagiaan, tapi tak segalanya.

    Orang-orang dengan fokus akademis biasanya jarang terlihat di kampus. Kehidupan mereka hanya seputar kuliah, pulang ke rumah atau kost, disana pun belajar pula. Sesekali datang ke kampus untuk berkumpul belajar atau mengerjakan tugas kelompok. Main pun dapat dihitung dengan jari. Namun, ternyata kehidupan yang disebut sebagai “Kupu” atau Kuliah-Pulang tak hanya dijalani oleh orang-orang dengan fokus akademis. Tak sedikit pula orang-orang dengan jiwa main, bahkan bisnis menjalani kehidupan seperti ini. Yang membedakan adalah mereka pulang tidak untuk pulang, tetapi mengerjakan hal lain, seperti ikut organisasi di luar fakultas, ataupun bisnis yang justru lebih menguntungkan. Bahkan ada pula yang bekerja secara paruh waktu.

    Banyak mahasiswa dari golongan organisasi fakultas sering menganggap golongan di atas tadi sebagai “Kupu”, namun terkadang justru mereka punya “nama” diluar fakultas. Toh, malah justru memiliki nilai yang terkadang lebih dibanding mereka-mereka yang hanya aktif di organisasi seputar fakultas seperti aku ini, walaupun baru saja pensiun dua bulan yang lalu. Beberapa teman memang memiliki bisnis dengan omzet yang cukup menguntungkan, dan mereka sudah teruji di dunia nyata, dibanding dengan rekan-rekan yang “pekerjaannya” hanya seputar kuliah dan organisasi. Tetapi semua itu dapat terjadi sepanjang memiliki kegiatan dan organisasi. Lain halnya kalau hanya benar-benar “Kupu”, aku memang menganggapnya sebagai katak dalam tempurung. Tetapi tidak dengan mereka yang aktif dalam kegiatan, entah itu di dalam atau diluar kampus, entah itu berbentuk seni ataupun bisnis. Hidup ini memang harus belajar, tetapi belajar itu tak selalu secara formal atau akademis.

    Ah, memang tanggapan orang-orang organisasi fakultas ataupun orang-orang yang aktif dan eksis di kampus terkadang salah kaprah. Berbicara soal orang-orang aktivis organisasi, pada faktanya di kampusku seperti terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah golongan yang sering menghabiskan waktu bertempat di selasar. Pada kampusku, selasar adalah sebuah tempat lapang dengan banyak meja-meja dan kursi-kursinya. Fungsi asasinya tak lebih sama seperti Payung Hijau tadi, namun bedanya ruangan ini beratapkan beton sehingga tetap nyaman dikala hujan datang.

    Di samping itu, selasar dekat dengan beberapa ruangan organisasi utama mahasiswa, seperti himpunan mahasiswa jurusan, keagamaan, pers, hingga Badan eksekutif mahasiswa dan pecinta alam fakultas.  Ruangan ini sering dijumpai beberapa mahasiswa yang dinilai cukup “eksis” dan memiliki nama di kampus, Pada hari-hari kuliah, ruangan ini cukup rama mahasiswa dan mahasiswi yang sekedar “nongkrong” disana atau belajar kelompok.

    Pandanganku selama kuliah ini adalah bahwa ruangan selasar selalu ditempati oleh orang-orang eksis memiliki nama, yang cenderung “membuat jarak” dengan mahasiswa-mahasiswa satu kampus yang mereka rasa “bukan” golongan mereka. Entah mereka menyadari atau tidak, tetapi itulah yang terjadi. Rata-rata mahasiswa yang sering berada di selasar adalah mereka yang tak ingin ketinggalan soal gaya dan kabar, dan tentunya mereka juga ditunjang oleh kemampuan ekonomi orang tua mereka. Padahal tanpa mereka, selasar hanyalah sebuah ruangan berlantai keramik dan berdinding beton dengan meja-meja kursi yang terhampar. Secara pribadi, aku jarang untuk sekedar “nongkrong” di selasar kalau tidak ada keperluan yang benar-benar perlu. Memang, di selasar aku harus cukup pandai membawa diri agar dapat menyesuaikan diri dengan mereka. Contohnya adalah perbincangan dengan bahasa gaya Jakarta, namun untuk yang satu ini aku tidak dapat melakukannya.

    Jikalau memperbincangkan dosen, mata kuliah, dan seputar kota Jogja, sampai sedikit sedikit seputar liga sepakbola aku masih dengan senang dapat mengikuti. Perbincangan gaya hidup pun masih dapat kuikuti sedikit demi sedikit. Entah mengapa, sudah sejak lama selasar seperti dikuasai oleh para anggota-anggota dari himpunan mahasiswa jurusan. Aku heran mengapa para anggota himpunan mahasiswa jurusan tidak melakukan usaha “merangkul” mahasiswa-mahasiswa jurusannya, namun justru seperti membatasi diri dengan mereka-mereka yang disebut “Kupu” atau aktif organisasi lain. Apabila mereka mengatakan bahwa mereka telah membuat banyak acara untuk jurusan, mengapa mereka justru membuat acara “mercusuar” yang justru membutuhkan dana lumayan besar. Tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan kebanggaan jurusan, tetapi apakah semua anak yang berada dalam satu jurusan merasakannya? Yang merasakan tentu hanya segelintir mahasiswa yang menjadi panitia, dan notabene adalah mereka yang merupakan pengurus organisasi himpunan mahasiswa jurusan itu. Aku selalu bertanya, mengapa mereka tidak berfokus pada acara yang membuat agar mahasiswa dalam satu jurusan saling mengenal dekat di dalamnya.

    Pun dengan tempat makan para mahasiswa “eksis” di kampus, yang mereka lebih sering terlihat di kantin FEB pojok selatan, atau lebih sering disebut sebagai kafetaria atau kafet. Aku tertawa apabila ditanya seorang teman mengenai kantin yang tempatnya dekat dengan paying hijau dimana aku berkumpul kerja tugas saat ini. Tak dinyana selama tiga tahun kuliah di kampus ini, aku bisa dihitung jari berada atau makan di kantin fakultas tersebut. Bukan karena lingkungannya yang nyaman atau karena teman-temannya, namun karena harga disana yang menurutku dirasa tak cukup bersahabat dengan kantong mahasiswa.

    Kalau di warung-warung biasa sebuah tempe goring dijual dengan harga Lima ratus rupiah sebuah, maka di tempat itu dijual dengan harga seribu rupiah tiap buahnya. Demikian pula dengan segelas es teh, yang dijual 2 kali lipat dibanding dengan di tempat lain. Entah apa sebabnya, karena aku belum pernah menanyakannya pada pihak pengelola kantin. Mungkin saja karena harga bahan baku yang naik, mungkin juga karena pengelola menganggap kafetaria sebagai sebuah restoran mahal, atau bisa jadi menyesuaikan dengan kondisi pasar mahasiswa yang ada. Bagiku, kafet FEB yang letaknya cukup jauh dari selasar adalah bagian “integral” yang tak terpisahkan dari selasar FEB.

    Di tengah lamunanku, tiba-tiba temanku memintaku untuk kembali mengulas mengenai materi pelajaran yang ada terkait dengan pasar modal. Ah, memang suatu mata kuliah dimana aku merasa kurang untuk menguasainya. Namun kembali lagi temanku berkata, dia bercerita, akan rapat pembahasan anggaran tiap tahun yang melibatkan seluruh organisasi di FEB. Pikiranku langsung menyangkutkan dengan rapat menyebalkan itu. Patut diketahui, bahwa tiap tahun seluruh organisasi di kampus mengadakan rapat mengenai alokasi pembagian dana untuk keperluan kegiatan program kerja tiap tiap organisasi di FEB.

    Rapat biasanya dilakukan tiap awal tahun, dan dikoordinasikan oleh BEM FEB yang berperan sebagai “pemimpin organisasi mahasiswa tertinggi” di tingkat fakultas. Dalam rapat itu, biasanya tampak sekali keegoisan para pengurus organisasi, yang selalu meminta tambahan dana dari tahun ke tahun. Sudahlah padahal program kerja sebelumnya tak terealisasi, namun selalu meminta tambahan dana yang terkadang tak realistis dengan dana yang ada. Sumber dana yang ada berasal dari iuran mahasiswa, serta dari fakultas atau universitas. Pembahasan dana ini terkait jatah alokasi dana yang tidak bersumber dari agenda sponsor dalam suatu acara. Seperti yang sudah kuutarakan, di rapat ini tampak sekali banyak keegoisan untuk mendapatkan dana yang lebih banyak dibanding tahun sebelumnya pada tiap organisasi.

    Memang, pada faktanya tak semua organisasi berlaku demikian. Aku teringat cerita menarik pada suatu rapat jenis ini dimana aku masih aktif sebagai anggota organisasi. Ada seorang ketua dari salah satu himpunan mahasiswa jurusan FEB saat itu tengah melakukan presentasi dalam forum untuk meminta kenaikan dana yang dirasa banyak orang tidak realistis. Di samping itu, rekan rekan juga mencela sikapnya yang dianggap kurang sopan saat presentasi, yakni dia duduk di atas meja. Yang lucu lagi, dia meminta tambahan dana untuk banner dan spanduk besar saat ada program acara kunjungan dari universitas lain untuk nama jurusannya tersebut. Padahal, BEM FEB yang notabene merupakan organisasi mahasiswa “tertinggi” di tingkat fakultas tidak pernah melakukan hal demikian. Akibatnya dapat ditebak, bahwa semua usulan sang ketua himpunan mahasiswa jurusan tersebut ditolak secara “kurang hormat” oleh forum yang ada. Itulah segelintir contoh keegoisan, dan kebetulan pula sang ketua sering terlihat menghabiskan waktu di selasar FEB. Yah, kesimpulannya sama seperti kritera anak yang sering “nongkrong” di selasar.

    Lagi lagi aku heran, mengapa para pengurus organisasi-organisasi HMJ itu tidak fokus mengadakan program kerja yang mengarah ke internal jurusan. Yang ada mereka justru fokus membuat acara-acara besar yang tampak bertujuan mengaktualisasi jurusan ke dunia luar. Padahal, banyak mahasiswa dalam satu jurusan saling tidak mengenal satu sama lain. Ini seperti permasalahan di negeri bernama Republik Indonesia, dimana masih banyak rakyat yang miskin namun ingin menarik investasi dari luar negeri. Yang terjadi adalah keadilan menurut pemahaman liberalism, dimana kekayaan dinilai dari kontribusi, tanpa ada kesempatan yang sama.

    Kalau di Himaju-himaju terdapat kesempatan yang sama, maka para pengurus himaju seyogyanya tidak membuat semacam kelompok eksklusif “para pengurus” seperti yang terjadi selama ini. Entah itu jurusan Manajemen, Akuntansi, atau Ilmu Ekonomi. Para pengurus beralasan bahwa dari pihak organisasi Himaju sudah membuat acara-acara untuk mengakomodir agar para mahasiswa dalam satu jurusan “berkumpul”, namun selalu saja target yang ingin dicapai jauh dari kenyataan. Kalau sudah begitu, mengapa mereka masih saja berfokus untuk membuat acara besar, tingkat internasional pula untuk seminarnya. Bahkan tahun 2013 kemarin, salah satu jurusan membuat acara seminar baru, padahal selama ini sudah ada acara seminar besar lain. Entah apa pertimbangannya, mungkin jugalah aku ini yang tidak tahu, karena aku jarang masuk ke dalam lingkungan mereka.

    Namun, pendapatku ini aku merasa cukup mewakili pendapat dari para mahasiswa yang merasa “tersisihkan” dari naungan himaju nya sendiri. Seperti cerita seorang teman dari salah satu jurusan, bahwa beberapa bulan yang lalu para pengurus jurusannya mengadakan acara foto bersama jurusan angkatan. Namun yang hadir hanya sejumlah pengurus organisasi Himaju tersebut. Bukan apa-apa, karena menurut kita hal tersebut adalah simbol “kemuakkan” dari para mahasiswa jurusan itu yang merasa “tersisihkan”.

    Ah, sudahlah. Semua itu waktunya para adik-adik angkatan yang sekarang masih aktif di organisasi. Terlebih para ketua ketua BEM, Himaju, dan lembaga kemahasiswaan lain. Apalagi ketua BEM FEB, karena dia layaknya presiden mahasiswa di tingkat fakultas. Memang keadaan organisasi mahasiswa saat ini seperti penerapan otonomi daerah, dimana mahasiswa tingkat jurusan diberi kewenangan seluas-luasnya untuk menyelenggarakan program kerja. Membandingkan dengan penerapan otonomi daerah di Indonesia, dimana para kepala daerah yang mana masa jabatannya dibatasi oleh waktu, mencoba untuk membangun proyek “mercusuar” untuk dirinya sendiri dan kepengurusannya. Kalau para kepala daerah itu berupa wujud seperti membangun gedung pemerintahan yang megah atau bandara internasional megah, para pengurus organisasi dengan menyelenggarakan acara-acara besar.

    Padahal, bandara-bandara internasional atau gedung pemerintahan megah sering dianggap sebagai pembangunan yang tidak tepat. Tengoklah beberapa bandara megah di Indonesia, yang masih sepi lalu lintas penumpang dengan kemegahannya. Contoh lagi adalah kasus pembangunan bandara internasional baru di wilayah Kertajati, Jawa Barat yang diduga sebagai proyek prestisius sang Gubernur. Padahal, di ibukota provinsi sendiri, sudah terdapat bandara internasional yang masih bisa dikembangkan. Belum lagi di wilayah area Jawa Tengah, terdapat tiga bandara internasional yang jaraknya berdekatan, sehingga masing-masing tak dapat berkembang maksimal. Simbol pembangunan bandara internasional sesungguhnya adalah keinginan para pemerintah daerah untuk membawa serta mengaktualisasikan daerahnya ke dunia luar, bukan mencanangkan program yang mengayomi masyarakat daerahnya.

    Lain halnya dengan para anggota BEM, yang ruangannya bertetangga dengan ruang dimana terdapat sebuah meja pingpong. Disini, lingkungan pergaulan yang ada cukup berbeda dengan mereka yang sering “nongkrong” di selasar kampus. Apabila kafet seperti “integral” dengan selasar, maka ruang pingpong cenderung “integral” dengan kantin FIB, fakultas ilmu budaya, yang terletak di selatan kampus FEB. Terlebih terdapat ruang organisasi pecinta alam fakultas, yang menurutku justru disinilah kekeluargaan yang sering didengung-dengungkan para pengurus organisasi lain benar-benar terasa.

    Tak hanya itu, di lingkungan BEM dan pecinta alam, para rekan-rekan lebih terbuka dengan mahasiswa lain yang bukan anggota organisasi mereka. Tak jarang, banyak mahasiswa yang “terpinggirkan” sering terlihat disini, untuk sekedar mengobrol, bermain kartu, atau bermain ping pong (tenis meja). Aku pun tak jarang sering menggunakan tempat ini sebagai tempat singgah manakala hendak kuliah ataupun tak ada tempat tujuan lain seusai kuliah. Sebuah kantin kejujuran yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan turut mendukung aktivitas mahasiswa disini. Tak dapat dipungkiri, bahwa mahasiswa yang sering terlihat di area ini tak segan segan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di kantin FIB atau yang lebih sering disebut sebagai “Bonbin”.

    Begitu pula dengan para anggota pengurus BEM fakultas, yang menurutku memiliki kebiasaan cukup berbeda dengan mereka yang ada di selasar. Tetapi toh tidak semua seperti itu, namun hanya kecenderungan. Di Bonbin, harga harga yang dijual notabene lebih murah dibanding denga yang dijual di kafetaria fakultas. Atau malah menurutku harga yang sewajarnya, tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Selain dari para mahasiswa FIB, tentu mahasiswa FEB dan Fakultas Psikologi ikut meramaikan kantin yang terletak di sisi selatan Jalan Sosio Humaniora ini.

    Apabila para anggota pengurus BEM cenderung mereka yang berjiwa “aktivis” dan intelektual, para anggota pecinta alam cenderung menekankan pentingnya kekeluargaan. Hal itu aku rasa cukup mewarnai kegiatan para mahasiswa yang sering menghabiskan waktu di area ini. Seringkalipula para rekan-rekan dari selasar mampir sejenak untuk bermain pingpong. Tidak salah menurutku, jika ada wacana dari pihak akademik untuk membuat area ini sebagai “Student Activity Center”. Sebaiknya pula, adalah membuat bagaimana area ini dibuat agar lebih “integral” dengan ruangan selasar. Tidak hanya berwujud secara fisik bangunan ruangan, namun juga kehidupan para mahasiswanya yang sering menghabiskan waktu di kampus.

    Ah, memang dalam kehidupan mahasiswa banyak sekali perbedaan, baik dalam pergaulan maupun masalah yang dihadapi, sampai dengan cinta. Semua itu seharusnya dapat ditekan seminimal mungkin, agar tampak seperti “integral”, terlebih dalam lingkungan satu gedung, satu fakultas pula. Ada mahasiswa yang memilih jalan yang satu sebagai acuan budayanya, ada pula kelompok mahasiswa lain yang memilih cara budaya yang lain pula. Namun apabila perbedaan itu semakin terpudar, dan tak batas untuk berinteraksi antar mahasiswa, maka jaringan pertemanan akan makin banyak. Individualisme pasti akan tetap ada di dalam diri manusia, namun yang ditanyakan tentu usaha untuk meminimalisirnya. Bukankah kebahagiaan akan tercipta lebih mudah saat beroleh kawan lebih banyak? Tentu dengan tidak membuat batas batas yang tajam.

    Sekali lagi, temanku membuyarkan lamunanku untuk mencari bahan materi kembali. Ah, maafkan diriku kawan sudah mengecewakanmu dengan sikap cuekku hari ini. Mungkin karena aku masih mengantuk di siang yang bolong ini. Semoga nilai tugas kelompok kita bagus semester ini. Sudah waktunya untuk fokus belajar menyongsong skripsi, serta mengurangi kegiatan yang kurasa kurang mendesak, yakni bercerita dari sisi pinggir kampus.

    Penulis: Bintang Prasodjo

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.