You are guys! – ‘Young and Brave!’

 

205208417

 

Oleh Syaila Anya Tanaya

[dropcap]K[/dropcap]alau berbicara tentang pemuda atau anak muda, saya memiliki satu quote dari Rasul Paulus yang menjadi rema bagi saya, “Jangan seorangpun men­g­anggap engkau rendah karena engkau muda.”  Dengan kata lain, quote ini ingin mengatakan bahwa usia bukan alasan  untuk menganggap remeh anak muda. Dan kaum muda tidak boleh minder ka­rena usia. Meski masyarakat kita masih beranggapan anak muda itu, anak kema­ren sore, anak yang tidak punya penga­laman—waton kendel[1], keberadaan me­reka (anak muda), telah membawa Indo­nesia yang dijajah lebih dari 3,5 abad mempe­roleh kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Karena anak muda, bahasa Indonesia kini menjadi bahasa Nasional yang menyatukan seluruh rakyat Indone­sia tanpa mengesampingkan kera­gaman bahasa daerah dan budaya dari Sabang sampai Merauke—melalui peris­tiwa Sumpah Pemuda. Karena anak muda, In­donesia bisa me­rasakan lepas dari Orde di­mana kebebasan berpendapat adalah ke­mewahan. Karena anak muda, Indonesia Timur kini dapat mera­sakan cahaya pen­didikan melalui program In­donesia Men­gajar. Karena anak muda, Soekarno, Pre­siden yang terkenal jarang mem­bawa ‘contekan’ saat berpidato, menyem­patkan membuat catatan saat berpidato dipeleta­kan batu pertama di kampus IPB 62 ta­hun silam. Soekarno saat itu sengaja membawakan pidato yang panjang untuk memotivasi dan mendorong pemuda dalam pembangunan Indonesia. Soekarno memang sangat menyadari potensi pemuda sehingga ia menaruh ke­jayaan Indonesia sepenuhnya pada pe­muda pemudi Indonesia. Yang di­sayangkan adalah potensi pemuda (bagi beberapa Negara, termasuk Indonesia) tidak di­a­presiasi, sehingga ide maupun gagasan anak muda dalam forum umum berada di posisi inferior.

Dalam ilmu antropologi, penen­tuan level seniori­tas berdasarkan patre­nalistik (termasuk di dalamnya usia) di­anut oleh negara yang me­miliki tingkat power distance tinggi[2]. Menurut Power Distance Index (PDI); Indonesia memi­liki nilai PDI 78, Amerika Serikat 40, Jerman 35, Denmark 18[3]. Power distance tidak hanya terjadi di lingkungan ke­luarga, namun juga ada di lingkungan kerja dan sekolah. Maka tak heran jika menghormati orang yang lebih tua adalah tata karma yang harus selalu dijunjung tinggi. Budaya se­perti ini tidak salah, namun dalam masyarakat kita, adanya level karena usia berdampaknya bagi ke­pemimpinan dan kreativitas anak muda. Anak muda menjadi kecil mental untuk berpendapat, biasanya karena sungkan dengan se­nior. Kalaupun ada anak muda yang berani ber­pendapat, ia harus siap untuk tidak disukai oleh se­niornya atau oleh teman-temannya. Se­hingga anak muda dengan terobosan so­lutif dan krea­tifnya, harus terbungkam dan mem­biarkan keadaan berlalu begitu saja tanpa ada pe­rubahan progresif.

Mungkin karena khawatir, saya menjadi sentimen terhadap masyarakat ini. Mereka yang telah mem­peroleh gelar pendidikan, mereka yang telah bertahun-tahun memegang jabatan tinggi—dalam pekerjaan tertentu, men­gapa tidak meng­gandeng anak muda dalam karir mereka, malah menganggap remeh keberadaan pemuda. Hingga beberapa waktu lalu, saya mem­baca forum diskusi mengenai anak muda.Forum ini membahas bagaimana anak muda di­anggap oleh ling­kungan, oleh orang yang le­bih tua, bah­kan oleh dirinya sendiri. Dari sekian ba­nyak komentar, ada satu jawa­ban yang menarik yaitu, anak muda itu punya pe­mikiran yang kreatif.Mereka fleksibel dan cenderung percaya diri na­mun minim pengalaman sehingga diang­gap remeh. Akan tetapi, saat anak muda ini berani berpendapat dan bertanggung­jawab atas segala ucapan dan kewajiban­nya, maka ia perlahan menggeser per­sepsi ‘anak kema­rin sore’ menjadi ‘anak proaktif’. Se­hingga, kutukan high power distance perlahan akan luntur bagi pribadi anak muda ter­sebut. Bahkan ia dapat menjadi tulang pungung Indonesia. Padahal salah seorang Saha­bat Nabi, Umar R.A. mengatakan, “Barang siapa ingin menggenggam nasib suatu bangsa, maka genggamlah para pemudanya”

Seperti dilansir detik.com, 2/3 penduduk Indonesia pada ta­hun 2020 memasuki usia produktif. Dengan demi­kian, masa depan Indonesia ada di pun­dak pemuda. Indonesia di­ramalkan akan benar-benar menjadi Ne­gara maju jika dapat melalui mid­dle in­come trap. Sa­lah satu cara lepas dari jeba­kan itu adalah me­ningkatkan kualitas SDM (kualitas pemuda tentunya)[4]. Saya me­ngutip krite­ria yang harus dimiliki pe­muda versi Soekarno: pemuda harus pro­gresif dan dinamis, pemuda ti­dak boleh phobia, pe­muda harus memi­liki mimpi. Ketiga kri­teria ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Progresif dan Dinamis

Pogresif memilik makna, menuju pada kemajuan. Progresif diwujudkan melalui pengembangan bakat dan kemampuan dengan maksimal. Misal seorang pemuda pandai melukis, maka ia tidak boleh hanya berlatih. Tapi pemuda progresif harus ber­la­tih, berlatih, dan berlatih. Kita (pemuda) tidak dapat menunggu sampai Indo­nesia menjadi negara maju untuk m­e­ngembangkan talenta kita. Bergerak sekarang!

  1. Tidak Boleh Phobia.

Phobia disini adalah phobia pada se­buah paham. Saat kita lahir di Indonesia dan mulai tum­buh dengan asuhan pertiwi, mulai saat itu kita yang berbahasa Jawa, Sunda, Ambon, maupun Batak, ada­lah bagian dari Indonesia. Setiap perjuangan kita (pemuda) hanya un­tuk persatuan Indonesia. Maka pe­muda tidak boleh phobia saat ada pemikiran yang berbeda dalam ma­syarakat. Misal di FEB ada maha­siswa yang menganut paham kera­kyatan, ada yang liberal. Jangan ka­rena tidak sepaham lalu kita meng­hindari untuk bekerja sama, ta­kut (phobia) untuk mendekat. Jika ka­rena beda paham saja, kita pe­cah, ba­gai­mana nasib Indonesia ? Pemuda harus terbuka pada berbagai pandan­gan dan gagasan dalam upaya men­cari yang baik bagi Indonesia.

  1. Bermimpi setinggi bintang di langit

Pemuda harus bermimpi tinggi, se­tinggi bintang di langit. Kalau mimpi itu hanya setinggi Gunung Semeru, itu kurang. Tidak peduli hasil akhir­nya, tapi mimpi itu harus setinggi bintang di langit. Pemuda harus per­hatikan itu!

Maka, sekali lagi, usia bukan ala­san untuk minder dan diremehkan. Sia­papun kita, dengan segala talenta dan kemampuan apapun, harus membuktikan bahwa seorang muda adalah seorang pe­mimpin progresif dan agen perubahan yang sedang menuju pada pembuktian (on progress). Kita adalah pemimpin yang menjadi teladan atas tingkah laku kita, atas kecerdasan kita, atas ketaatan beribadah, atas semangat perubahan yang solutif. You are guys— young and brave! Ayo bergerak!

 

Sumber:

  1. Pidato Soekarno, berjudul Pemuda Mesti Dinamis, disampaikan 11 Juli 1960 kepada pemuda, dan pelajar di Surakarta.
  2. Power Distance Index www.investopedia.com Diakses: 13 Juli 2014
  3. Indonesia Alami Bonus Demografi Detik.com Diakses: 18 Juli 2014
  4. Nurkholisoh Ibnu Aman. Poor Infra­structure May Lead Indonesia to Middle-Income Trap. www.thejakartapost.com Diakses 10 Juli 2014

 

[1] Bahasa jawa, artinya ‘yang penting berani’ ungkapan ini digunakan untuk orang yang tidak memiliki skill dan kemampuan yang memadahi namun berani mengambil tanggung jawab yang dibebankan. Istilah “waton kendel’ berkonotasi negatif.

[2]Power distance adalah suatu ting­kat kepercayaan atau peneri­maan dari suatu kekuatan yang tidak seimbang di antara orang (Hofstede).

[3] Sumber: Hofstede’s Research

[4]Sumber: www.thejakarta­post.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *