TRILOGI CERITA DARI PINGGIR KAMPUS

Kepanitiaan itu Terus Berjalan (ditulis pada Bulan November 2013)

Bulan November tahun ini terasa berbeda buatku. Ya, awan mendung dan hujan yang mengguyur seharusnya menjadi hal yang biasa di akhir tahun. Oh, itu karena aku menjadi panitia Gadjah Mada Econolympics. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai GME.

Tahun ini, GME terdengar lebih ribet dari tahun kemarin.A ku merasakan emosi menjadi panitia.Ya, panitia yang bisa dibilang kelas “rendah” di kampus tercinta ini.Kulihat pipi kiriku, terlihat segurat bekas adanya penyakit kulit belum lama ini.Terbayang awal November lalu, saat pelaksanaan acara olahraga ini. Acara olahaga yang mengadakan kompetisi mahasiswa Fakultas Ekonomi tingkat nasional, beserta pelajar SMA tingkat provinsi DIY. Ini adalah acara terbesar di kampus yang pernah kuikuti, sebagai panitia tentunya.

Ah, seperti biasa, selalu ada konflik dalam internal panitia. Namun bila ditarik secara garis besar, konflik yang terjadi antara acara dengan bagian fungsional lain, seperti konsumsi, logistik, perlengkapan, dan lainnya. Memang sekian lama aku dapat memahami keinginan anak acara yang begitu “wah”, toh semua demi kelancaran acara sendiri. Namun mereka seperti melupakan satu hal, bahwa mereka bekerja dengan rekan –rekan kampus yang bekerja atas dasar ingin mencari pengalaman, ingin tenar, dan bahkan diminta tolong secara tertutup (close recruitment). Sesungguhnya suatu hal yang naïf apabila anak dari panitia acara menggenjot bagian divisi yang lain se-profesional mungkin, karena tak ada bayaran untuk penyelenggaraan kegiatan ini. Dengan segala respek untuk seluruh panitia, ada kalanya semacam memberi respek berkelanjutan untuk seluruh panitia.

Terkadang aku berpikir mengapa tak ada yang namanya semacam “dangdutan” untuk acara ini sebagai penutupannya. Ah, tapi sudahlah, bukan hal yang baru di kampus tercinta ini. Fisik pun benar-benar terperas, karena setiap hari acara berjalan dari pagi sampai malam hari. Panitia pun harus pintar membagi waktu antara kuliah, GME, keluarga, dan urusan-urusan yang lain. Tetapi toh panitia bidang perlengkapan banyak mengahabiskan waktu dengan bermain kartu di ruangan, dan hal itu cukup untuk mengurangi penat.

Koordinatorku adalah orang keturunan tionghoa, yang mempu bekerja baik. Aku sungguh kasihan tatkala melihatnya bekerja di GME. Seolah begitu banyak beban yang ia pikul, mulai dari mengkoordinir para staf untuk bekerja, menyiapkan peralatan, dsb. Kami paling kecewa saat sudah menyediakan barang yang diminta sesuai spesifikasi anak acara, namun hal itu tidak jadi terlaksana, seperti penyediaan obor setinggi 6 meter yang batal. Toh bukan salah anak acara, hanya kurang koordinasi dengan pihak pengelola GOR Amongrogo, tempat penyelenggaraan GME.

Namun secara keseluruhan, aku senang “sempat” menjadi panitia GME 2013, dan menimbulkan kesan yang mendalam.Kesenangan itu begitu terasa di akhir acara.Hanya saja kusesali ketidakhadiranku secara penuh di akhir acara karena kondisi penyakit kulit yang kualami. Aku berterima kasih kepada koordinatorku yang keturunan Tionghoa, karena telah merekrutku secara tertutup menjadi panitia. Oh, ini adalah acara terbesar yang kuikuti menjadi panitia untuk terakhir kalinya, karena semester depan aku sudah merencanakan untuk “pensiun” dari segala acara-acara organisasi kampus. Bagaimanapun juga, GME ini sangat memberikan kesan yang mendalam di hati.

Entah mengapa ingatanku semakin melayang jauh.Beberapa bulan yang lalu, aku juga menjadi panitia di acara Student Week. Ya, acara yang ditujukan untuk semacam “penyambutan” bagi mahasiswa baru angkatan 2013. Aku ditunjuk oleh seorang teman, atau lebih tepatnya diminta tolong menjadi koordinator perihal perlengkapan yang ada. Aku beruntung, ini bukanlah acara yang begitu “besar”, sehingga semua berjalan cukup lancar, dan hampir tidak ada konflik di internal panitia. Tujuan acara pun tercapai, bahkan aku dengar orang dari akademik berkata bahwa acara Student Week tahun ini adalah contoh, bukan merupakan evaluasi. Hal ini membekas di hati segenap panitia.

Student Week 2013 ini menghadirkan bintang stand up comedy, yakni G. Pamungkas sebagai puncak acara murni. Ya, banyak panitia mencuri kesempatan berfoto dengannya. Sayang aku tidak dapat kesempatan ini. Oh, sebagian dari panitia stafku adalah wajah-wajah lama di bidang perlengkapan. Begitu pula yang adik-adik angkatan 2012, yang aku kira sudah cukup berpengalaman dalam bekerja. Setelah GME, Student Week 2013 adalah acara yang menimbulkan kesan mendalam buatku. Secara positif tentunya.Perencanaan Student Week 2013 juga tak seberat acara lain menurut pandanganku. Dari sinilah, aku mulai makin akrab dengan beberapa adik-adik angkatan 2013.

Memori otakku makin terbawa lagi setahun lalu. Kuingat saat pertama kali menjadi koordinatoor bagian perlengkapan di acara, sebuah acara, yang menurutku terberat di kampus tercinta ini. Ekonomi Bebas Korupsi 2012, begitulah tajuk acara yang kujalani sekitar satu tahun yang lalu. Apalah yang membuat Ekonomi Bebas Korupsi, atau yang biasa disebut EBK ini begitu berat? Fisik? Ah, masih ada yang lebih berat fisik seperti acara ospek Fakultas atau GME. Lama pelaksanaan? Masih lebih lama GME (secara keseluruhan) yang berjalan hampir nonstop 13 hari.

EBK memang pelaksanaan dua minggu, namun masih ada jeda waktu untuk istirahat walau sejenak. Yang paling memberatkan dari acara EBK adalah sistem yang ada pada kepanitiannya. Dalam kepanitiaan EBK, semua anggota pengurus BEM wajib terdaftar di dalam kepanitian, dan ditambah panitia hasil open recruitment.Toh itu semua satu angkatan.Ya, angkatan 2011 menyelenggarakan EBK pada tahun 2012. Sistem ini sama sekali tidak baik menurutku. Sejak SMA, aku belajar bahwa dalam acara besar, diperlukan senioritas mutlak dalam kepanitiaan. Utamanya dari ketua ke koordinator, begitu pula dari koordinator ke staff. Namun berbeda dalam EBK, semua dipukul rata dalam satu angkatan, sehingga hampir tidak tercipta senioritas. Apa lacur, yang terjadi adalah kekacauan dan emosi yang menyala dalam kepanitiaan. Dalam hal ini, bawahan seringkali merasa diperlakukan selayaknya “babu” oleh teman satu angkatannya.

Memang, dari luar, acara EBK 2011 nampak sukses, karena berhasil menghadirkan ketua DPR saat itu, Bapak Marzuki Alie, untuk ikut dalam pembicara di seminar. Namun, hasil yang ada adalah perpecahan teman di angkatan.Ya, angkatanku. Aku merasa semua “berubah” semenjak EBK. Dalam hati, aku masih berpikir penyesalan mengapa aku menjadi panitia EBK. Hampir tak ada kebanggaan sama sekali mengikuti EBK. Bukan salah ketua, bukan salah SC, bukan salah bawahan, tetapi secara keseluruhan, semua tertuju pada kesalahan sistem yang ada!

Saya memahami beberapa pikiran yang mengatakan bahwa EBK ini adalah semacam “ajang” untuk mencari bakal calon ketua BEM yang baru, serta dapat meihat kinerja orang secara “sesungguhnya”. Yang dimaksud orang itu sendiri adalah panitia yang mengikuti EBK. Namun, apakah harus seperti ini? Toh sistem yang ada membuat output perpecahan di antara pertemanan jangka panjang itu sendiri. Diriku pun mengalami ini. Bukan pula diriku, orang lain pun yang juga panitia mengalami hal ini.

Aku masih ingat bagaimana anak-anak pengonsep acara yang terhormat menganggap bahwa orang-orang bagian fungsional adalah professional yang dibayar secara materi. Mereka terkadang lupa bahwa kami ini juga teman-teman mereka. Banyak masalah yang tak dapat dihitung jari bila berbicara tentang EBK 2011, mulai dari kesulitan dana, ketidakpahaman anak bagian acara terhadap kapasitas yang ada, sampai perpecahan teman. Semua menjadi satu. Ah, tetapi sudahlah, cukup sekali itu aku mengikuti EBK. Bahkan kalau boleh memilih, aku lebih memilih mengikuti ospek dibanding menjadi panitia EBK. Aku selalu mengingatkan kepada adik-adik angkatan, jikalau bisa, rubahlah sistem yang ada di kepanitiaan untuk EBK yang lebih baik.Toh acara EBK juga memiliki tujuan yang baik pula, hanya bermasalah di sistem kepanitiaan dan pelaksanaannya.

Ah, namun secara fisik, EBK 2012 masih kalah berat dibandingkan dengan Simfoni. Ya, di kampus tercinta, ospek tingkat fakultas kami biasa disebut sebagai Simfoni.Aku teringat di kala menjadi panitia Simfoni tahun 2012.Ya, di bidang perlengkapan. Simfoni benar-benar menyita tenaga kami hingga hampir habis. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, semua demi acara ospek mahasiswa baru angkatan 2012.Saat itu, aku baru saja “naik kelas” menjadi kakak angkatan.Tahun kedua menjadi mahasiswa di kampus. Aku menjadi panitia melalui jalur close recruitment. Koordinatorku adalah kakak kelas angkatan 2010 yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Kuakui, simfoni benar-benar acara yang berat. Kami harus mengikuti rapat sejak bulan puasa, mengangkut kursi, di bulan puasa pula.Selain itu, acara simfoni “mengharuskan” kami menginap di kampus untuk menjaga perlatan-peralatan besar. Kebetulan, aku mendapat jatah selama dua malam untuk tidur di kampus. Di samping itu, aturan di Simfoni adalah aturan paling kaku yang pernah kutemui di kampus. Asumsi dari para ketua adalah “ketidakpercayaan”, dan diperlakukan sangsi bagi tiap pelanggar, mulai dari meminta maaf hingga denda. Sudahlah kerja berat, masih dibebani dengan aturan-aturan yang kaku pula.Tetapi tak mengapa, pasti pembuat aturan memiliki maksud itikad baik untuk kedepannya.

Tergambar dengan jelas dalam ingatan bagaimana para mahasiswa baru angkatan 2012 menjadi peserta ospek, berlari-lari dari pagi hari untuk mengikuti rangkaian acara. Beberapa konflik sempat muncul, namun sekali lagi, tak seperti EBK. Toh bagian perlengkapan tak seberat para panitia yang menjadi pemandu mahasiswa baru. Menurutku, justru merekalah bagian panitia yang terberat dalam simfoni. Struktur kepanitiaan Simfoni dibentuk layaknya perusahaan, seperti ada SC yang bertindak seperti pemegang saham, ada Mahkamah plus DP yang bertindak seperti komisaris, dan ada ketua yang bertindak seperti dewan direksi beserta para stafnya. Namun sayang, penentuan acara di simfoni menurutku “kurang” tercapai tujuannya.Kurang ada “gong” sebagai akhir dari acara.

Simfoni tahun sebelumnya penutupan dilakukan malam hari dengan pembacaan para ketua menggunakan obor. Semua nilai-nilai simfoni pun seperti tertanam di sanubari para peserta. Itu cerita tahun sebelumnya. Di Simfoni 2012, penutupan dilakukan sore hari, dimana kurang mendapat esensi untuk para peserta. Ini semua karena adanya pemberlakuan kewajiban bagi para mahasiswa 2012 untuk mengikuti ospek universitas. Acara pun disusun selesai sebelum maghrib, dikarenakan saat itu hari minggu, dan senin sudah dimulai pula aktivitas perkuliahan. Bagi kami, para panitia di bidang perlengkapan, itu semua seperti “berlalu” begitu saja.Tetapi tak mengapa, itu semua terbayar dengan kesejahteraan konsumsi.

Enaknya menjadi panitia yang mendapat dana dari fakultas, bahwa kesejahteraan panitia lebih “terjamin” dibanding menjadi panitia yang benar-benar mencari dana sendiri, seperti GME dan EBK. Setidaknya, berkarya di bagian perlengkapan di Simfoni tak seberat divisi pemandu, yang menurut penulis cukup menyita fisik dan mental. Aku melihat bahwa pemandu seperti mengulang menjadi peserta ospek Simfoni, dimana mereka benar-benar harus mendampingi kelompok Maba secara berpasangan. Tetapi apapun itu, Simfoni salah satu acara yang benar-benar diperlukan, untuk mengenalkan kepada para Maba akan apa itu FEB, Fakultas Event dan Bisnis.

Mengingat-ingat soal kesejahteraan panitia, aku pun teringat bahwa beberapa bulan sebelum Simfoni 2012, aku menjadi panitia Economics Jazz di pertengahan tahun. Acara Economics Jazz sesungguhnya merupakan acara rutin seorang dosen di kampus. Entah kepentingan apa yang ia punya untuk menyelenggarakan acara ini.

Untuk Economics Jazz kali ini, atau biasa disebut E-Jazz, aku menjadi panitia dibidang keamanan. Para pejabat acara bolehlah mengganti namanya menjadi supporting area, namun menurutku tetap bekerja di bidang keamanan. Acara kali ini menghadirkan Kahitna dan Trisum, termasuk pula gitaris terkenal Dewa Budjana di dalamnya.Statusku masih sebagai mahasiswa tingkat pertama, aku direkrut sebagai panitia, walaupun aku melalu jalur open recruitment. Di acara yang satu ini, kesejahteraan panitia benar-benar terjamin. Bayangkan saja, kami mendapat konsumsi dari salah satu resto Jepang dengan merk terkenal. Banyak yang ingin bergabung dan merasakan menjadi panitia acara ini, namun toh apa lacur, semua seperti telah “diatur” siapa saja yang menjadi panitia.

Selain itu, kerjaan panitia juga tak seberat apa yang dibayangkan. Konsep sudah seolah “terima jadi”, panitia lah yang melaksanakan. Soal perijinan, semua sudah diurus oleh sang dosen. Masalah untung rugi belakangan, yang terpenting adalah terselenggarakannya acara. Bahkan tak sedikit pula panitia yang mencuri-curi kesempatan berfoto bersama sang artis. Sayangnya, saat itu aku mendapat penempatan tugas di pintu masuk, untuk membantu pengaturan parkir. Namun cukuplah buatku dapat mencuri pandang terhadap Dewa Budjana saat turun dari bus yang ia tumpangi.

Oh, sebelum pelaksanaan E-Jazz, kami dari divisi Supporting Area mendapat tugas booming poster di penjuru kota Yogyakarta. Hal ini mengingatkanku pada jaman SMA, dimana aku juga melakukan hal yang sama, saat malam hari. Hal yang berbeda adalah ada semacam “upah” untuk booming poster ini.Ini adalah kepanitiaan di kampus yang menurutku, panitia “hanya” sekedar symbol panitia saja. Pekerjaan lumayan “santai” untuk ukuran panitia, di samping kesejahteraan yang terjamin.Saat itu, aku merasa bangga, karena sebagai mahasiswa tingkat pertama, aku menjadi panitia dari salah satu acara paling terkenal di luar kampus. Yah, walaupun di hati kecil terkadang merasa kurang “ngeh” karena semua yang ada di luar bayangan semula. Aku simpulkan bahwa E-Jazz sebenarnya adalah acara kepanitiaan “senang-senang”, tak terlalu memeras otak dan tenaga.

Ah, ditarik ke masa yang lebih lampau lagi, tak jauh sebelum acara E-Jazz Trisum & Kahitna, aku masih ingat dengan pelaksanaan proyek angkatan warisan zaman Simfoni 2011, saat aku masih menjadi peserta, yakni Saham Sembari. Kata ini adalah akronim dari Satu Hati Membangun Semangat Berdikari. Sesungguhnya, ini adalah acara yang beratnya mendekati dengan Ekonomi Bebas Korupsi. Apalagi kalau bukan karena struktur kepanitiaan yang satu angkatan. Namun karena daftar rangkaian acaranya juga sedikit, menurutku masih kalah berat dibandingkan dengan Ekonomi Bebas Korupsi. Aku masih ingat, bahwa di kepanitiaan Saham Sembari ini adalah satu kejadian kondisi dimana aku tidak menjadi panitia di bagian perlengkapan.  Aku menjadi koordinator di bagian Humas.Hal ini mengingatkanku pada zaman SMA dulu, dimana aku sering ditunjuk menjadi bagian Humas.

Saham Sembari sendiri sesungguhnya adalah penjabaran dari sosial project, yang merupakan tugas angkatan masa ospek. Ah, tetapi pelaksanaanya terhitung mundur jauh, pada saat angkatanku sudah berada pada semester dua. Aku masih ingat betapa kami para panitia selalu bingung dengan ketidakjelasan acara ini. Entah salah siapa, rasanya kurang etis hanya menyalahkan satu pihak, namun seyogyanya siapapun yang bersalah, ketua yang harus bertanggung jawab. Acara ini menurutku banyak terlupakan diantara para angkatan 2011 yang saat ini sudah “bersinar” di kampus. Namun disadari atau tidak, justru banyak orang besar kampus angkatan 2011 yang “dilahirkan” dari kepanitiaan ini.

Taruhlah contoh salah seorang ketua BEM dan beberapa kepala departemen BEM periode 2013 ini.Tak bisa dibayangkan, bahwa pembentukan panitia sekitar sebulan setelah ospek, namun acara terealisasi beberapa bulan lama sesudahnya. Yang memberatkan adalah mundurnya jadwal acara secara terus menerus.Beberapa panitia bahkan ada yang mengundurkan diri, dan diminta mengundurkan diri. Sebagian besar mengeluhkan kekesalannya. Pengonsep acara pada awalnya berpikir mengenai pelatihan anak jalanan untuk berjualan telor asin. Namun tentu tak semudah itu. Setelah berdebat sekian lama, konsep acara pun akhirnya berganti pada pelatihan anak-anak panti asuhan untuk membuat kerajinan eceng gondok. Ah, sayang, semua itu rasanya hanya berhenti dalam sekejap. Namun tak sedikit pula hal-hal yang menyenangkan tercipta.

Di kepanitiaan ini, aku mulai mengenal seorang lelaki, yang menurutku dalam beberapa waktu lama, entah kapan, dia akan mengubah kondisi negara ini. Sekarang ini dia sedang berada di luar negeri menyelesaikan studinya, mengingat dia mahasiswa jurusan manajemen internasional. Aku terkenang saat dengannya harus ke panti asuhan yang terletak mendekati kaki gunung Merapi berkali-kali, bahkan untuk yang terakhir kalinya saat malam hari, di saat panitia lain sudah mungkin terlelap dalam tidurnya. Hanya kami berdua saling mengumpat pada panitia lain karena kesalahan koordinasi. Ah, tetapi orang ini juga sosok yang banyak membantuku saat Ekonomi Bebas Korupsi 2012. Maka dari itu, menurutku bukanlah hal yang muluk kalau aku mengatakan bahwa sesungguhnya dia calon orang sukses sejati.

Banyak pula cerita yang menggelakkan, seperti seorang teman yang ikut mengais-ngais sampah dan berlaku seperti layaknya seorang gelandangan dengan wujudnya yang tak terawat.  Dia juga sempat menjadi “kondektur” bus saat mengantarkan dan menjemput anak panti asuhan di daerah kaki gunung merapi. Ada pula sahabat dari koor acara ini, ikut pusing memikirkan acara. Tak terasa waktu berlalu, sang koor acara telah menjadi ketua salah satu HMJ di FEB, dan sempat menjadi ketua ospek tahun 2013 ini. Entah mengapa, Saham Sembari seakan lenyap di hati para panitianya dulu.Entah tertelan oleh acara-acara lain yang lebih besar, atau karena banyak kekecewaan diantara panitianya, yang jelas menurutku, Saham Sembari memberikan sejuta lukisan, karena dari sinilah awal perjalanan selama dua tahun menjalani banyak kepanitiaan di kampus tercinta ini.

Ah, pusing memikirkan acara Saham Sembari ini memang. Beginilah jadinya konsekuensi mengikuti acara yang tak ada jaminan dana beserta dukungan pihak kuat, serta benar-benar proyek bermotif sosial. Sungguh beda dengan acara konser Akira Jimbo mendekati akhir tahun 2011. Sungguh pun ini juga proyek dosen yang sama dengan yang kumaksud pada acara E-Jazz. Aku mengenang konser ini sebagai ajang pertama kalinya aku mengikuti kepanitiaan event musik di kampus. Akira Jimbo merupakan drummer legendaris, dimana banyak orang, utamanya yang merupakan pecinta musik, akan tertarik untuk melihat pentasnya di gedung MM UGM. Namun sayang, aku menyayangkan mengapa acara ini terkesan seperti acara “pribadi” sang dosen. Hal ini tercermin dari sebagian besar tamu yang datang merupakan tamu undangan, dan tiket yang dijual ke umum tak lebih dari setengah kapasitas gedung untuk melihat.Apa lacur, banyak protes berdatangan. Namun saat itu, sudah tugas kami panitia, utamanya para Supporting Area untuk ikut mengondisikan keamanan acara.Saat itu, aku adalah panitia Supporting Area.

Tergambar jelas dalam ingatan bagaimana para calon penonton memohon masuk untuk melihat sang idola, namun aturan dan kondisi tak berpihak kepada mereka. Dalam hati, aku menaruh empati kepada mereka, karena kenapa mereka yang justru benar-benar memahami serta mengerti akan idola mereka dilarang untuk masuk melihat kedalam dengan keberanian mereka membayar mahal, sementara para undangan yang notabene tidak mengerti akan Akira Jimbo saja diperbolehkan masuk. Jikalau ini merupakan acara pribadi dan tertutup, mengapa harus ada publikasi dengan memasang baliho besar di beberapa sudut jalan? Sungguh tak mengerti. Tetapi sudahlah, itu semua sudah berlalu. Setidaknya kerisauan panitia terbayar dengan konsumsi berupa makanan dari salah satu resto cepat saji Jepang yang terkenal.

Beberapa waktu sebelum pelaksanaan Akira Jimbo, sebenarnya aku sudah pernah mengikuti kepanitiaan lain di kampus ini. Namanya adalah Econolympics. Boleh dibilang, ini adalah kepanitianku pertama kali di kampus tercinta ini.Ya, Econolympics 2011. Generasi sekarang, atau mahasiswa FEB dibawah angkatan 2011, mungkin sudah tidak lagi mengenal Econolympics. Wajar saja, mengingat sejak tahun 2012 nama Econolympics diganti namanya menjadi E-Bolympiads. Acara ini sesungguhnya serupa dengan class-meeting di masa SMP atau SMA, yakni pertandingan cabang-cabang olahraga satu fakultas dan antar jurusan.Awal mengapa aku menjadi panitia bidang perlengkapan di kepanitiaan ini adalah karena relasi dengan seorang kakak tingkat yang juga seorang expert di bidang perlengkapan.

Sungguh hal yang membuat heran orang, saat aku keluar dari suatu kuliah sore hari tiba-tiba dia menemuiku di depan pintu ruang kuliah. Dia mengatakan secara langsung untuk memintaku ikut kepanitiaan Econolympics.Sungguh tak diyana, saat ini memiliki bisnis yang berkutat dengan makanan Jepang, harga yang murah, angkringan pula! Kembali ke cerita.Sebagai seorang dengan status Maba saat itu, dengan semangat partisipasi yang tinggi, aku pun langsung mengiyakan tawarannya, beserta dengan temanku yang berasal dari daerah Kulon Progo.Tugas kami saat itu aku rasa tidak lah terlalu sulit, yakni menyiapkan alat-alat untuk beberapa pertandingan olahraga.Yakni mulai dari futsal, basket, badminton, hingga softball.Dari sini, aku mulai menjalin relasi dengan berbagai kakak-kakak tingkat.Dari Econolympics ini, aku memperoleh co card panitia pertama kali sejak menginjakkan kaki di kampus ini.Bagaimanapun, semua menjadi awal pembelajaran disamping Saham Sembari yang sudah kusebutkan.

Kalau dipikir-pikir, semua yang telah kusebutkan di atas belumlah mencakup semua kepanitiaan lain di kampus FEB yang pernah kuikuti. Masih banyak lagi yang sudah pernah dimana aku menjadi panitia di dalamnya, seperti Seminar Toyota oleh BEM FEB UGM, Baksos BEM FEB UGM, hingga acara yang tergolong kecil-kecilan seperti Leadership Training dan Farewell BEM FEB UGM.Acara acara yang disebutkan di atas adalah acara besar tingkat fakultas, bukan tingkat jurusan. Itulah yang selalu didengungkan para angkatan pendahuluku, bagaimana FEB UGM harus memiliki prestise kebanggaan akan banyaknya acara. Kalau dikatakan, di FEB UGM sendiri, acara-acara yang disebutkan di atas baru sekitar mendekati setengah dari total acara yang diselenggarakan mahasiswa fakultas itu. Ini belum termasuk acara-acara besar tingkat jurusan, tingkat organisasi, hingga acara kecil-kecilan.

Disini, penulis hanya sempat mengikuti kepanitiaan yang mencakup semua yang disebutkan di atas. Banyak teman penulis yang jauh mengikuti agenda kepanitiaan lebih banyak, utamanya mereka yang menjadikan kota Jogja ini kota perantauan, sehingga menjadikan kepanitiaan ini sebagai ajang untuk mencari teman sebanyak-banyaknya. Begitulah kondisi kampus FEB. Bagi banyak anak, daftar kepanitiaan acara seperti “tak kunjung” selesai, utamanya mereka yang tergabung dalam organisasi, baik himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), organisasi organisasi dengan minat tertentu seperti mapala fakultas, jurnalistik fakultas, organisasi keagamaan, hingga Badan Eksekutif Mahasiswa yang disebut sebagai BEM FEB UGM. Kebetulan, penulis adalah salah seorang anggota pengurus BEM FEB UGM.

Status sebagai anggota pengurus BEM FEB UGM membuat penulis juga tak terlepas dari tawaran berkarya di banyak kepanitiaan. Namun sebagai mahasiswa yang masih “waras” dan bukan anak perantauan dalam kehidupan mahasiswa, membuat penulis harus memilah-milah akan kepanitiaan yang ada. Toh kuliah adalah hal yang nomer satu, bukan sebaliknya.Namun paham doktrin yang melanda teman-teman kampus selama ini adalah bahwa jangan sampai jadwal kuliah mengganggu jadwal acara. Apalagi kalau pada waktu semester ganjil, dimana banyak proses perealisasian acara. Sedangkan pada semester genap, yang terjadi adalah kesibukan akan perencanaan penyelenggaraan acara. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dari luar, FEB UGM ini dipandang “terlalu” banyak mengadakan acara?Bahkan kabar cerita selentingan yang sampai menjuluki FEB sebagai Fakultas Events & Bisnis.Ini pun diamini oleh banyak orang kampus sendiri. Tentu banyaknya acara tak terlepas dari brand nama FEB yang dalam hal ini membuatnya mudah untuk mencari sumber-sumber pendanaan, atau dengan kata lain kerjasama sponsor. Kerjasama sponsor itu pun tak terlepas dari kepentingan banyak perusahaan.Selain itu, banyak organisasi yang mengadakan acara ingin mengembangkan sayap dengan menyelenggarakan acara-acara yang besar.

Kembali kepada diriku yang sedang menikmati suasana November Rain dengan kopi khusus. Mungkin hal tadi akan aku bahas lebih lanjut di lain waktu. Aku ingin aku hanya mengingat bahwa aku selama 2 tahun berkuliah (dan berkarya) hanya mengikuti tiga macam pendaftaran open recruitment kepanitiaan.Yang pertama adalah untuk kepanitiaan sospro Saham Sembari, kedua adalah untuk masuk bergabung ke dalam organisasi BEM FEB UGM, dan yang ketiga adalah untuk sebagai staf Supporting Area dalam E-JAZZ yang mengundang Trisum+Kahitna.Memang, di kampus dikenal sistem close recruitment (dimana perekrutan panitia acara dilakukan secara tertutup) dan open recruitment (dimana perekrutan panitia dibuka secara umum, sehingga semua golongan mahasiswa berhak untuk mendaftar menjadi panitia.Entah harus kusombongkan atau justru malu, karena kebanyakan aku berkarya di bagian perlengkapan, dimana hampir seluruhnya merupakan close recruitment. Ah, mungkin juga nasibku membuat iri beberapa orang, dimana banyak orang yang berkali-kali mendaftar open recruitment, namun bahkan belum pernah menjadi panitia dalam acara besar kampus. Entah ada faktor subyektivitas atau tidak, toh itu semua sudah berlalu bagai angin.

Masa-masa kepanitiaan acara di kampus sudah berakhir tahun ini buatku. Aku sudah berencana untuk mengikuti kepanitiaan dimana panitia tidak membayar namun justru dibayar saat berkarya.

 

Penulis: Bintang Prasodjo

trilogi cerita dari pinggir kampus (bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *