Tergelincir Minyak: Kisah Emas Hitam di Awal Kabisat

Penulis : Maulana Razaq (Staf Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM 2016)

Awal tahun 2016 menjadi catatan gelap di berbagai industri bisnis di Indonesia. Catatan gelap ini didominasi oleh berita buruk mengenai phk besar-besaran yang dialami oleh berbagai bidang industri, salah satunya adalah industri minyak dan gas alam. Berbagai industri perusahaan mengalami berbagai krisis internal yang membuat mereka harus mem-PHK beberapa tenaga kerjanya. Berbeda dengan perusahaan lain, seperti industri elektronik dan otomotif yang sedang mengalami krisis karena persaingan pasar, industri minyak dan gas alam menjadi pihak yang paling mengalami mimpi buruk di awal tahun ini. Hal utama pemicu krisis perusahaan industri ini adalah turunnya harga minyak mentah dunia yang berada di luar perkiraan mereka.

Harga minyak mentah per-Februari 2016 menyentuh angka terendah semenjak 12 tahun terakhir. Dimulai dari tahun 1998 dengan harga USD17,26 per barel, harga minyak dunia terus naik dari tahun ke tahun hingga naik mencapai USD37,55 dan pada tahun 2000 turun menjadi 30,69 per barel di 2001. Harga minyak mentah mencapai titik tertingginya yaitu USD 100,01 per barel pada tahun 2008. Perunun drastis harga minyak mentah terjadi lagi saat krisis tahun 2009 yang membuat harga minyak turun menjadi USD58 per barel. Berbagai kenaikan dan penurunan terjadi dalam beberapa tahun terakhir dengan rata-rata harga minyak mentah dunia sebesar sebesar USD89,08 per barel.

Seperti yang sama-sama kita ketahui, harga minyak mentah benar-benar mencapai titik terendahnya pada saat ini. Harga acuan minyak mentah Amerika Serikat WTI (West Texas Intermediate) turun menjadi USD27,20 per barel dan harga minyak jenis Brent sebesar USD31,01 per barel (dilansir dari laman CNBC 11/02/2016).

Gambar 1

6Sumber: hargaminyak.net

Keterangan: WTI Crude dan Brent Crude adalah jenis minyak mentah yang sering dipakai sebagai landasan penetapan harga minyak dunia

Penyebab Turunnya Harga Minyak

Banyak spekulasi dan rumor mengiringi penyebab terjadinya penurunan harga minyak dunia. Mari kita mulai dari beberapa pihak yang bermain sebagai penghasil dan pengekspor minyak. Amerika Serikat dalam lima tahun terakhir terus meningkatkan produksi minyak mentahnya. Hal ini dikarenakan sumber minyak shale (minyak hasil ekstraksi dari minyak fosil yang terserap batuan bumi) sangat banyak ditemukan di tanah suku indian tersebut. Di belahan negeri lain, sanksi ekonomi Iran terkait pengembangan teknologi nuklir yang telah dicabut pada pertengahan Januari lalu membuat produksi minyak mentah negara-negara OPEC semakin meningkat. Peningkatan tersebut ditaksir mencapai 500 ribu barel per hari. Dalam publikasi OPEC Januari 2016 lalu, proyeksi pasokan non-OPEC pada 2015 meningkat 0,23 juta barel per hari dibandingkan publikasi OPEC pada Desember 2015. Beberapa pekan terakhir OPEC juga belum menunjukkan tanda-tanda untuk mengurangi produksi.

Di sisi permintaan, perekonomian dunia juga sedang mengalami perlambatan. Hal ini, salah satunya, dipicu oleh transisi perkenomian Tiongkok dan jatuhnya pasar saham negara tersebut ke level terendah sejak Desember 2014 (viva, 2016). Tiongkok sebagai konsumen/importir minyak terbesar di dunia memicu turunnya permintaan minyak mentah dunia. Semua hal tersebut menyebabkan kuantitas minyak mentah dunia semakin bertambah dan mengalami oversupply sehingga harga minyak semakin menurun.

Dampak turunnya Harga Minyak Mentah

Turunnya harga minyak dunia sangat berdampak besar kepada industri sektor minyak dan gas. Turunnya harga minyak yang menjadi komoditi utamanya di pasaran menimbulkan kerugian yang sangat pelik. Hal ini dikarenakan biaya produksi perusahaan lebih besar daripada harga jual minyak saat ini. Menurut Kepala Bagian Humas SKK Migas, Elan Biantoro, biaya produksi minyak berkisar USD10 hingga USD60 per barel dengan rata-rata biaya produksi USD30 per barel.

Penurunan harga minyak dunia ini menyebabkan beberapa perusahaan migas melakukan berbagai penyusutan, efisiensi produksi hingga PHK. Efisiensi perusahaan meliputi perampingan berbagai biaya operasional perusahan hingga penutupan blok eksplorasi dan produksi Migas. Dari 232 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) eksplorasi, sekitar 60 KKKS kontraknya akan diterminasi (Elan, 2016). Menurut KSPI, tercatat 200 orang tenaga kerja telah mengalami phk di sektor industri migas dan sekitar 5000 tenaga kerja lagi terancam di PHK.

Penurunan harga minyak juga menyebabkan pelemahan kinerja ekspor migas dan pendapatan negara. Penurunan ini menyebabkan target pendapatan negara dari sektor hulu migas tidak dapat tercapai. Hal ini juga menyebabkan investasi di sektor hulu migas di Indonesia dan di seluruh dunia menurun. Penerimaan pemerintah dalam bentuk PPh migas dan Penerimaan Negara Bukan Pajak migas juga menurun. Selama ini penerimaan sektor migas dan sumber daya alam menopang 20%-25% terhadap total penerimaan negara (Lisnawati, 2016).

Tidak semua industri/perusahaan mengalami kerugian di saat turunnya harga minyak mentah ini. Di sisi lain, PT Garuda Indonesia diuntungkan oleh turunnya harga minyak(dalam hal ini avtur). Di tahun ini, PT Garuda Indonesia akan menambah 23 pesawat, 8 pesawat akan dipakai oleh penerbangan Citilink (Arif, 2016). Selain itu, menurunnya harga minyak juga akan menekan angka inflasi, sehingga ruang kendali pemerintah dalam kebijakan fiskal semakin lebar. Hal ini dapat berlaku dengan asumsi pemerintah konsisten terhadap harga minyak yang turun akan menurunkan harga BBM (Juda, 2016).

Keluar dari Keterpurukan Minyak

Berbagai hal telah banyak dilakukan oleh para pihak di pasar minyak dan gas alam untuk berusaha keluar dari dampak negatif dari turunnya harga minyak ini. Seperti yang telah dilansir sebelumnya, perusahaan-perusahaan telah melakukan berbagai kebijakan dari efisiensi hingga PHK tenaga kerja. Namun, apakah kebijakan-kebijakan tersebut sudah tepat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

Peran langsung pemerintah dan berbagai pihak yang terkait di dalamnya sangat dibutuhkan dalam penyelesaian masalah ini. Hal ini dikarenakan permasalahan turunnya harga minyak ini akan berdampak langsung pada perekonomian negara dan nasib tenaga kerja Indonesia yang sudah dan terancam di PHK. Penyelesaian yang dilakukan oleh pemerintah harus mengedepankan kepentingan pihak-pihak kecil yang sangat mengalami kerugian dan harus meminimalisir efek terburuk yang akan terjadi kedepannya. Selain itu, penurunan harga minyak ini harus dapat dimanfaatkan agar dapat memacu produktivitas sektor industri lain.

Sumber

Vazza, A. P. (2016). Emas Hitam dan Kekhawatiran Global. Diakses pada 12 Februari 2016 pukul 20.10, dari http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/16/02/04/o20jke7-emas-hitam-dan-kekhawatiran-global

Wahyuni, N. D. (2016). Begini Potret Muram Industri Migas Saat Ini. Diakses pada 12 Februari 2016 pukul 20.28, dari http://bisnis.liputan6.com/read/2432800/begini-potret-muram-industri-migas-saat-ini

Sugianto, D. (2015). Harga Minyak Mentah Dunia dari Masa ke Masa. Diakses pada 12 Februari 2016 pukul 20.50, dari http://economy.okezone.com/read/2015/01/01/19/1086720/harga-minyak-mentah-dunia-dari-masa-ke-masa

Wahyuni, N. D. (2016). Harga Anjlok, Perusahaan Minyak Mulai Berguguran. Diakses pada 13 Februari 2016 pukul 23.30, dari http://liputan6.com/bisnis/read/2434935/harga-anjlok-perusahaan-minyak-mulai-berguguran

Deny, S. (2016). Ini 3 Perusahaan Migas yang PHK Karyawan. Diakses pada 12 Februari pukul 21.10, dari http://liputan6.com/bisnis/read/2428823/ini-3-perusahaan-migas-yang-phk-karyawan

Afrianto, D. (2016). Harga Minyak Dunia Turun, Garuda Tambah 23 Pesawat di 2016. Diakses pada 13 Februari pukul 23.42, dari http://okezone.com/read/2016/01/30/320/1301109/harga-minyak-dunia-turun-garuda-tambah-23-pesawat-di-2016

Sari, N. I. (2016). BI Beberkan Dampak Anjloknya Harga Minyak Dunia di Indonesia. Diakses pada 13 Februari pukul 23.13, dari http://merdeka.com/uang/bi-beberkan-dampak-anjloknya-harga-minyak-di-indonesia.html

Zuraya, N. (2016). Harga Minyak Dunia Terus Turun, Bagaimana dengan ICP?. Diakses pada 13 Februari pukul 17.15, dari http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/02/03/o1ykrv383-harga-minyak-dunia-terus-turun-bagaimana-dengan-icp

Lisnawati. (2016). Dampak Penurunan Harga Minyak Terhadap Perekonomian Indonesia. Diakses pada 16 Februari pukul 22.15, dari http://berkas.dpr.go.id/pengkajian/files/info%2520Singkat-VIII-2-II-P3DI-Januari-2016-77.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *