Surat Cinta untuk Capres dan Cawapres Indonesia

Kepada Bapak Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Indonesia,

Terlintas di pikiran kami bahwa Indonesia masih memiliki berbagai macam permasalahan. Kami pun berkumpul untuk mendiskusikan apa saja yang masih belum sempurna di negara kita tercinta ini. Apa saja yang masih harus dicapai bersama, oleh masyarakat dan pemerintah.  Banyaknya permasalahan yang ada membuat kami sepakat untuk hanya membahas empat topik untuk kami persembahkan kepada Bapak. Perdagangan, inklusi keuangan, pembangunan manusia, dan APBN pun menjadi hal-hal yang akan kami persembahkan kepada Bapak. Berikutlah sedikit isi hati kami untuk Bapak.

Sudah siapkah kita untuk bersaing secara global di pasar bebas ASEAN? Apakah di tahun 2015 nanti kita akan menjadi pemain atau hanya menjadi lahan permainan asing? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul disaat kami memikirkan mengenai ASEAN Economic Community (AEC) tahun depan, terlebih lagi untuk menghadapi ASEAN Vision 2020. Masyarakat banyak yang belum tau apa itu AEC dan ASEAN Vision, tapi mereka harus menghadapi kedua hal tersebut.

UMKM, sebagai salah satu pilar perekonomian kita, sudah siapkah mereka? Apakah Bapak mampu mempersiapkan kami, calon rakyatmu, untuk kedua hajatan besar di ASEAN? Butuh daya saing yang tinggi untuk mampu menjadi pemain dalam kedua hajatan besar tersebut. KualitasprodukUMKM butuh untuk distandardisasi agar kualitasnya terjamin, agar masyarakat percaya akan produknya dan mau membeli. Tenaga kerja terlatih juga perlu difasilitasi agar mampu memiliki daya saing yang tinggi.

Permasalahan-permasalahanperdagangan Indonesia dengannegara lain seperti masalahimporholtikulturadengan AS, masalah CPI diEropadan Malaysia, masalahpertambangan, danbeberapamasalahpenetapanhargakomoditaseksporunggulan. Kami rasa solusinyatidakhanyapadapenyusunansubstansi, tetapidapatdicapaimaksimaldengannegosiasi.

Kami juga mengkhawatirkan mengenai akses masyarakat terhadap lembaga keuangan. Pada survey yang dilakukan Bank Indonesia pada tahun 2010 menunjukkan bahwa 62% rumah tangga Indonesia tidak memiliki tabungan sama sekali. Pengetahuan masyarakat juga masih minim, Pak. Menurut survey OJK bulan November lalu, hanya sekitar 21,84 persen penduduk Indonesia yang memiliki pengetahuan tentang lembaga serta produk jasa keuangan. Pemerintah seharusnya lebih mengedukasi masyarakat mengenai lembaga keuangan serta produk jasanya ini.

Diperlukan pula optimalisasi kinerja bank daerah, bank tani, bank pasar, dan koperasi yang lebih dapat menjangkau masyarakat menengah ke bawah. Bank kelas menengah ke bawah ini akan lebih baik jika dikonsolidasikan ataupun diakuisisi oleh bank besar agar layanannya benar-benar sehat dan terpercaya sehingga tidak menimbulkan ketakutan masyarakat untuk menggunakan produk jasa keuangan. Selain itu, kami juga mengharapkan akses UMKM menuju kredit usaha dipermudah, Pak, supaya UMKM mampu berkembang. Namun, Bapak juga perlu untuk membantu bank melaluipengelolaan profil resiko nasabah sehingga bank pun terhindardariterjadinya gagal bayar.

Hal lain yang kami khawatirkan adalah mengenai pembangunan manusia. Akses terhadap pendidikan di negara kita ini masihlah minim, Pak. Masih banyak pula terjadi diskriminasi di kalangan masyarakat kita. Berdasarkanlaporan UNESCO 2011, tingginyaputussekolahmenyebabkanangkaIndeks Pembangunan Manusiarendah.Faktorutamapenyebabputussekolahadalahtingginyabiayapendidikan.Pemerintahtelahmemberikansubsidiuntukbidangpendidikan, namunsubsiditersebut masih dirasakurangterdistribusidenganbaik. Beberapa anak yang benar-benartidakmamputidakmendapatkankeringanan Sebaliknya, ada beberapa anak yang cukup mampu malah mendapatkankeringanan.Perlupendataan yang tepatuntuksubsidipendidikan.

Kurikulum kita yang terus berubah dan belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan juga harus lebih diperhatikan. Kita terus mencontoh negara asing yang telah sukses dengan kurikulumnya, tapi mengapa tidak berhasil di negara kita? Kami pun berpendapat bahwa bangsa ini memiliki karakter tersendiri. Jadi, sesuatu yang baik untuk bangsa lain belum tentu baik untuk kami. Kurikulum yang sesuai dengan karakter kami lah yang kami butuhkan.

Seiring dengan perkembangan jaman pula, pendidikan karakter tidak hanya terjadi di rumah, namun juga di sekolah. Bahkan untuk mereka yang orang tuanya bekerja, PAUD ataupun TK menjadi sarana paling penting bagi pendidikan karakter. Dibutuhkan pengawasan khusus untuk PAUD dan TK agar mampu memfasilitasi pendidikan karakter ini.

Terjadi juga pergeseran peran politeknik dan universitas di negara kita ini, Pak. Universitas yang seharusnya menghasilkan ilmuwan-ilmuwan malah mengambil peran dari politeknik, yaitu menghasilkan tenaga kerja. Perlunya pendidikan vokasional untuk para calon pekerja ini membuat Indonesia seharusnya membangun lebih banyak politeknik.

Selain dari bidang pendidikan, pembangunan manusia juga dapat dilihat dari gizinya. Penjaminan hasilpanganakanberpengaruhpadatingkatgizidankesehatanmasyarakat. Denganteknologi yang berkembang, masyarakat pun menjadi mampumemenuhikebutuhannasional. Impor pangan akan berkurang, distribusipangan menjadi baik, produksidanpengolahandi Indonesia akanlebih optimal sehinggadapatmengurangiangkakemisikinan.

Hal terakhir yang kami khawatirkan adalah mengenai APBN. APBN negara kita cenderung mengikuti APBN dari tahun-tahun sebelumnya. Kami merasa hal ini kurang tepat karena kurang sesuai dengan keadaan di tahun tersebut. APBN kita juga masih bersifat teknokratis, Pak, belum bersifat ideologis sehingga pembelanjaan ini tidak memiliki pencapaian jangka panjang yang konkret. Masa penyusunan APBN yang singkat juga kami anggap tidak cukup untuk mampu mengoreksi ketidaktepatan yang ada. Otorisator dan ortodinator APBN kita juga merupakan badan yang sama, yaitu Kementerian Keuangan. Hal ini tentunya rawan penyelewengan karena satu badan melakukan tugas pengawasan sekaligus pelaksanaan.

Masalah lain adalah penerimaan APBN kita yang masih lebih besar bersumber dari pajak dibandingkan dari sumber daya alam. Pengeluaran untuk membayar bunga utang dan belanja pemerintah juga masih lebih besar dibandingkan pembangunan infrastruktur. Menurut INDEF, dengan sistem yang seperti itu, APBN ini masih dirasa kurang pro rakyat.

Kami mengharapkan APBN kita dapat lebih responsif terhadap tren masalah yang ada di Indonesia, tidak hanya sekedar berkaca dari APBN tahun sebelumnya. Penerimaan pemerintah juga harus lebih digencarkan lagi dari sumber daya alam maupundarisektorjasa agar tidak membebankan belanja pemerintah kepada masyarakat dengan membatar pajak. Dengan demikian, pajakbukan menjadi satu-satunya sumberpendapatan negara yang memiliki presentase besar.

Suara kami ini hanya mencakup sedikit dari banyaknya permasalahan di negeri kita tercinta ini, Pak. Kami berharap Bapak mampu untuk menyelesaikan satu per satu permasalahan di negeri ini bersama kami, rakyat Bapak kelak. Kami akan selalu ada untuk membantu Bapak mewujudkan Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur, sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Balaslah surat kami ini dengan bukti nyata kinerja Bapak.

Selamat berkarya dan mengabdi untuk rakyat Indonesia.

Terima kasih.

Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *