PHK 2015-2016: Salah Siapa?

Penulis : Vania Ayu Cahyani (Staf Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM 2016)

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada awal tahun 2016 ini menjadi topik yang sangat sering diperbincangkan. Semua media mulai dari media cetak, radio, televisi nasional, sampai dunia maya membahas mengenai isu hangat ini. Banyak pemberitaan di media yang membuat kita sebagai masyarakat awam menjadi bingung dan juga khawatir. Diawali dengan rencana PHK oleh perusahaan miyak asing yaitu Chevron. Kemudian sebuah perusahaan otomotif yaitu Ford, yang sudah beroperasi di Indonesia selama 16 tahun dikabarkan akan menutup perusahaannya. Berita yang tidak kalah mengejutkan juga datang dari 2 perusahaan elektronik besar di Indonesia yaitu Toshiba dan Panasonic. Berbagai spekulasi muncul berkaitan dengan penyebab dari gelombang PHK tersebut. Ada yang mengatakan maraknya PHK terjadi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi ataupun regulasi yang tidak kondusif dalam mendorong perusahaan melanjutkan usahanya. Akan tetapi, sebaiknya kita tidak menelan mentah-metah pemberitaan tersebut kemudian berasumsi seolah-olah Indonesia sedang berada pada masa krisis. Berikut akan dibahas mengenai keadaan sektor-sektor yang banyak melakukan pemutusan hubungan kerja, kondisi iklim tenaga kerja di Indonesia, serta strategi penyelesaian yang relevan diterapkan saat ini.

Kondisi Sektor-Sektor Perusahaan yang Melakukan PHK
           Pertama adalah sektor pertambangan minyak dan gas. Sektor migas menjadi sorotan sejak tahun 2015 lalu hingga awal tahun 2016 ini. Penurunan harga minyak dunia yang menyentuh $38,24 per barel yaitu terendah sejak Februari 2009 membawa dampak sangat besar bagi perusahaan yang bergerak di sektor migas. Bukan hanya Chevron yang mengalami kerugian akibat anjloknya harga minyak, tetapi perusahaan sejenis di seluruh dunia juga mengalami hal yang sama. Misalnya, perusahaan ladang minyak raksasa Schlumberger, terpaksa harus melakukan PHK terhahadap 20.000 karyawannya. Secara keseluruhan volume ekspor migas di Indonesia mengalami kenaikan tetapi nilai ekspornya turun karena harga minyak yang cenderung turun sejak 2014. Berdasarkan Indeks Tendensi Bisnisnya (ITB) secara umum perekonomian Indonesia pada triwulan IV 2015 mengalami peningkatan dari triwulan sebelumnya yaitu sebesar 105,22 tetapi di sektor pertambangan dan penggalian ITB mengalami penurunan. Pada triwulan I 2016 diperkerikan kondisi bisnis sektor tersebut juga masih lesu.

Kedua adalah sektor manufaktur. Salah satu sektor manufaktur yang diterpa kabar PHK adalah Industri otomotif. Industri otomotif memang sedang mengalami masa surut sejak beberapa tahun terakhir ini terutama tahun 2015. Di Indonesia produksi otomotif cenderung mengalami penurunan dari bulan Januari 2015 hingga Juli 2015. Penurunan terendah terjadi pada bulan Juli, kemudian mengalami peningkatan kembali meskipun masih dalam kecenderungan turun hingga tahun 2015. Sebenarnya, apabila produksi perusahaan sesuai dengan permintaan pasarnya, tidak akan menjadi masalah yang terlalu besar. Akan tetapi, jumlah permintaan domestik selalu lebih rendah dari produksinya. Hal ini menyebabkan perusahaan-perusahaan otomotif mengalami kesulitan dalam penjualan. Bukan hanya itu, kompetisi yang ketat di pasar otomotif Indonesia juga semakin mempersulit perusahaan otomotif di Indonesia. Sektor elektronik tidak jauh berbeda dengan sektor otomotif. Pada tahun 2015 pasar elektronik di dalam negeri megalami penurunan antara 5%-20%. Akan tetapi, sebenarnya secara umum sektor manufaktur pada akhir 2015 dan awal 2016 ini terus megalami perbaikan. Meskipun sedang mengalami kontraksi. Nilai kontraksi kegiatan usaha pada sektor manufaktur triwulan IV 2015 yaitu -0,34% lebih baik dari triwulan sebelumya yang mencapai -0,84%. Untuk triwulan I 2016, diprediksi kinerja industri tidak akan kembali mengalami konstraksi melainkan ekspansi. Nilai Prompt Manufacturing Index (PMI) triwulan IV 2015 lebih baik dari triwulan sebelumnya yaitu meningkat 1,77%.

Kondisi Iklim Tenaga Kerja di Indonesia

           Di tengah maraknya isu PHK di tanah air, ternyata pada tahun 2015 industri berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 21.383 orang tenaga kerja tetap dari rencana penyerapan pada 2015 sebanyak 39.504 orang. Capaian penyerapan tersebut adalah 52,4% dari target tahun 2015. Raealisasi investasi untuk mendorong pernyerapan tenaga kerja tetap ini akan terus dilaksanakan sampai tahun 2019 dengan target penyerapan 145.275 orang tenaga kerja tetap. Pertumbuhan penyerapan pada tahun 2015 cenderung lambat karena banyak perusahaan yang masih dalam tahap kontruksi.

Meskipun terkesan lambat, penyerapan tenaga kerja masih tetap bertumbuh di Indonesia. Akan tetapi, hal berbeda terjadi pada perusahaan yang sudah lama berdiri. Isu PHK banyak tersebar dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah lama berdiri di Indonesia terutama pemecatan tenaga kerja kontrak. Berdasarkan Badan Pusat Statistik, . SBT penggunaan tenaga kerja triwulan IV 2015 tercatat terkontraksi lebih dalam sebesar -1,94% dibandingkan SBT triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar -1,74%. Kontraksi penggunaan tenaga kerja ini terjadi pada 4-9 sektor terutama sektor pengolahan dan pertambangan. Terkontraksinya penggunaan tenaga kerja di perusahaan-perusahaan, membuat perusahaan mulai megurangi jumlah tenaga kerjanya. Keinginan untuk melakukan penguragan tenaga kerja juga didorong oleh kualitas tenaga kerja terutama tenaga kerja tidak tetap dan buruh industri yang masih rendah. Peneliti Senior Puslit Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa hampir 75 persen tenaga kerja Indonesia hanya sekolah sampai SD. Bahkan lebih dari 90 persennya terkategori tidak memiliki keterampilan khusus. Nilai tersebut membuat Indonesia berada di bawah Filipina dalam hal pendidikan tenaga kerja. Rendahnya latar belakang pendidiakan dan keterampilan tenaga kerja Indonesia berpengaruh pada minimnya tingkat produktivitas. Produktivitas tenaga kerja hanya 10,3 persen dari produktivitas Singapura. Jauh di bawah tingkat produktivitas tenaga kerja Malaysia sebanyak 36,2 persen, serta Thailand 16,7 persen.

Rendahnya kualitas tenaga kerja Indonesia diperburuk dengan banyaknya tuntutan tenaga kerja yang terkadang tidak mempertimbangkan keadaan ekonomi saat ini. Pada tahun 2015, Konferensi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengajukan 10 tuntutan terhadap pemerintah. Salah satu tuntutannya adalah menaikkan upah buruh minimum 22 persen pada 2016 untuk menjaga daya beli buruh. KSPI juga menolak Rancangan Peraturan Pemerintah Pengupahan yang hanya berbasis inflasi plus dan Produk Domestik Bruto serta Revisi Kebutuhan Hidup Layak dari 60 item menjadi 84 item. Misalnya, berdasarkan perhitungan pemerintah dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan, ditetapkan Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta untuk tahun 2016 sebesar 3,1 juta rupiah, naik 400 ribu rupiah dari tahun sebelumnya. Tetapi, buruh menolak rancangan UMP tersebut dan menuntut jauh lebih tinggi yaitu 4,2 juta rupiah. Tuntutan-tuntutan buruh ini yang tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas, semakin mempersulit perusahaan yang sedang berjuang menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini mengakibatkan perusahaan terpaksa melakukan PHK untuk efisiensi sehingga tidak semakin merugi.

Penyebab PHK dan Solusi bagi Pemerintah

           Berdasarkan penjelasan mengenai sektor-sektor yang terkena isu PHK serta iklim ketenaga kerjaan di Indonesia, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa PHK semata-mata terjadi karena keadaan ekonomi Indonesia dan dunia yang sedang mengalami krisis. PHK tidak terjadi karena kegagalan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi juga bukan karena ketidak efektifan paket-paket kebijakan yang teah dikeluarkan pemerintah. Perekonomian memang sedang mengalami perlambatan, tetapi bukan berarti terpuruk. Seperti yang telah dijelaskan di atas, perekonomian Indonesia masih mengalami pertumbuhan meskipun tidak sebaik tahun lalu. Di tengah ekonomi dunia yang tidak menentu, ekonomi Indonesia termasuk masih baik dan bisa bertahan. PHK yang terjadi murni merupakan keputusan dari pertimbangan bisnis perusahaan-perusahaan tersebut. Pertimbangan bisnis ini meliputi efisiensi, rekonstruksi, dan rasionalisasi perusahaan.

Selain akibat pertimbangan bisnis, PHK juga sedikit banyak dipengaruhi oleh kesulitan perusahaan dalam menangani masalah perburuhan. Masalah perburuhan terus menjadi momok bagi perusahaan dari tahun ke tahun. Untuk mengurangi jumlah pengangguran dan pemutusan hubungan kerja dibutuhkan investasi di bidang usaha padat karya. Akan tetapi, karena masalah perburuhan ini investor harus berpikir ulang sebelum melakukan investasi di bidang usaha padat karya. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menyelesaikan masalah perburuhan ini sehingga dapat menarik lebih banyak investor padat karya. Pemerintah juga sebaiknya semakin memperbesar investasi di bidang usaha padat karya termasuk proyek infrastruktur negara. Pemerintah juga sebaiknya memperbaiki prosedur PHK. Akan tetapi, tenaga kerja sendiri jangan pernah berhenti untuk terus mengembangkan kualitas diri sehingga dapat bertahan dalam pekerjaannya.

Sumber :

Antara. 2016. BKPM: Serapan Tenaga Kerja Naik Seiring Realisasi Investasi.
https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/02/09/090743493/bkpm-serapan-tenaga-kerja-naik-seiring-realisasi-investasi (diakses pada tanggal 16 Februaari 2016)

Bank Indonesia. 2016. Survei Kegiatan Dunia Usaha: Triwulan IV 2015.
http://www.bi.go.id/id/publikasi/survei/kegiatan-dunia-usaha/Documents/SKDU_TW_IV_2015.pdf (diakses pada tanggal i16 Februa 2016)

Badan Pusat Statistik. 2016. Kondisi Bisnis dan Ekonomi Konsumen Meningkat.
http://www.bps.go.id/Brs/view/id/1255 (diakses pada tanggal i16 Februa 2016)

CNBC. 2015. US oil ends down at $38.24 a barrel; lowest since February 2009.
http://www.cnbc.com/2015/08/23/us-crude-dips-to-around-40-on-demand-concerns-supply-glut.html (diakses pada tanggal i16 Februa 2016)

Divisi Dana dan Treasury-PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah. 2016. Summary Economy Update 9 Februari 2016.
http://bankjateng.co.id/content.php?query=news&kat=content&id_conten.t=897 (diakses pada tanggal i16 Februa 2016)

Gaikindo. 2015. Domestic Auto Market & Production (2015).
http://www.gaikindo.or.id/domestic-auto-market-production-2015/ (diakses pada tanggal i16 Februa 2016)

Pratiwi, Dhera A. 2015. Delapan Perusahaan yang Lakukan PHK Massal di 2015.
http://economy.okezone.com/read/2015/10/01/213/1224355/delapan-perusahaan-yang-lakukan-phk-massal-di-2015 (diakses pada tanggal i16 Februa 2016)

Sasongko, Joko P, 2015. 10 Tuntutan Konfederasi Serikat Pekerja dalam Demo Buruh.
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150901094559-20-75801/10-tuntutan-konfederasi-serikat-pekerja-dalam-demo-buruh/ (diakses pada tanggal 16 Februari 2016)

Septyaningsih, Iit, 2015. Kualitas Tenaga Kerja Indonesia Masih Rendah.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/09/17/nutmxw377-kualitas-tenaga-kerja-indonesia-masih-rendah (diakses pada tanggal 16 Februaari 2016)

Syahrul, Yura. 2016. PHK Merebak, Menteri Darmin: Bukan Karena Ekonomi Melambat.
http://katadata.co.id/berita/2016/02/03/phk-merebak-menteri-darmin-bukan-karena-ekonomi melambat#sthash.CUBckkpc.QkVAALh2.dpbs (diakses pada tanggal i16 Februa 2016)

Wisnu, Arkhelaus, 2016. PHK Marak, Menurut INDEF Ini Penyebabnya.
https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/02/09/092743255/phk-marak-menurut-indef-ini-penyebabnya ( diakses pada tanggal 16 Februari 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *