Perlukah Pembelajaran Akuntansi untuk UMKM di FEB UGM?

Penulis: Christopher Clark

Akuntansi. Suatu ilmu yang menjadi roh bagi dunia bisnis dan perekonomian. Tanpanya, pembuatan anggaran perusahaan tuk kegiatan bisnisnya menjadi tidak tepat. Pencatatan segala transaksi bisnis juga tidak tepat. Kinerja perusahaan juga tidak dapat diukur. Hal-hal inilah yang menjadi salah satu latar belakang dipelajarinya Akuntansi dalam penjurusan pada pendidikan perguruan tinggi.

Berbicara mengenai pembelajaran akuntansi pada pendidikan tingkat perguruan tinggi, khususnya di FEB UGM, Akuntansi merupakan salah satu program studi yang difavoritkan oleh setiap pelajar tamatan sekolah menengah atas tiap seleksi masuk perguruan tinggi tiap tahunnya. Pada tahun 2013, pendaftar untuk program studi Akuntansi adalah sebesar 10.973 orang, dari daya tampung yang berkisar di angka 150. Akuntansi disinyalir memiliki masa depan cerah pada luasnya lapangan kerja. Lulusan program studi Akuntansi dapat menjadi seorang ahli keuangan, auditor, ahli teknologi informasi suatu perusahaan, akuntan keuangan pemerintahan, dan lainnya yang berhubungan dengan keuangan instansi.

Pembelajaran Akuntansi di FEB UGM dapat dikatakan memiliki kelasnya tersendiri. Kurikulum yang berstandar Internasional, penggunaan buku-buku yang dikarang oleh ahli dan dosen akuntansi pada perguruan tinggi luar negeri, fasilitas yang kelas satu, merupakan beberapa contoh betapa baiknya sistem pendidikan di FEB UGM, khususnya Akuntansi.

Pembelajaran yang ditunjang oleh baiknya hal-hal yang telah diuraikan pada alinea sebelumnya memang memiliki peran yang besar dalam pembentukan suatu lulusan yang mampu menghadapi tantangan global, mampu menembus dunia luar, mampu menjadi tulang punggung bagi perusahaan besar, dan mampu menjadi pejabat yang memiliki pengaruh bagi perekonomian bangsa melalui instansi pemerintahan.

Akan tetapi, ada satu hal yang dirasa penting dan menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa, namun belum menjadi sorotan penting bagi pembelajaran Akuntansi di FEB UGM, yakni sektor UMKM. UMKM adalah bagian dari perekonomian Indonesia. Menurut data dari BPS, jumlah UMKM di Indonesia pada tahun 2013 lalu telah mencapat angka 56 juta-an. Besaran angka yang cukup luar biasa, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang besar mencapai angka 250 juta. Besaran angka yang dihitung dari BPS ini merupakan tantangan tersendiri bagi mahasiswa masa kini. Apa yang harus dilakukan tuk mengembangkan sektor UMKM menjadi sektor yang unggul?

Dalam dunia Akuntansi di Indonesia, ada suatu standar yang mungkin tidak akrab di telinga setiap mahasiswa FEB UGM, yakni SAK-ETAP. SAK-ETAP merupakan suatu standar akuntansi yang diciptakan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas yang signifikan bagi publik. Tidak memiliki akuntabilitas yang signifikan bagi publik berarti tidak adanya kewajiban bagi entitas tersebut untuk menerbitkan laporan keuangan bagi publik. Entitas yang dimaksud dapat disimpulkan adalah UMKM. SAK-ETAP merupakan hal yang baru bagi dunia Akuntansi di Indonesia. Standar ini dibuat dalam rangka membantu sektor usaha yang seperti dimaksud sebelumnya, untuk membuat laporan keuangan yang sesuai dengan jenis usahanya, karena jika menggunakan standar akuntansi internasional, yakni IFRS, dirasa terlalu kompleks dan memakan biaya yang cukup tinggi.

Hal ini yang cukup mengusik penulis, mengapa FEB UGM tidak mengajarkan SAK-ETAP di samping kita belajar standar IFRS? Padahal telah jelas, sektor UMKM tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Sektor UMKM pun banyak yang belum memahami penggunaan dan penerapan SAK-ETAP sendiri, terlepas standar ini yang masih menuai kontroversi terkait akuntabilitas yang signifikan terhadap publik. Kita sebagai mahasiswa harusnya menyadari akan hal ini, akan adanya potensi besar yang tidak digali lebih jauh dan tidak diberi pendidikan dalam hal mengelola keuangannya.

Melihat tujuan didirikannya Indonesia dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Pernyataan ini jelas, bahwa kita sebagai suatu individu, jangan hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga turut serta dalam pembangunan Indonesia sesuai bidang kita. Pembelajaran Akuntansi di FEB UGM yang berkiblat pada dunia global memang baik, tetapi jangan membuat kita lupa akan hal yang hidup di sekitar kita. Harapannya adalah terjadi hubungan timbal-balik antara kita sebagai mahasiswa dan UMKM sebagai penyedia barang dan jasa. Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ke-3, pengabdian kepada masyarakat.

Penulis berharap, kita sebagai mahasiswa, penggerak perubahan, dapat menjadi pihak yang memotivasi dan menginspirasi masyarakat sekitar kita. Mahasiswa yang berguna bagi nusa dan bangsa. Pemaparan penulis ini berdasarkan pada kegelisahan penulis. Kegelisahan akan semakin banyaknya mahasiswa yang tidak peduli karena suatu sistem yang dibuat. Pertanyaannya kini, perlukah pembelajaran Akuntansi untuk sektor UMKM di FEB UGM?

 

Sumber:

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/index.php/layanan-diklat/seputar-diklat/1355-umkm-berpotensi-meningkatkan-pendapatan-negara

Akademik.ugm.ac.id

bps.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *