Pembentukan Entrepreneur Union di Sekolah sebagai Wadah Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

Oleh: Amanda Aidil Fitra

Pengangguran merupakan fenomena sosial yang perlu diperhatikan secara serius baik
dari pihak pemerintah maupun masyarakat. Pada tahun 2012 kemarin, berdasarkan data dari
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, angka pengangguran di Indonesia mencapai
7,24 juta jiwa. Jumlah yang cukup besar ini menjadikan hambatan dan tantangan bagi
pemerintah di dalam membangun dan memajukan perekonomian Indonesia. Hal ini dapat
menjadi hambatan karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan
masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan. Kemiskinan
itu sendiri dapat berdampak pada menurunnya kesejahteraan masyarakat.
Penyebab dari pengangguran itu sendiri sebenarnya disebabkan oleh berbagai hal.
Akan tetapi, pada umumnya pengangguran disebabkan oleh jumlah angkatan kerja yang ada
tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang menyerapnya. Sudah banyak usaha
yang dilakukan pemerintah juga pihak swasta untuk mengurangi pengangguran, seperti mulai
dari berusaha menyediakan lapangan pekerjaan, pembenahan struktur perekonomian negara,
lalu meningkatkan kualitas sumber daya manusia berupa pemberian pelatihan ketrampilan
ketenagakerjaan, hingga penyebarluasan informasi pencari tenaga kerja dengan pencari kerja
dan lain-lain, tetapi itu semua belum mengatasi pengangguran karena kemampuan
pemerintah cukup terbatas.
Fakta-fakta tersebut menyadarkan perlunya langkah solutif untuk mengurangi dan
menangani permasalahan pengangguran di Indonesia. Salah satu solusi yang cukup ampuh
untuk menangani permasalahan pengangguran adalah kewirausahaan, karena dengan
berwirausaha selain mempekerjakan diri sendiri dapat membuka lapangan pekerjaan bagi
yang lain. Joseph A. Schumpeter dalam bukunya The Theory of Economic Development
mengartikan wirausahawan sebagai orang yang memiliki respons kreatif terhadap lingkungan
perekonomian, yang membuatnya sebagai pusat dari pengembangan bahan baku. Pada
bukunya yang lain yaitu Capitalism, Socialism, and Democrasy, Joseph A. Schumpeter
memberi arti wirausahawan sebagai orang yang selalu mencoba dan melakukan kemungkinan
peluang bisnis yang baru dan belum pernah dicoba sebelumnya. Kedua perngertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa makna kewirausahaan memiliki peranan yang sangat penting dalam
pembangunan nasional dalam bentuk penyediaan lapangan kerja dan produksi yang inovatif, karena kemampuan pemerintah untuk menyediakan atau membuka lapangan kerja terbatas.
Oleh karena itu, selain pemerintah, masyarakat juga perlu membantu peran pemerintah untuk
mengurangi pengangguran, yaitu dengan cara berwirausaha.
Sayangnya jumlah wirausahawan di Indonesia masih terhitung sedikit dibanding
dengan jumlah pengangguran, yaitu pada tingkat sebesar 1,58 persen dari jumlah penduduk
(BPS, September 2012). Tingkat wirausahawan sebesar 1,58 persen tentu bukan merupakan
jumlah yang cukup ideal mengingat jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar. Adapun
berbagai sebab mengapa tingkat wirausahawan di Indonesia masih rendah, seperti masih
kuatnya cara pandang bahwa menjadi orang gajian atau pegawai lebih terhormat dibanding
wirausahawan. Seringkali istilah wirausahawan masih belum dianggap sebagai pekerjaan,
bahkan masyarakat masih banyak yang memandang pegawai kantoran yang bekerja dari pagi
hingga malam lebih terhormat, tetapi wirausahawan, apalagi kecil, masih dipandang sebelah
mata. Selain itu, lingkungan budaya masyarakat dan keluarga yang tidak merangsang atau
membiasakan generasi muda untuk berusaha sendiri, serta sulitnya memiliki modal terkadang
menjadi hambatan untuk memulai sebuah usaha. Padahal melalui berwirausahalah seseorang
dapat memperoleh penghasilan atau keuntungan berkali lipat dari pegawai kantoran. Maka
dari itu, sudah saatnya generasi muda mengubah pola pikir mereka lalu mengembangkan dan
mengasah jiwa kewirausahaan.
Langkah-langkah untuk menanamkan jiwa kewirausahaan pada generasi muda sejak
dini sangat diperlukan. Salah satunya adalah melalui lembaga pendidikan formal, yaitu
sekolah. Tidak dipungkiri lagi, sekolah merupakan dasar di dalam membentuk karakter,
kepribadian, dan pengetahuan pada generasi muda. Di sekolah mereka diajarkan berbagai
ilmu seperti ilmu berhitung, pengetahuan alam, pengetahuan sosial, kewarganegaraan, dan
kebudayaan daerah. Di samping itu, karakter dan kepribadian mereka juga dibentuk, seperti
berlatih bersikap jujur, bertanggung jawab, tolong menolong dan lain-lain. Oleh karena itu,
sekolah dapat menjadi salah satu sarana yang cukup penting dalam menanamkan jiwa
kewirausahaan sejak dini, dengan konsep pembentukan Entrepreneur Union.
Entrepreneur Union merupakan wadah yang bertujuan untuk menampung siswa-siswi
dalam mengembangkan kemampuan berwirausahanya. Wadah ini dapat dibuat dalam bentuk
ekstrakurikuler wajib di seluruh tingkat jenjang sekolah, baik SD, SMP, dan SMA/SMK. Jika
di dalam pelajaran sekolah, pada umumnya siswa hanya diajarkan kewirausahaan secara
teori, maka di dalam Entrepreneur Union para siswa diajak untuk berlatih mencoba membuat rencana bisnis, bagaimana mencari/mendapatkan modal, serta mencoba untuk membuka
usaha dan menghadapi resikonya. Secara garis besar dengan adanya Entrepreneur Union,
para siswa diajarkan secara langsung bagaimana berwirausaha yang baik, tidak hanya teori.
Program Entrepreneur Union pada tiap jenjang sekolah pun berbeda, disesuaikan
dengan tingkat sekolahnya apakah itu SD, SMP, atau SMA/SMK. Untuk level SD,
programnya lebih dirancang untuk mengenalkan siswa pada dunia usaha. Mereka akan
diberikan materi-materi pengenalan kewirausahaan. Isi materi-materi tersebut dibuat lebih
ringan dan menarik sekedar mengenalkan siswa pada dunia usaha, lalu diadakan pula
permainan-permainan kreatif seperti memecahkan kasus dan sebagainya sehingga
menciptakan suasana yang dapat merangsang siswa memiliki jiwa wirausaha. Kemudian
untuk level SMP, wadah ini lebih berfokus dalam memberikan pelatihan dan ketrampilan
siswa dalam berwirausaha walaupun tetap ada pemberian materi yang menunjang. Di sini
mereka juga akan diajak langsung melihat dunia bisnis, seperti mengunjungi perusahaan dan
UMKM.

Pihak sekolah tentunya bekerjasama dengan pemerintah sebagai fasilitatornya,
sehingga sekolah tidak akan kesulitan dalam menjalankan program-programnya. Selanjutnya
pada level SMA/SMK, siswa dirasa sudah memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang
cukup mengenai kewirausahaan, sehingga pada tingkat ini mereka akan dilatih secara
langsung memulai sebuah bisnis, dari membuat rencana bisnis, mencari modal, hingga
memasarkan produk atau jasanya. Dalam prakteknya, siswa akan didampingi oleh guru
ataupun pembimbing dalam memulai bisnisnya.
Pembentukan Entrepreneur Union di sekolah akan menjadi sebuah wadah yang
penting bagi siswa dalam membentuk mentalitas dan jiwa kewirausahaan. Wadah ini jelas
dapat menciptakan sebuah aura positif yang mendorong dinamika berinvestasi di tengah
masyarakat. Pada umumnya orang mulai mengenal dunia usaha ketika mereka mulai beranjak
ke perguruan tinggi, tetapi dengan dibentuknya wadah seperti ini maka otomatis anak-anak
dengan sendirinya sudah mengenal dunia usaha bahkan siap untuk memulai usahanya
walaupun secara kecil-kecilan.
Pemerintah tentu perlu secara konsisten membantu dan mendukung sekolah dalam
menyelenggarakan Entrepreneur Union. Sebab sekolah merupakan garda terdepan dalam
membentuk generasi muda, sehingga perlu pula mendorong kewirausahaan sejak dini.
Kewirausahaan memiliki peranan yang sangat penting dalam menggerakkan perekonomian
negara. Seorang wirausahawan dapat menciptakan lapangan pekerjaan, membuka peluang baru dalam memakmurkan masyarakat, serta memacu produktivitas dalam membuat produk
inovatif yang dapat diserap oleh pasar. Indonesia membutuhkan generasi wirausahawan muda
yang dapat memperbaiki dan menggerakkan perekonomian negara menjadi lebih baik.

 

 

One thought on “Pembentukan Entrepreneur Union di Sekolah sebagai Wadah Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan

  • Setuju sekali, selain anak mendapatkan bekal pendidikan formal, perlu dibekali juga ilmu kewirausahaan agar kelak anak tidak hanya mengandalkan untuk bekerja di perusahaan orang tetapi juga dapat membuka lapangan pekerjaan sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *