Organisasi? Profesionalisme DAN/ATAU Kekeluargaan?

word-cloud

Opini oleh Rizki Pratama

[dropcap]P[/dropcap]ada saat awal mengikuti organisasi kampus, ekspektasi saya tinggi sekali. Saya sempat berpikir bahwa orang-orang yang ada dalam organisasi semua adalah orang-orang yang profesional dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat. Karena itulah saya memberanikan diri dan tertarik untuk mengikuti organisasi. Sedikit informasi, saya adalah mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Sudah satu setengah tahun saya berorganisasi dan dari sana saya melihat bahwa ekspektasi saya terlalu tinggi bahkan masih sulit untuk dicapai. Saya berpendapat demikian bukan tanpa bukti, saya merasakannya sendiri terlebih semenjak saya menjadi kepala biro pada salah satu organisasi kampus di fakultas saya.

Selama saya diamanahkan sebagai kepala biro, jujur banyak tekanan batin yang saya alami. Menghadapi anggota yang low respond dan tak acuh sudah menjadi makanan keseharian saya. Namun semua memang harus dihadapi dengan kepala dingin meskipun hati ini sebenarnya “mendongkol”. Semua cara saya lakukan agar biro ini menjadi suatu biro yang solid setidaknya di mata biro maupun departemen lain. Saya tentunya tidak ingin biro ini terlihat jelek dimata anggota departemen lainnya. Jujur untuk menumbuhkan jiwa profesionalisme dalam organisasi butuh proses yang panjang.Semua harus ada tahapan-tahapan yang jelas.Namun jika proses itu hanya berjalan di tempat saja bukankah tampak jelas adanya kemunduran dalam suatu organisasi tersebut? Pertanyaan itu selalu muncul dalam benak saya karena saya peduli dengan biro dan organisasi ini. Saya tidak ingin terlihat otoriter, saya tidak ingin di pandang menakutkan oleh anggota saya.Saya coba tanamkan rasa kekeluargaan kepada anggota saya, hasilnya? Ya, kita solid pada kekeluargaan tapi timpang pada profesionalisme.

Saya tentunya menginginkan ekspektasi saya yang tinggi ini benar-benar terjadi.Saya ingin tubuh organisasi ini bernafaskan profesionalisme dan kekeluargaan yang seimbang.Saya ingin komitmen dijaga sampai mati.Saya ingin totalitas dan loyalitas tertanam dalam diri, idealisme pemuda harapan terakhir bangsa. Saya teringat perkataan Anies Baswedan yang merupakan Dirut Indonesia mengajar, beliau mengatakan bahwa “modal utama menjadi pemimpin adalah kemauan untuk terus menjadi pembelajar. Untuk melakukan sesuatu tidak harus menjadi seseorang, jadilah orang biasa yang melakukan sesuatu”. Organisasi inilah salah satu wadah pembelajaran,Organisasi inilah salah satu tempat untuk melakukan sesuatu,Semua ada dalam organisasi ini, namun jangan jadikan organisasi ini sebagai wadah persaingan.Jangan jadikan organisasi ini sebagai tempat persinggahan.Jadikanlah organisasi ini menjadi besar yang di dalamnya terdapat orang-orang hebat yang berkontribusi demi rakyat.

Tidak pernah ada rasa menyesal dalam diri saya melihat kenyataan yang ada.Saya disini merupakan agen perubahan, budaya yang timpang dalam organisasi harus dapat diperbaiki bukan dihindari. Untuk membuat organisasi ini lebih berkontribusi, saya awali dengan biro yang diamanahi kepada saya. Kekeluargaan tanpa didampingi profesionalisme hanyalah ruang hampa dalam organisasi.Kekeluargaan tanpa didampingi profesionalisme hanyalah benalu dalam organisasi. Jika kerangka saja dapat memperlihatkan hasil postif, maka isi keseluruhan akan menciptakan sesuatu yang progressive. Bukan mata yang akan melihat, bukan mulut yang akan bicara, dan bukan telinga yang akan mendengar, tapi hati yang akan bergerak. Berikan yang terbaik untuk bangsa ini dan jadikanlah negeri ini pusaka abadi.Ubahlah perlahan dengan kontribusi, semangat juang teruslah junjung tinggi. Ciptakan keselarasan kekeluargaan dan profesionalisme diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *