Menguak Dampak Relokasi Bonbin [Part 2]

Kantin Rekadaya Boga Humaniora, atau yang akrab disebut “Bonbin”, merupakan kantin yang populer di kalangan mahasiswa Kluster Sosio-Humaniora. Kantin yang dulunya terletak di Plaza Humaniora Mandiri ini selalu ramai pengunjung. Selain karena letaknya yang cukup strategis, menu makanan yang di tempat ini bisa dikatakan cukup murah. Kantin ini sudah beroperasi sejak 1987, berawal dari relokasi para pedagang kaki lima di kawasan Boulevard UGM oleh Rektor Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri menuju lokasi yang berada di Jalan Sosio Humaniora, dengan pengelolaan di bawah Direktorat Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset (DPPA). Pemindahan pedagang ke Jalan Sosio-Humaniora berdampak positif baik bagi pedagang maupun civitas akademika Sosio-Humaniora.

Sejak akhir tahun 2015 atau sekitar bulan November mulai tersiar kabar rencana pihak rektorat bidang Aset untuk merelokasi pedagang Bonbin ke Pusat Jajanan Lembah (Pujale). Alasan yang mendasari relokasi tersebut adalah pembangunan gardu listrik serta penyelarasan kawasan sekitar sosio humaniora sebagai daerah educopolis, yakni menciptakan suasana kampus yang kondusif untuk proses pembelajaran dalam konteks pengembangan sinergi interdisiplin dan tanggap terhadap isu ekologis. Namun, terjadi perdebatan dan penolakan baik dari pedagang Bonbin dan kalangan mahasiswa sendiri terkait relokasi tersebut. Relokasi juga dikhawatirkan akan menyebabkan penurunan pendapatan pedagang. Setelah melewati rangkaian dialog dan negosiasi, akhirnya pedagang Bonbin bersedia pindah ke Pujale dengan janji-janji lisan yang diberikan oleh pihak rektorat.

Berdasarkan Teori Persaingan Spasial Hotelling, penjual akan memiliki kecenderungan untuk membuka usaha di dekat kompetitornya. Hal tersebut dikarenakan setiap penjual berkeinginan untuk berada pada lokasi yang akan memberikan pangsa pasar yang maskismal, dan meminimalkan jarak yang harus ditempuh pelanggannya untuk membeli ke tokonya. Oleh karena itu, kantin biasanya terdiri dari beberapa penjual yang membentuk klaster atau kelompok-kelompok. Seperti halnya dengan pedagang-pedagang di Pujale maupun di Bonbin sebelumnya, mereka berjualan pada lokasi yang sama. Relokasi Bonbin diharapkan akan memperbesar pasar mereka.

Namun, hasil survei menunjukkan hal yang berbeda. Sebagian besar pedagang Bonbin mengalami penurunan pendapatan yang drastis setelah relokasi ke Pujale, rata-rata pedagang Bonbin mengalami penurunan sekitar 45%. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kurang menyatu antara pedagang Bonbin dengan pedagang Pujale hal ini ditunjukkan dengan adanya “tembok semalam” yang dibangun oleh pedagang Pujale sebagai pemisah daerah antara pedagang Bobin dan Pujale. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan memberi batasan tempat bagi pengunjung Pujale dan Bonbin.. Setiap fakultas telah memiliki kantin masing-masing. Daya tarik Bonbin saat masih berada di Jalan Sosio-Humaniora adalah harganya yang lebih murah dibanding dengan kantin lainnya dan berlokasi strategis diantara FIB, FEB, Filsafat dan Psikologi. Namun, semenjak pindah ke Pujale jarak yang harus ditempuh pengunjung Bonbin semakin jauh sehingga banyak dari pengunjung Bonbin yang memilih membeli makanan di kantin fakultas mereka masing-masing atau kantin yang lebih dekat dengan mereka.

 

Data Penghasilan Bersih Pedagang Bonbin

No. Nama Total Penghasilan Bersih per Bulan (Semester 1) Total Penghasilan Bersih per Bulan (November 2016) Perubahan
1 Wahyuningsih Rp1,500,000.00 Rp1,500,000.00 0%
2 Surono Rp5,000,000.00 Rp1,750,000.00 -65%
3 Warti Rp1,000,000.00 Rp1,000,000.00 0%
4 Wisnu Rp1,500,000.00 Rp1,750,000.00 17%
5 Ning Rp4,400,000.00 Rp750,000.00 -83%
6 Widodo Rp2,000,000.00 Rp1,000,000.00 -50%
7 Heru Rp4,500,000.00 Rp900,000.00 -80%
8 Warsini Rp3,000,000.00 Rp900,000.00 -70%
9 Sri Suharni Rp4,000,000.00 Rp1,000,000.00 -75%

 

Kita dapat kembali kepada pernyataan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 67 Tahun 2013 tentang Statuta Universitas Gadjah Mada, pada pasal 8 huruf d, disebutkan bahwa UGM merupakan universitas kerakyatan, yaitu universitas yang selalu memperjuangkan kepentingan rakyat dalam rangka mencapai kehidupan yang layak. Seberapa layakkah kampus ini untuk tetap menyandang status tersebut? Kemudian bagaimana dengan dampak yang muncul akibat penutupan jalan Olahraga bagi masyarakat umum (selain civitas akademika UGM) terhadap para pedagang di lokasi Lembah? Apakah akan semakin mengurangi pendapatan mereka dari pengunjung non-UGM?

Pertanyaan selanjutnya adalah kendala apa yang muncul untuk mempertemukan antara permintaan dari mahasiswa dan penawaran dari pedagang kantin yang diharapkan dapat memenuhi keinginan pasar? Mungkin hal ini akan terjawab dengan pembangunan Plaza BI yang hingga kini belum ada kabar berita lanjutan dari pihak DPPA. Pihak DPPA diharapkan lebih bijak dalam mengambil langkah selanjutnya, serta bersikap lebih terbuka kepada pihak yang terkena dampak secara langsung dalam masalah ini yaitu mahasiswa dan pedagang Bonbin. Sikap terbuka ini dapat dilakukan DPPA dengan menunjukkan analisis cost and benefit dari sudut pandang DPPA terkait relokasi Bonbin, serta memberikan Grand Design pembangunan Plaza BI. Kajian ini membuktikan kebenaran dari perkiraan yang diutarakan mahasiswa pada kajian sebelum relokasi dilakukan, yaitu penurunan drastis pendapatan para pedagang.

 

Sumber:

BEM FEB UGM. (2016). Menguak Dampak Ekonomi Relokasi Bonbin. Diakses pada 8 Maret 2017 dari http://bem.feb.ugm.ac.id/menguak-dampak-ekonomi-relokasi-bonbin/

Boyd, Andrew. (n.d). Hotelling’s Law. Diakses pada 8 Maret http://www.uh.edu/engines/epi2692.htm/

Universitas Gadjah Mada. (2017). UGM Akan Menjadi Kampus Educopolis. Diakses pada 8 Maret 2017 dari https://ugm.ac.id/id/berita/2112-ugm.akan.menjadi.kampus.educopolis/

 

 

Departemen Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa

Departemen Kajian dan Aksi Strategis

BEM FEB UGM

bersama

BPPM EQUILIBRIUM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *