[RILIS] Menguak Dampak Ekonomi Relokasi Bonbin

Kantin Sosio Humaniora atau yang biasa kita kenal dengan sebutan kantin “Bonbin” adalah kantin yang terletak diantara Fakultas Ilmu Budaya dan Fakultas Psikologi, kantin ini dikelola oleh Direktorat Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset (DPPA) Universitas Gadjah Mada. Kantin Sosio Humaniora didirikan tahun 1987 oleh Rektor Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri,S.H, pedagang yang berjualan pada kantin Sosio Humaniora ini adalah pedagang yang direlokasi dari kawasan sekitaran UGM.

Pemindahan para pedagang ini ke area Bonbin di tahun 1987 memang dapat dinilai sebagai sebuah keputusan bijak yang dapat mencerminkan betapa dekatnya UGM dengan rakyat kecil. Sehingga tak heran jika universitas ini semakin pantas untuk disebut sebagai kampus kerakyatan saat itu. Namun pada tahun 2016, kepantasan UGM sebagai kampus kerakyaatan harus diuji, sebab dengan semakin berkembangnya pembangunan di area sekitaran kampus maka pihak UGM harus merelokasi kantin Bonbin ini ke tempat lain. Apalagi sampai saat ini, pihak rektorat masih belum mau terbuka mengenai masterplan dari pembangunan UGM, khususnya di kawasan sosio-humaniora tempat bonbin berada. Pihak rektorat (dalam hal ini DPPA) malah mengatakan bahwa UGM memerlukan sebuah ruang untuk membangun gardu listrik di wilayah bonbin saat ini.

Menurut rencana, para pedagang Bonbin akan direlokasi ke wilayah kantin Pujale (Pusat Jajanan Lembah). Namun melihat kondisi wilayah Pujale yang begitu mengkhawatirkan (pengunjung yang sedikit, tempat yang tidak strategis, kebersihan yang tidak terjaga, dll) membuat para pedagang pun enggan untuk pindah.

Bonbin yang rencananya akan digusur oleh rektorat memiliki kontribusi yang besar. Kontribusi tersebut antara lain tersedianya berbagai macam makanan dan minuman dengan harga yang relatif lebih murah dengan alasan itu pula banyak mahasiswa dari klaster soshum datang ke Bonbin untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan adanya banyak pengunjung dari berbagai fakultas di klaster Soshum, maka Bonbin juga memiliki kontribusi sebagai tempat berkumpul mahasiswa klaster Soshum. Taman Soshum juga punya kontribusi sebagai tempat berkumpul namun hingga sekarang kontribusi dari taman Soshum belum begitu terasa. Hal tersebut diakibatkan karena pembangunan dari taman Soshum yang tidak jelas dan tidak transparan. Bahkan hingga saat artikel ini ditulis taman soshum masih dalam tahap perombakan.

Jika benar pihak Rektorat akan menggusur Bonbin maka berbagai dampak pun akan muncul. Yang pertama adalah nasib pedagang Bonbin itu sendiri. Seluruh pedagang Bonbin menggantungkan kehidupan mereka pada mata pencahariannya sebagai pedagang, sehingga ketika mereka kehilangan pekerjaan utama mereka maka kebutuhan dari keluarga para pedagang tidak dapat mereka penuhi. Dampak yang tak kalah penting dari penggusuran Bonbin adalah fungsi Bonbin itu sendiri akan hilang. Seperti yang dikemukakan di atas, Bonbin memiliki banyak kontribusi jika Bonbin digusur maka fungsi Bonbin akan hilang. Sementara taman Soshum yang memiliki fungsi yang sama seperti Bonbin, yaitu sebagai tempat berkumpulnya mahasiswa klaster soshum, hingga sekarang masih belum menemui kejelasan.

Melihat rencana Rektorat yang akan menggusur pedagang Bonbin ke Pujale, kita juga harus melihat kondisi pedagang yang ada di Pujale. Seperti yang kita ketahui kondisi Pujale sangatlah memprihatinkan. Pujale sepi dari pembeli baik di waktu makan siang maupun di waktu lainnya. Kondisi tersebut disebabkan karena banyak faktor salah satunya fasilitas yang tidak memadai serta lokasi yang kurang strategis.

Dengan berbagai pertimbangan di atas seharusnya kita dapat menyimpulkan bahwa pihak Rektorat tidak terlalu memperhatikan kepentingan ekonomi pedagang, baik pedagang Bonbin maupun pedagang Pujale. Berikut kami lampirkan data mengenai pendapatan serta pengeluaran dari masing-masing pedagang Bonbin dan Pujale. Dapat dilihat pada tabel 1, hampir semua pedagang Bonbin mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka masing-masing yang dibuktikan dengan masih adanya sisa pendapatan setelah konsumsi. Hanya terdapat dua pedagang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan pendapatan yang mereka dapatkan dari kegiatan berdagang dan pendapatan anggota keluarga lain, sehingga mereka harus “menambal” kekurangan ini dengan sumber pendanaan lain seperti hutang. Adanya selisih pendapatan yang positif juga dapat membuktikan jika para pedagang dapat melakukan saving. Ketika para pedagang dapat memenuhi kebutuhan mereka maka mereka pun dapat memenuhi kesejahteraannya, apalagi ketika mereka mampu untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk tabungan, maka mereka dapat memberi jaminan kesejahteraan untuk masa depan mereka sedikit demi sedikit.

Tabel 1. Informasi Keuangan Pedagang Bonbin (dalam Rupiah)

Sumber: data hasil survey

No Pekerjaan Utama Rata-rata Pendapatan Bersih Hasil Berdagang/Bulan Pendapatan Bersih Anggota Lainnya/Bulan Total Pendapatan/Bulan Total Konsumsi/Bulan Selisih
1 Pedagang 1 4.400.000 4.400.000 1.920.000 2.480.000
2 Pembantu Pedagang 1 600.000 600.000 550.000 50.000
3 Pedagang 2 4.000.000 4.000.000 3.700.000 300.000
4 Pedagang 3 3.000.000 3.000.000 2.800.000 200.000
5 Pembantu Pedagang 2 1.000.000 1.000.000 700.000 300.000
6 Pedagang 4 2.000.000 2.000.000 1.800.000 200.000
7 Pedagang 5 4.500.000 4.500.000 4.200.000 300.000
8 Pedagang 6 3.000.000 100.000 3.100.000 2.700.000 400.000
9 Pedagang 7 1.500.000 1.500.000 1.275.000 225.000
10 Pedagang 8 4.000.000 4.000.000 3.550.000 450.000
11 Pedagang 9 1.000.000 1.000.000 2.100.000 -1.100.000
12 Pedagang 10 5.000.000 5.000.000 3.800.000 1.200.000
13 Pembantu Pedagang 3 800.000 1.000.000 1.800.000 2.100.000 -300.000
14 Pembantu Pedagang 4 1.000.000 1.800.000 2.800.000 2.100.000 700.000
15 Pedagang 11 4.000.000 4.000.000 3.000.000 1.000.000
 Total 39.800.000 2.900.000 42.700.000 36.295.000 6.405.000

Ket: Selisih adalah Total Pendapatan dikurangi Total Pengeluaran

Berbeda dengan kondisi ekonomi pedagang Pujale, kantin tersebut sebenarnya memiliki 24 kios, namun hingga kini hanya terdapat 9 kios saja yang bertahan. Pedagang lain memilih untuk meninggalkan mata pencaharian mereka sebagai pedagang sebab keadaan Pujale yang sepi pengunjung. Pendapatan yang mereka dapatkan dari kegiatan berdagang tidak mampu untuk menopang pengeluaran kebutuhan sehari-hari, sehingga mereka lebih memilih untuk meninggalkan profesi tersebut. Pada tabel 2 di bawah, dapat dilihat hanya terdapat 5 data yang dapat dijangkau penulis, salah satu responden memiliki 3 kios sehingga penulis hanya berhasil menjangkau 7 dari 9 kios yang ada.

Tabel 2. Informasi Keuangan Pedagang Pujale (dalam Rupiah)

Sumber: data hasil survey

No Pekerjaan Utama Rata-rata Pendapatan Bersih Hasil Berdagang/Bulan Pendapatan Bersih Anggota Lainnya/Bulan Total Pendapatan/Bulan Total Konsumsi/Bulan Selisih
1 Pedagang 1 1.500.000 1.500.000 3.810.000 -2.310.000
2 Pedagang 2 1.500.000 2.000.000 3.500.000 3.150.000 350.000
3 Pedagang 3 200.000 200.000 4.580.000 -4.380.000
4 Pedagang 4 1.000.000 1.000.000 5.400.000 -4.400.000
5 Pedagang 5 500.000 2.000.000 2.500.000 4.150.000 -1.650.000
 Total 4.700.000 4.000.000 8.700.000 21.090.000 -12.390.000

 

Mayoritas pendapatan pedagang Pujale tidak mampu menopang kebutuhan konsumsi keluarga mereka. Sehingga mereka harus mencari sumber pendanaan lain, atau bahkan mereka harus menekan angka konsumsi rumah tangga mereka. Kondisi ini tentu berdampak tidak sehat bagi pengeleloaan keuangan keluarga pedagang Pujale. Hanya terdapat satu pedagang, yaitu pedagang 2, yang dapat mengelola keuangan rumah tangganya dengan baik, sehingga kondisi keuangan keluarganya dapat surplus sebesar Rp 350.000,-. Sedangkan pedagang lainnya harus menanggung defisit dengan rentang defisit dari Rp 1.500.000,- hingga Rp 4.400.00,-.

Kedua tabel diatas baru menjelaskan kondisi keuangan dari rumah tangga tiap pedagang Bonbin dan Pujale secara terpisah. Tabel 3 dibawah dapat menjelaskan dampak ekonomi yang timbul jika pedagang Bonbin benar-benar direlokasi ke kantin Pujale. Pendapatan pedagang Bonbin di lokasi saat ini akan menjadi opportunity cost (biaya peluang, adalah biaya yang dikorbankan akibat memilih alternatif solusi lain), sehingga total pendapatan mereka sebesar Rp 39.800.000,- akan hilang dan digantikan dengan pendapatan lain di lokasi baru. Total pendapatan seluruh rumah tangga pedagang Bonbin yang berjumlah Rp 42.700.000,- akan dikurangi pendapatan dari hasil berdagang yaitu sejumlah Rp 39.800.000,- sehingga menyisakan pendapatan sebesar Rp 2.900.000,- saja!

Walaupun pedagang Bonbin akan mendapatkan pendapatan yang lain ketika mereka berjualan di Pujale, namun akan sulit rasanya bagi pedagang tersebut untuk mendapatkan total pendapatan yang setara dengan pendapatan mereka ketika berdagang di area Bonbin, yaitu Rp 39.800.000,-. Apalagi jika melihat total pendapatan bersih pedagang Pujale yang hanya sebesar Rp 4.700.000,- (lihat tabel 2), tidak mungkin bagi pedagang Bonbin untuk mendapatkan pendapatan yang mampu menutupi kebutuhan konsumsi mereka saat ini.

Tabel 3. Dampak Ekonomi Perelokasian Pedagang Bonbin ke Pujale (dalam Rupiah)

Sumber: data hasil survey

Kantin Pendapatan Konsumsi Selisih
Bonbin 2.900.000 36.295.000 (33.395.000)
Pujale 8.700.000 21.090.000 (12.390.000)
Total (45.785.000)

Jika Pujale tidak berbenah diri sehingga konsumen yang datang diasumsikan tetap, kondisi perekonomian pedagang Pujale dan Bonbin akan semakin terpuruk pascarelokasi. Total pendapatan yang masuk ke kantong pedagang hanya berkisar di angka Rp 4.700.000,- dan pendapatan ini harus dibagi ke pedagang Bonbin lainnya yang berjumlah 12 pedagang (belum termasuk karyawan)! Dan akhirnya pun ke-21 pedagang di area Pujale (pedagang Bonbin dan Pujale) nanti harus menanggung defisit sebesar Rp 45.785.000,- dan hal ini akan membuat kesejahteraan para pedagang menurun drastis.

Berdasarkan hasil analisis di atas, kebijakan merelokasi kantin humaniora ke pujale justru dapat menimbulkan masalah baru, yaitu bagaimana kesejahteraan seluruh pedagang di pujale pasca relokasi ini. Mungkin selain meminta keterbukaan terkait masterplan pembangunan UGM, rektorat (dalam hal ini DPPA) perlu menunjukkan rumusan cost and benefit analysis dari kebijakan ini.

Hal lain yang perlu digaris bawahi yaitu seluruh pedagang yang berjualan di Pujale dan Bonbin memiliki pekerjaan utama sebagai pedagang itu sendiri, sehingga akan terasa sulit jika mereka harus mencari profesi lain ketika mereka memilih untuk gulung tikar. Jika langkah yang diambil UGM adalah merelokasi, maka UGM harus memikirkan bagaimana nasib pedagang Bonbin dan Pujale. Sebab, seperti yang telah tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 67 Tahun 2013 tentang Statuta Universitas Gadjah Mada, pada pasal 8 huruf d, disebutkan bahwa UGM merupakan universitas kerakyatan, yaitu universitas yang selalu memperjuangkan kepentingan rakyat dalam rangka mencapai kehidupan yang layak.

Departemen Kajian Strategis

BEM FEB UGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *