Ketika Rupiah Bertekuk Lutut terhadap Dolar

Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM

NOMOR KAJIAN 01/C2/KASTRAT/BEMFEBUGM/III/2015

Fenomena lemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan menarik untuk diikuti. Dalam perdagangan internasional, kurs mata uang dapat dimaknai sebagai perbandingan nilai antar mata uang. Setiap negara pasti menginginkan nilai mata uangnya stabil terhadap mata uang negara lain, tak terkecuali Indonesia. Namun, untuk mencapai hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan karena kuat atau lemahnya nilai tukar mata uang tidak hanya ditentukan oleh kondisi dan kebijakan ekonomi di dalam negeri, tetapi juga kondisi perekonomian negara lain yang menjadi mitra dagangnya serta kondisi non-ekonomi seperti keamanan dan kondisi politik.

Nilai kurs dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan (EconEdLink). Oleh karena itu, muncullah istilah apresiasi dan depresiasi. Apresiasi adalah menguatnya nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain yang ditentukan oleh mekanisme pasar, sedangkan depresiasi adalah melemahnya nilai mata uang suatu negara terhadap negara lain yang ditentukan oleh mekanisme pasar.

Saat ini, terjadi fenomena kurs rupiah terhadap dolar AS yang sudah sepatutnya kita kaji penyebabnya. Terdepresiasinya nilai rupiah terhadap dolar AS memang bukan hal yang baru dalam sejarah kurs rupiah. Namun, yang membuat fenomenal adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah mencapai 13 ribuan. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, pemerintah telah bekerjasama dengan Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap asing  yang dampaknya akan dapat terlihat langsung maupun tidak. Selain nilai rupiah yang dianggap sudah tidak wajar, kurun waktu melemahnya pun patut diperhatikan.

Berdasarkan tabel di bawah, nilai rupiah  telah terdepresiasi sejak pertengahan tahun lalu walaupun pernah terapresiasi pada bulan Oktober 2014. Setelah itu, rupiah terus melemah hingga pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2015, yang menyentuh angka Rp 13.075,00 per dolarnya.

sumber bank indo                                            Sumber: Bank Indonesia

Penyebab

Adapun penyebab melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor eksternal maupun internal perekonomian. Faktor eksternal yang paling umum diketahui adalah perekonomian AS yang setahun belakangan semakin membaik. Sejumlah indikator memang telah menunjukan hal tersebut. Pertumbuhan ekonomi AS terakhir mencapai 2,5% atau lebih tinggi daripada ekspektasi 2%. Sementara inflasi hanya 1,6%. Bahkan, pada Januari 2015 terjadi deflasi (inflasi negatif), yakni -0,1%. Inflasi di AS dikatakan baik jika tidak lebih dari 2%. Meski sebelumnya AS melakukan kebijakan quantitative easing (mencetak uang untuk dibelikan surat berharga pemerintah AS sendiri), tetapi inflasi AS tidak meningkat karena dolar AS beredar ke seluruh dunia, tidak cuma di AS. Akibatnya, efek inflasinya tidak begitu besar, bahkan hampir tidak ada.

Tingkat pengangguran AS juga menurun dengan tajam hingga level sekarang 5,7%. Memang belum berada pada level ‘normal’ 4%. Namun, kondisi sekarang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan saat krisis subprime mortgage yang memuncak pada 2009-2010. Data penjualan mobil, salah satu indikator untuk mendeteksi tingkat kesehatan perekonomian AS, juga memberi konfrimasi yang sama. Penjualan mobil di AS pada Februari 2015, lebih tinggi hingga 9% jika dibandingkan dengan Februari 2014. Di sepanjang 2014, penjualan mobil mencapai 16,5 juta unit. Hal tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap nilai rupiah saja, tetapi juga terhadap mata uang negara lain sehingga kurs beberapa mata uang negara lain pun ikut terdepresiasi dalam beberapa bulan terakhir.

Perbandingan Nilai Tukar Dolar AS terhadap Sejumlah Mata Uang Asing

Mata Uang

Nilai Tukar

Presentase

2 Januari 2015

10 Maret 2015

Dolar Australia 1,2245 1,30026 -6,37811%
Dolar Hongkong 7,7561 7,7601 -0,05157%
Rupiah Indonesia 12.474 13.059 -4,68975%
Yen Jepang 119,7075 121,0427 -1,11539%
Ringgit Malaysia 3,5059 3,7109 -5,84729%
Dolar Selandia Baru 1,284 1,3703 -6,72118%
Dolar Singapura 1,3239 1,3863 -4,71335%
Won Korea Selatan 1.094,17 1.122,90 -2,62526%
Euro 0,8266 0,9288 -12,3639%

Sumber:Kompas, Edisi 11 Maret 2015, Halaman 1.

Membaiknya perekonomian AS ini dikabarkan juga akan diikuti dengan kebijakan dinaikkannya Fed Fund Rate atau suku bunga oleh bank sentral AS. Rencana kenaikan ini diungkapkan langsung oleh Wakil Ketua Federal Reserve AS, Stanley Fischer, pada tanggal 2 Februari 2015 lalu yang mengatakan bahwa FFR ada kemungkinan untuk dinaikkan antara Juni hingga September walaupun alasan menaikkan suku bunga ini kurang relevan karena tingkat inflasi AS masih rendah bahkan sempat mengalami deflasi sebesar 0,1% pada Januari lalu. Meskipun FFR ini belum dinaikkan, isu ini sudah menimbulkan sentimen pasar yang menganggap lebih menguntungkan menyimpan dolar sehingga nilai tukar dolar AS menguat terhadap mata uang lain.

Suku bunga dan nilai mata uang sendiri memiliki hubungan yang searah, di mana suku bunga suatu negara bila dinaikkan akan menyebabkan nilai mata uang negara tersebut menguat terhadap mata uang negara lain. Hal tersebut dikarenakan kenaikkan suku bunga akan diikuti oleh kenaikan suku bunga pinjaman dan tabungan bank-bank umum atau konvensional. Sebagai ilustrasi, saat ini suku bunga ringgit Malaysia sebesar 3,25% dan peso Filipina sebesar 4%. Kemudian, Bank Sentral Malaysia menaikkan suku bunga sebesar 0,25% sehingga suku bunga ringgit Malaysia menjadi sebesar 3,5%. Asumsikan suku bunga peso Filipina tetap. Kenaikan suku bunga ringgit Malaysia akan menyebabkan investor mengalihkan modalnya ke Malaysia karena ingin memanfaatkan kenaikkan suku bunga tersebut sehingga permintaan terhadap ringgit Malaysia meningkat. Dengan begitu, mata uang ringgit Malaysia akan menguat terhadap mata uang peso Filipina. Jika suku bunga negara lain tidak berubah, nilai tukar ringgit Malaysia pun akan menguat pula terhadap mata uang negara lain. Begitu pula hubungan antara dolar AS dan rupiah. Jika pemerintah tidak segera mengantisipasi naiknya suku bunga dolar AS, jangan tanya sampai tingkat berapa rupiah akan melemah.

balance payment

Sering kali melemahnya nilai rupiah dianggap karena gejolak perekonomian internasional yang sedang tidak menentu. Padahal, kondisi perekonomian nasional turut mempunyai andil dalam pelemahan nilai rupiah ini. Sejak tahun 2012, transakasi berjalan di dalam neraca pembayaran Indonesia terus mengalami defisit. Pada quartal 4 tahun 2014, Current Account mengalami defisit sebesar 6,18 juta dolar AS meskipun angka tersebut mengalami penurunan dari quartal 3 yang mengalami defisit sebesar 6,96 juta dolar AS. Defisit ini seakan-akan belum ditemukan obatnya. Defisit ini sendiri dibiayai oleh cadangan devisa negara. Dengan demikian, apabila defisit transaksi berjalan tidak segera diperbaiki, cadangan devisa Indonesia akan semakin berkurang sehingga nilai rupiah pun akan terus tertekan.

Terlihat jelas dalam tabel tersebut bahwa beberapa pos masih menyumbang defisit di antaranya Primary Income, Services, serta Oil and Gas. Di antara ketiga pos tersebut yang paling besar menyumbang defisit adalah pos Primary Income sebesar 7,16 juta dolar AS, bahkan melebihi defisit neraca transaksi berjalan secara keseluruhan sebesar 6,18 juta dolar AS. Defisit pada pendapatan primer ini mengindikasikan bahwa jumlah capital inflow Indonesia tidak sebanding dengan capital outflownya. Besarnya capital outflow inilah yang harus segera ditangani oleh pemerintah.

 Akibat

Dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar AS juga mulai dirasakan. Mulai dari menaiknya gaji dalam bentuk dolar AS menjadi meningkat, ada jugadampak yang langsung terasa saat kurs rupiah melemah adalah kenaikan harga barang-barang impor. Sebagian besar perdagangan luar negeri Indonesia dijalankan dengan perantaraan dolar AS, sehingga mahalnya dolar AS akan membuat harga barang impor juga makin mahal, semakin memberatkannya hutang negara dan swasta. Selain dampak negatif yang banyak dirasakan karena pelemahan rupiah ini saja juga dampak positifnya dirasakan oleh sektor industri pariwisata karena sebagian besar wisatawan jadi lebih memilih pariwisata domestik.

Secara keseluruhan, dampak melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS ini lebih banyak negatifnya dibandingkan positifnya. Dalam teorinya, depresiasi menjadikan harga produk relatif lebih murah bagi negara lain. Sebagai ilustrasi, 1 dolar AS setara dengan Rp10.000,00 dan 10 butir kelereng berharga Rp10.000,00. Kemudian, rupiah terdepresiasi oleh dolar AS sehingga 1 dolar AS sama dengan Rp11.000,000. Dengan demikian, jika pedagang kelereng di AS mengimpor kelereng, dengan mengeluarkan satu dolar pedagang tersebut dapat memperoleh lebih banyak kelereng. Berdasarkan ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa dengan terdepresiasinya nilai rupiah terdapat peluang harga produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif sehingga dapat meningkatkan pendapatan dari sektor ekspor. Namun kenyataannya, dampak tersebut belum terlalu berpengaruh bagi Indonesia. Nilai ekspor Indonesia sejak terdepresiasinya nilai rupiah terhadap dolar AS belum mengalami peningkatan secara signifikan, bahkan sempat mengalami penurunan pada November 2014 dan Januari 2015.

value of export

Turunnya permintaan harga barang-barang komuditas di pasar internasional disinyalir menjadi penyebab nilai ekspor Indonesia tidak kunjung membaik, terlebih lagi kontribusi sektor produk komuditas Indonesia cukup besar.

Simpulan dan Saran

Melemahnya milai tukar rupiah terhadap mata AS ini di pengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Timbulnya faktor eksternal tersebut dipengaruhi karena semakin kuatnya perekonomian AS sendiri sehingga menimbulkan semakin kuatnya nilai mata uang dolar yang berimbas juga pada perekonomian internasional dan nilai mata uang di Dunia. Dalam hal ini pemerintah seharusnya memberikan kebijakan yang dapat menstabilkan mata uang rupiah lagi. Dengan menaikan suku bunga acuan juga dinilai jurus paling ampuh untuk mengatasi pelemahan rupiah oleh BI. Amerika juga akan menaikkan FFR seiring dengan semakin membaiknya perekonomian Amerika sehingga menyebabkan banyaknya peralihan asset investasi ke Amerika yang lebih dianggap menguntungkan. Selain dari sisi moneter, pemerintah juga dapat melakukan intervenssi dalam bidang fiskal dengan mengurangi defisit anggaran.

Pada dasarnya pelemahan rupiah kali ini cenderung memiliki banyak dampak negatifnya. Meskipun secara teori depresiasi kurs mata uang dapat meningkatkan pendapatan negara di sektor Ekspor, kenyataannya tidak demikian karena harga barang komoditas sedang mengalami penurunan permintaan.

Meskipun faktor dari luar lebih dominan dalam melemahnya kurs rupiah terhadap dolar ini, pemerintah juga harus segera mencari solusi bagaimana mengatasi defisit pada pendapatan primer Indonesia. Besarnya jumlah investor asing sebesar 64% dan 50% dalam menguasai pasar saham dan reksadana di Indonesia harus segera diminimalkan. Pemerintah juga dapat melakukan capital control secara ketat. Capital control dapat diartikan sebagai usaha pemerintah dalam mengendalikan aliran modal, baik yang masuk, maupun keluar.Hal ini perlu dilakukan karena saat ini aliran keluar masuk modal sangat bebas dan lebih banyak digunakan oleh investor asing untuk memanfaatkan keuntungan dari berinvestasi di Indonesia. Namun, seperti apapun kebijakan yang dibuat, harus didukung dengan kapasitas lembaga yang mumpuni.

 

Sumber

EconEdLink. Exchange Rates and Exchange: How Money Affects Trade. Diakses dari: http://www.econedlink.org/lessons/index.php?lid=342&type=student/

One thought on “Ketika Rupiah Bertekuk Lutut terhadap Dolar

  • terjadi penurunan nilai rupiah terhadap dolar tidak sepenuhnya kesalahan dari kita sendiri, banyak faktor external yang mendukung melonjatnya dolar. tetapi sebaiknya pemerintanan indonesia jugaa harus mengoreksi diri bagaimana agar penurunan tidak terlalu besar dan tidak tambah membengkak, dengan menambah kualitas barang yang kita ekspor danlainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *