Kenaikan Harga Pertalite

oleh: Hubaydatul Siddiq Fauzi

Departemen Kajian dan Aksi Strategis

Pendahuluan

Kenaikan harga pertalite yang terjadi 2 kali dalam 4 bulan, yaitu pada tanggal 20 Januari 2018 dimana harga pertalite naik Rp 100,00 membuat harga pertalite yang tadinya dari Rp 7.500,00 per liter menjadi Rp 7.600,00 per liter, serta naik Rp 200,00 pada tanggal 24 Maret 2018 membuat harga pertalite naik dari Rp 7.600,00 menjadi Rp 7.800,00 merupakan suatu kebijakan kontroversial yang patut kita ulas.

Pertalite dan Tingkat Konsumsinya

Perpres no. 191 tahun 2014 menyatakan bahwa BBM memiliki 3 jenis yaitu:

  • Bahan Bakar Minyak Tertentu

Bahan bakar minyak yang disubsidi oleh pemerintah.

  • Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan

Bahan bakar minyak yang didistribusikan di wilayah penugasan dan tidak di subsidi oleh pemerintah namun kuota volumenya diatur oleh BPH migas.

  • Bahan Bakar Minyak Umum

Bahan Bakar Minyak yang tidak disubsidi.

Pada pasal 3 ayat 1,2 dan 4. Perpres No. 191 tahun 2014 juga menyatakan bahwa, BBM Tertentu terdiri dari Minyak Tanah (Kerosene) dan Minyak Solar (Gas Oil) sedangkan BBM Khusus Penugasan terdiri dari jenis bensin yang memiliki RON 88 (premium) dan untuk jenis bahan bakar yang tidak termasuk pada kriteria jenis BBM Tertentu dan BBM Khusus Penugasan termasuk BBM Umum yang didalamnya termasuk pertamax, pertamina dex, dan pertalite.

Apakah itu pertalite?, pertalite adalah bahan bakar gasoline yang memiliki RON 90 yang diluncurkan oleh pertamina pada tanggal 24 Juli 2015 untuk berlahan lahan menggantikan premium yang memiliki RON 88. Rencana peluncuran pertalite tidak hanya untuk mentransisikan masyarakat dari penggunaan premium ke pertalite namun juga memperkenalkan jenis bahan bakar baru yang lebih berkualitas dan ramah lingkungan kepada masyarakat. Pada prakteknya peluncuran pertalite sukses menggeserkan penggunaan premium ke pertalite dan menjadikan pertalite sebagai bahan bakar yang banyak dipakai oleh masyarakat. Dengan bukti:

Sebuah laporan konsumsi BBM nasional oleh BPH migas

Grafik Konsumsi BBM Nasional per Tahun 2006 – 2017.

source: http://www.bphmigas.go.id/konsumsi-bbm-nasional

Catatan:

  • Data JBKP Data Januari – September 2017 Hasil Verifikasi
  • Data JBKP Data Oktober – Desember Hasil Laporan Badan Usaha (Belum Diverifikasi)
  • Data JBT Data Januari – November 2017 Hasil Verifikasi
  • Data JBT Data Desember Hasil Laporan Badan Usaha (Belum Diverifikasi)
  • Data JBU Data Januari – September 2017 Hasil Laporan Badan Usaha

 

Dimana terlihat pada tahun 2015 sampai bulan November 2017 trend konsumsi BBM Khusus Penugasan atau premium cenderung menurun sedangkan trend BBM Umum dari tahun 2015 sampai akhir 2016 menaik. Berdasarkan hal itu maka terlihat terjadi pergeseran pengunaan BBM Khusus Penugasan ke BBM Umum, walau seperti yang kita ketahui bahwasannya BBM Umum tidak hanya pertalite saja namun pertalite adalah yang termurah diantara ketiganya sehingga dengan asumsi bahwasannya pertalite adalah normal goods maka dapat dikatakan mayoritas dari konsumsi BBM Umum adalah pertalite.

Menurunnya tingkat konsumsi premium disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah karena BBM premium sudah termasuk BBM Khusus Penugasan dimana tugas untuk mendistribusikan dan menjual premium diserahkan kepada Pertamina, sebagaimana bunyi perpres no. 191 tahun 2014 pasal 19 ayat 1 yang berbunyi “Untuk pertama kali, penugasan penyediaan dan pendistribusian Jenis BBM Khusus Penugasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, untuk tahun 2015 diberikan kepada PT Pertamina (Persero)”. Dalam kasus tersebut pertamina terlihat  membatasi-membatasi penyaluran BBM Khusus Penugasan dengan bukti bahwasannya terdapat beberapa laporan yang menyatakan kelangkaan BBM Khusus Penugasan atau premium pada berbagai daerah padahal berdasarkan Surat Keputusan BPH Migas Nomor 41/P3JBPKP/BPH Migas/Kom/2017 menyatakan bahwa kuota BBM premium untuk tahun 2018 adalah sebesar 7,5 miliar liter.

Menurunnya tingkat konsumsi premium disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah karena BBM premium sudah termasuk BBM Khusus Penugasan dimana tugas untuk mendistribusikan dan menjual premium diserahkan kepada Pertamina, sebagaimana bunyi perpres no. 191 tahun 2014 pasal 19 ayat 1 yang berbunyi “Untuk pertama kali, penugasan penyediaan dan pendistribusian Jenis BBM Khusus Penugasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, untuk tahun 2015 diberikan kepada PT Pertamina (Persero)”. Dalam kasus tersebut pertamina terlihat  membatasi-membatasi penyaluran BBM Khusus Penugasan dengan bukti bahwasannya terdapat beberapa laporan yang menyatakan kelangkaan BBM Khusus Penugasan atau premium pada berbagai daerah padahal berdasarkan Surat Keputusan BPH Migas Nomor 41/P3JBPKP/BPH Migas/Kom/2017 menyatakan bahwa kuota BBM premium untuk tahun 2018 adalah sebesar 7,5 miliar liter.

Mari kita ulas benarkah tindakan Pertamina untuk menaikkan harga pertalite?. Pertama, perlu kita ketahui bahwa penentuan harga BBM ditentukan oleh dua faktor, yaitu, nilai mata uang dan harga minyak dunia.

Nilai Mata Uang

Source: http://kursdollar.net/grafik/USD/.

Nilai mata uang indonesia terhadap Dollar dalam 3 bulan terakhir telah mengalami kenaikan yang signifikan, tercatat pada tanggal 29 Januari 2018, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interspot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar Rupiah terletak pada Rp 13.327,00 per dollar AS lalu pada tanggal 6 April 2018, berdasarkan kurs referensi Jisdor, terletak pada Rp 13.771,00. Terjadi kenaikan sebesar 3 persen dalam kurun waktu 2 bulan. Hal ini terjadi dikarenakan oleh beberapa hal, yaitu

Amerika Serikat telah membuat kebijakan-kebijakan perdagangan yang unilateral dan bersifat konservatisme seperti kebijakan mengambil tarif terhadap impor baja dan alumunium, dan juga menerapkan tarif impor kepada China terkait berbagai komoditas yang total tarif nya sebesar 50 triliun dollar sehingga mendorong retaliasi dari negara-negara lain terutama China untuk menutupi kerugian dari tarif impor yang ditetapkan oleh Amerika Serikat. Semua hal itu menyebabkan ketidakjelasan alur perdagangan internasional yang berimbas pada pelemahan beberapa nilai mata uang dunia termasuk Indonesia.

Lalu juga, pernyataan dari The Federal Reserve (the fed), bank sentral Amerika, yang menyatakan bahwa prospek ekonomi di Amerika kedepannya akan baik dan melebihi perkiraan. Dengan target inflasi Amerika Serikat sebesar 2 persen untuk beberapa tahun kedepannya maka ditakutkan apabila ekonomi akan dibiarkan akan membuat inflasi melebihi targetnya, sehingga Jerome Powell, Chairman of The Fed, mengatakan akan menaikan federal fund rate (FFR) secara berkala. Bahkan laman berita dari Financial Times menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya kenaikan FFR sebanyak 3 kali dalam setahun sebesar 50 persen. Dengan pernyataan itu maka investor-investor asing pun menjadi lebih terdorong untuk menarik loanable fund nya dari investment dan pindah ke saving karena dengan asumsi bahwa saving lebih menguntungkan akibat kenaikan FFR. Karena hal itu supply dollar di berbagai dunia termasuk Indonesia pun berkurang sehingga nilai tukar mata uang diberbagai dunia termasuk rupiah terhadap dollar pun melemah.

Harga Minyak Dunia

Grafik Harga Minyak Mentah Dunia

Source: Hargaminyak.net

 

Naik turunnya harga minyak dunia sekarang dipegang oleh dua penguasa. Pertama, adalah dari aliansi OPEC-Russia yang dibentuk pada awal 2017 dan akan diperpanjang pada tahun 2018 untuk 10 – 20 tahun kedepan. Kedua, adalah Amerika Serikat yang dahulu merupakan negara pengimpor sekarang menjadi negara dengan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia berkat Shale Revolution dimana terdapat suatu penemuan bahwasannya minyak dapat di ekstrak dari batu shale. Bahkan sekarang berdasarkan laporan dari theguardian cadangan minyak Amerika Serikat merupakan yang tertinggi dengan 264 triliun barrel cadangan minyak,  disusul oleh Russia dengan cadangan minyak sebanyak 256 triliun barrel dan Arab Saudi dengan cadangan minyak sebanyak 212 triliun barrel. Shale shock!.

Pada tahun 2017 bulan Januari OPEC dan Russia menyepakati suatu aliansi jangka pendek sampai tahun 2018 untuk membatasi produksi minyak mentah untuk meningkatkan harga minyak dunia dimana pada tahun 2018 diperkirakan akan diperpanjang sampai 10-20 tahun kedepan. Perjanjian tersebut pun sukses memberikan sentimen positif terhadap harga minyak dunia dengan tercatat bahwa pada tahun 2016 kisaran harga minyak dunia berada pada 45 USD/barrel dan pada tahun 2017 kisaran tersebut bertambah menjadi 59 USD/barrel dengan  trend harga minyak pada akhir 2017 cenderung naik. Harus disebut bahwa trend kenaikan harga minyak tersebut telah ditekan oleh produksi minyak Amerika Serikat dengan Shale oil nya. Namun, pada dasarnya kuasa cadangan minyak dunia dan rasio produksi minyak dunia lebih besar aliansi OPEC-Russia ketimbang Amerika Serikat, Sehingga trend kenaikan pun tetap terjadi. Tetapi terdapat laporan dari CNN dan beberapa media pada tanggal 3 April 2018 menyatakan bahwa Russia akan menambah produksi minyaknya dan Arab Saudi diekspektasikan akan memangkas harga minyak setengah harga kepada pelanggan asianya. Sehingga harga minyak kedepannya susah untuk diprediksi.

Kesimpulan

Berdasarkan dua faktor yang diulas diatas kita mendapatkan beberapa informasi, yaitu nilai mata uang rupiah diperkirakan akan terus melemah dalam kurun beberapa waktu dan harga minyak dunia susah untuk diprediksi saat ini, terutama terkait laporan beberapa media tentang Russia yang akan menambah produksi minyaknya dan ekspektasi bahwasannya Arab Saudi akan memberi harga setengah kepada pelanggan asianya di tengah sedang terciptanya aliansi jangka panjang antara OPEC-Russia, namun setidaknya aman memprediksi bahwasannya dalam waktu dekat ini harga minyak dunia akan turun.

 Inflasi

 

Source: http://bps.go.id/

Inflasi, apabila berdasarkan dari website Bank indonesia, dapat diartikan sebagai suatu kenaikan harga barang pada umumnya dan secara terus-menerus. Sehingga kenaikan harga satu atau dua barang tidak bisa disebut sebagai inflasi. Para ekonom biasanya melihat indikasi inflasi berdasarkan dua hal, yaitu, Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Produk Domestik Bruto (PDB). Diantara dua itu yang paling sering digunakan sebagai indikator inflasi adalah IHK karena lebih menggambarkan biaya yang dibeli oleh konsumen. Dalam penentuan IHK terdapat beberapa basket atau keranjang yang merupakan suatu barang atau jasa yang umum di konsumsi atau digunakan oleh masyarakat. Pada perhitungan IHK di Indonesia data harga konsumen diperoleh dari 82 kota, mencakup antara 225 sampai 462 barang dan jasa yang dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok pengeluaran yaitu:

  1. Bahan makanan
  2. Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau
  3. Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar
  4. Sandang
  5. Kesehatan
  6. Pendidikan, rekreasi dan olah raga
  7. Serta transpor, komunikasi dan jasa keuangan.

Setiap kelompok terdiri dari beberapa sub kelompok, dan dalam setiap sub kelompok terdapat beberapa komoditas. Lebih jauh, komoditas-komoditas tersebut memiliki beberapa kualitas atau spesifikasi. (BPS, metodologi inflasi). Sehingga variabel-variable yang memiliki andil dalam inflasi begitu banyak. Salah satu variabel yang memiliki andil terhadap inflasi adalah harga BBM. Namun, bagaimanakah signifikansi kenaikan harga BBM non-subsidi pada tanggal 24 Maret 2018 terhadap inflasi?. Untuk menjawab itu mari kita lihat pada laporan dari Bank Indonesia pada tanggal 1 Maret 2018 yang menyatakan bahwa:

  • Inflasi bulan Maret tercatat 0.20 persen (mtm), sedikit meningkat dibandingkan inflasi bulan Februari yang tercatat 0.17 persen (mtm). Namun tetap terkendali dalam kisaran sasaran.

 

Meningkatnya inflasi bulan Maret dipengaruhi oleh:

  1. inflasi administered price, inflasi harga barang/ jasa yang dimana inflasi tersebut disebabkan oleh perkembangan harga yang diatur oleh pemerintah.
  2. inflasi volatile goods/foods, inflasi barang/jasa yang harganya berkembang dengan sangat bergejolak, berdasarkan tahun 2002 inflasi volatile goods masih didominasi bahan makanan, sehingga sering juga disebut volatile foods.
  3. inflasi inti, inflasi IHK setelah mengeluarkan volatile foods dan administered prices.
  • Inflasi Inti

Inflasi inti pada bulan Maret 2018 tercatat sebesar 0.19 persen (mtm) lebih rendah dibandingkan bulan Februari, 0.26 persen (mtm).

  • Inflasi Volatile Foods

Inflasi volatile foods tercatat pada bulan Maret 2018 sebesar 0.15 persen (mtm) lebih tinggi dibandingkan bulan lalu yang tercatat pada 0.10 persen (mtm). Hal ini bersumber dari naiknya harga cabai merah, bawang putih, bawang merah, dan cabai rawit.

  • Inflasi Administered Prices

Inflasi adminstered prices pada Maret 2018 tercatat sebesar 0.20 persen(mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yaitu 0,07 persen(mtm). yang terjadi karena inflasi didorong oleh kenaikan harga BBM non-subsidi ditengah bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi.

Berdasarkan laporan tersebut, kenaikan harga BBM non subsidi dan kenaikan harga bahan pokok adalah andil dari meningkatnya inflasi bulan Maret 2018. Namun, perlu diperhatikan bahwa kenaikan harga BBM non subsidi menyebabkan inflasi administered price menjadi lebih tinggi dengan selisih 0.13 persen lebih tinggi ketimbang dampak kenaikan harga bahan pokok yang memiliki selisih sebesar 0.05 persen. Sehingga dampak terhadap kenaikan harga BBM terhadap Inflasi bulan Maret 2018 cukup signifikan dan perlu diketahui juga bahwa dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap inflasi secara menyeluruh belum lah terlihat dikarenakan kenaikan BBM non-subsidi terjadi pada 24 Maret 2018, 7 hari sebelum pendataan inflasi oleh BPS.

Walau Bank Indonesia menyatakan inflasi bulan Maret aman dan terkendali, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi memiliki dampak yang besar terhadap inflasi untuk kedepannya. Mengingat waktu untuk bulan Ramadhan dan Lebaran semakin dekat, dan juga musim liburan sekolah yang semakin mendekat. Dan mengingat berdasarkan laporan BI bahwa inflasi pada bulan Januari 2018 – bulan libur sekolah dan awal tahun baru sehingga harga lumayan tinggi –  sebesar 0.62 persen dengan harga BBM non-subsidi belum dinaikkan dua kali. Maka ditakutkan kenaikan BBM non-subsidi yang telah mengalami kenaikan dua kali menyebabkan inflasi pada awal bulan Ramadhan dan lebaran, dan juga inflasi pada libur sekolah menjadi lebih tinggi.

Pendapat

Berdasarkan ulasan terkait inflasi dan juga faktor penyebab kenaikan harga BBM kami Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UGM berpendapat yaitu:

  1. Terkait kenaikan harga pertalite

Dengan hasil penelitian kami terkait harga minyak dunia, kami menemukan bahwa harga minyak dunia sejak bulan Januari 2018 sampai April 2018 telah konsisten berada di kisaran 66 usd/barrel berdasarkan hal itu terkait faktor harga minyak dunia terhadap penentuan harga pertalite sudah di antisipasikan oleh Pertamina dengan menaikkan harga minyak sebesar Rp 100,00 pada tanggal 20 Januari 2018. Namun sejak Januari 2018 sampai April 2018 nilai tukar rupiah melemah secara signifikan, dan diperkirakan akan bertahan dalam beberapa kurun waktu, maka kenaikian harga pertalite sebesar Rp 200 pada tanggal 24 Maret 2018 oleh Pertamina merupakan tindakan yang tepat.

  1. Terkait inflasi dan solusi

Dengan banyaknya laporan langkanya premium dan terjadinya kenaikan harga BBM pertalite sehingga menyebabkan inflasi, maka kami berpendapat agar pemerintah mengingatkan PT Pertamina untuk mendistribusikan BBM Khusus Penugasan tanpa membatas-batasi. Kami juga meminta untuk pemerintah menaikkan harga premium sehingga Pertamina pun tidak enggan untuk menjual premium yang margin keuntungannya lebih kecil ketimbang pertalite dan pertamax. Hal ini tidak akan memicu inflasi lebih lanjut mengingat bahwasannya pada tahun 2018 bulan Februari tingkat inflasi berada pada 0,17% pada saat ketergantungan masyarakat terhadap pertalite tinggi dengan harga Rp 7.600,00. Sehingga apa bila harga premium dinaikkan namun masih dibawah harga pertalite tidak akan terjadi inflasi, dikarenakan biaya yang dikeluarkan untuk premium masih dibawah biaya yang dikeluarkan untuk pertalite. Dengan dinaikkannya harga premium, Pertamina pun akan lebih terdorong untuk mendistribusikan bahan bakar jenis premium tersebut dan akan membuat premium termasuk dalam pilihan opsi masyarakat terkait konsumsi bahan bakar minyak sehingga ketergantungan masyarakat terhadap pertalite berkurang yang menyebabkan sensitifitas terhadap kenaikan harga pertalite terhadap inflasi pun berkurang.

  1. Persiapkan Rencana yang Matang Untuk Mengantisipasi dari Kebijakan-kebijakan Perang Dagang China – Amerika Serikat

Pemerintah dan Bank Indonesia diingatkan untuk terus memantau perkembangan dari perang dagang antara China – Amerika Serikat dan juga melakukan kajian terhadap dampak-dampak dari kebijakan masing-masing negara terhadap perdagangan Indonesia. Mengkaji Threat and opportunities kebijakan-kebijakan tersebut dan melakukan antisipasi. Sehingga perekonomian Indonesia tidak melesu dan dampaknya terhadap perdagangan Indonesia dapat diminimalisir.

Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *