JALAN TERJAL MENUJU TARGET 20 JUTA WISATAWAN MANCANEGARA

Penulis : Muh. Shofwat syauqi (staff Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM)

Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor andalan pemerintah di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Sektor pariwisata melalui kunjungan wisatawan mancanegara diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan cadangan devisa negara. Dalam mewujudkan hal tersebut pemerintah berupaya menggenjot jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dicapai melalui pembenahan sektor pariwisata dan permudahan perizinan wisatawan (visa) diharapkan mampu membuat wisatawan semakin betah untuk tinggal. Dengan semakin betahnya wisatawan untuk tinggal, tentu akan berdampak pada perpanjangan waktu menginap. Dengan semakin lama waktu menginap tentu pengeluaran wisatawan akan naik. Sebagai gambaran saat ini rata-rata wisatawan mancanegara menghabiskan 7,6 hari kunjungan dengan rata-rata pengeluaran tiap wisatawan sebesar US $ 1.200.

Keseriusan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata dapat dilihat melalui target 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019. Pemerintah menekankan kembali bahwa pariwisata menjadi sektor andalan disaat krisis terjadi sehingga perlu adanya pembenahan sektor ini dari hulu hingga hilir. Sebenarnya, pemerintah telah sejak lama melakukan diversifikasi sektor pariwisata menjadi pariwisata berbasis kekayaan alam, keanekaragaman seni dan budaya, sejarah, fashion, bisnis, belanja, kuliner, dan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition). Dengan diversifikasi sektor pariwisata pemerintah berharap dapat menjaring wisatawan mancanegara dari berbagai kalangan.

Pembenahan pariwisata melalui pengembangan atraksi wisata lama dan pembukaan atraksi baru telah dilakukan pemerintah di basis-basis sektor pariwisata. Pengembangan dan pembukaan dilakukan untuk menarik wisatawan mancanegara baru dan memancing kedatangan wisatawan mancanegara lama agar tidak bosan dengan atraksi wisata yang sudah ada. Pemerintah turut membangun berbagai fasilitas meeting berskala internasional agar jasa MICE lokal mampu bersaing di skala global. Selain pembenahan atraksi pariwisata, manajerial dan pengelolaan pariwisata pun tak ketinggalan untuk mulai ditata. Ditambah dengan semakin gencarnya promosi pariwisata yang dilakukan pemerintah ke berbagai negara diharapkan program-program tersebut mampu berkontribusi dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.

Kebijakan pemerintah terbaru terkait sektor pariwisata berupa Bebas Visa Kunjungan (BVK) diharapkan memberikan respon positif terhadap kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara. Kebijakan ini diteken Presiden Joko Widodo pada 18 September 2015 melalui Perpres No. 104/2015 tentang Perubahan Atas Perpres No 69/2015 tentang Bebas Visa Kunjungan. Kebijakan bebas visa tersebut berlaku untuk 45 negara sehingga total sampai saat ini terdapat 90 negara bebas visa.

Realisasinya pada Januari-September jumlah kunjungan wisatawan asing mencapai 7,1 juta orang, naik sebesar 3,53% dibandingkan periode sebelumnya pada tahun 2014. Pertumbuhan wisatawan pada bulan September 2015 naik 9,84% dibanding pada September 2014. Namun, Beberapa daerah tujuan wisata juga mengalami penurunan jumlah wisatawan asing karena berbagai hal seperti bencana alam. Pada September 2015 daerah di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan sebagai daerah terdampak kabut asap mengalami penurunan kunjungan. Pada pintu masuk kedatangan bandara Kuala Namu wisatawan mancanegara turun sebesar 9,9%; Hang Nadim turun 12,97%; Syarif Kasim II turun 29,58%; Tanjung Pinang turun 10,65%; Tanjung Uban Bintan turun 28,82%; Tanjung Balai Karimun turun 8,45 %.

Memang pada periode Januari-September tahun ini tren pertumbuhan wisatawan berada pada tren positif tetapi kunjungan wisatawan mancanegara diprediksi akan mengalami penurunan pada Oktober-November. Prediksi penurunan tersebut disebabkan oleh letusan Gunung Barujari yang berdampak terhadap kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dan Lombok, mengingat kedua daerah tersebut merupakan daerah wisata utama Indonesia. Terlebih, letusan gunung berdampak langsung terhadap penutupan bandara. Beberapa kali bandara Ngurah Rai dan Bandara Internasional Lombok mengalami penutupan. Padahal kedua bandara ini menjadi pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Indonesia. Tentu, di periode akhir 2015 ini pemerintah harus bekerja keras dalam mencapai target 10 juta wisatawan mancanegara.

Dalam mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019, pemerintah harus meningkatkan kunjungan wisatawan asing dengan persentase kenaikan minimal sebesar 15%-16% setiap tahunnya terhitung sejak tahun 2015. Dengan pertumbuhan sebesar 15,5% pertahun dengan asumsi 10 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2015, wisatawan pada tahun 2016 akan mencapai 11,55 juta; 13,34 juta pada tahun 2017; 15,41 juta pada tahun 2018, dan 20,55 juta pada tahun 2019.

Dalam mencapai target tersebut pemerintah harus bekerja keras, apalagi sejak tahun 2011 pertumbuhan wisatawan asing tidak pernah mencapai 2 digit. Thailand dan Malaysia sebagai sesama negara tujuan wisata di regional ASEAN telah sejak lama mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara. Malaysia telah mencapai target 20 juta wisatawan pada tahun 2007, sedangkan Thailand mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2012. Malaysia membutuhkan waktu 4 tahun untuk mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara. Kurang lebih Thailand membutuhkan waktu 9 tahun untuk mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara.

 

Tahun Jumlah Kedatangan Turis Mancanegara
Indonesia Malaysia Thailand
2000 5,064 10,22 9,58
2001 5,153 12,78 10,13
2002 5,033 13,29 10,87
2003 4,467 10,58 10,08
2004 5,321 15,70 11,74
2005 5,002 16,43 11,57
2006 4,871 17,55 13,82
2007 5,505 20,97 14,46
2008 6,234 22,05 14,58
2009 6,323 23,65 14,15
2010 7,003 24,58 15,94
2011 7,649 24,71 19,23
2012 8,044 25,03 22,35
2013 8,802 25,72 26,55
2014 9,435 27,44 24,78

Sumber: BPS, Thaiwebsite.com, and Corporate.tourism.gov.my

Pemerintah harus berbenah tidak hanya di sektor pariwisata saja namun sektor-sektor terkait kepariwisataan. Keamanan menjadi faktor penting dalam menarik wisatawan. Dari tabel diatas Indonesia sempat mengalami pertumbuhan wisatawan negatif. Pada tahun 2002 pertumbuhan wisatawan negatif disebabkan karena tragedi pemboman di Bali, padahal Bali merupakan tujuan utama pariwisata Internasional di Indonesia. Beberapa negara sempat mengeluarkan travel warning atau himbauan larangan berkunjung ke Indonesia. Penurunan wisatawan masih berlanjut pada tahun 2003. Penurunan disinyalir juga terkait isu keamanan, bahkan pada tahun tersebut terjadi tragedi bom untuk kedua kalinya terjadi di ibukota, tepatnya di Hotel J.W Marriott Jakarta.

Pada tahun 2005 dan 2006 jumlah wisatawan mancanegara juga mengalami penurunan. Hal ini disebabkan pada akhir tahun 2005 terjadi tragedi bom di Bali untuk yang kedua kali, peristiwa ini dikenal dengan Bom Bali II. Selain itu, penyebab turunnya wisatawan asing pada tahun 2005 dikarenakan pada akhir tahun 2004 tragedi Tsunami menimpa Indonesia. Tsunami sendiri memakan korban puluhan ribu jiwa. Tragedi tersebut sebenarnya telah menunjukkan bahwa sistem mitigasi bencana di Indonesia masih lemah sehingga secara tidak langsung memberikan warning kepada wisatawan mancanegara terhadap keseriusan mitigasi bencana di Indonesia. Apalagi tempat-tempat wisata internasional di Indonesia terletak di lempengan rawan gempa khususnya Bali dan Lombok.

Kendala lain terkait dengan pencapaian target 20 juta wisatawan asing adalah masalah infrastruktur. Infrastruktur berperan besar terhadap isu konektivitas dan aksesibilitas. Semakin baik infrastruktur sebuah negara, semakin mudah dijangkau suatu tempat dengan tempat lain. Dengan konektivitas yang baik, wisatawan dapat melakukan mobilitas dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain dengan lebih mudah. Sebenarnya, melihat kondisi saat ini infrastruktur khususnya jalan bebas hambatan dan penyediaan transportasi masal yang baik menjadi penting. Bandara sebagai pintu masuk utama ke Indonesia berperan penting dalam menyambut kedatangan wisatawan mancanegara.

Kondisi saat ini beberapa bandara mengalami overcapacity padahal setiap tahunnya pertumbuhan penumpang domestik selalu naik secara signifikan, apalagi ditambah dengan target kenaikan wisatawan mancanegara sampai 20 juta pada tahun 2019. Tentu diperlukan peningkatan kuantitas kapasitas penumpang bandara. Sebenarnya, pemerintah telah merespon hal tersebut dengan proyek perluasan beberapa bandara utama seperti bandara Soekarno-Hatta, Juanda, Ngurah Rai dan membuka bandara internasional baru seperti Kuala Namu dan Bandara Internasional Lombok. Proyek perluasan sebuah bandara cukup memakan waktu karena tentu membutuhkan waktu pengerjaan beberapa bulan bahkan tahun. Bahkan, beberapa proyek perluasan bandara yang telah selesai pengerjaannya seperti Terminal 2 bandara Juanda ternyata belum mampu mengatasi overcapacity penumpang.

Target 20 juta wisatawan asing tentu merupakan sebuah pekerjaan berat mengingat persaingan dunia pariwisata sangat ketat. Persaingan atraksi-atraksi pariwisata tidak hanya dalam lingkup lokal saja namun telah merambah ke dalam lingkup global. Apalagi, wisatawan selalu mencari hal-hal baru dan menarik. Faktor eksternal lain terkait sektor pariwisata seperti keamanan, budaya masyarakat, dan kenyamanan turut memainkan psikologis calon wisatawan. Bukan sebuah kemustahilan dalam mencapai target tersebut, apabila pembenahan pariwisata dilakukan dengan diikuti pembenahan infrastruktur, keamanan, politik, dan menggencarkan promosi.

 

Daftar Pustaka :

Badan Pusat Statistik. (2015, Februari 2). Jumlah Wisatawan Mancanegara Selama Tahun 2014 Mencapai 9,44 Juta Kunjungan, Naik 7,19 Persen Dibanding Kunjungan Selama Tahun 2013. Diakses pada November 10, 2015 dari http://www.bps.go.id/brs/view/id/1104

Badan Pusat Statistik. (2015, November 2). Wisman September 2015 Mencapai 869,2 Ribu. Naik 9,84% dibanding September 2014. Diakses pada November 10, 2015 dari http://www.bps.go.id/brs/view/id/1192

Thaiwebsite.com. (2015, Agustus 20). Tourism Statistics Thailand 2000-2014. Diakses pada November 11, 2015 dari http://www.thaiwebsites.com/tourism.asp

Tourism Malaysia. (n.d). Tourist Arrivals and Receipts to Malaysia. Diakses pada November 11, 2015 http://corporate.tourism.gov.my/research.asp?page=facts_figures

CNN Indonesia. (2015, November 2). Kunjungan Turis Asing ke Sumatera Anjlok Akibat Kabut Asap. Diakses pada November 11, 2015 dari http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20151102131036-92-88882/kunjungan-turis-asing-ke-sumatera-anjlok-akibat-kabut-asap/

Vivanews. (2015, November 2). Akibat Kabut Asap, Kunjungan Wisman ke Kalimantan Berkurang. Diakses November 12, 2015 dari http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/694432-akibat-kabut-asap–kunjungan-wisman-ke-kalimantan-berkurang

World Travel & Toursim Council. (n.d) Travel & Toursim Economic Impact 2015 Indonesia. Diakses pada November 12, 2015 dari http://www.wttc.org/-/media/files/reports/economic%20impact%20research/countries%202015/indonesia2015.pdf

Wall Street Journal. (2015, Juni 1). Indonesia’s Toursim Industry. Diakses pada November 13, 2015 dari www.wsj.com/briefly/BL-263B-4788

KOMPAS.com. (2015, November 4). Erupsi Gunung Barujari, Bandara Internasional Lombok Ditutup. Diakses pada November 13, 2015 dari www.regional.kompas.com/read/2015/11/04/18510771/Erupsi.Gunung.Barujari.Bandara.Internasional.Lombok.Tutup

Tribun Pontianak.com. (2015, November 12 2015). Gunung Barujari Meletus, Bandara Lombok Dibuka Setelah Sepekan Lebih Ditutup. Diakses pada November 12, 2015 dari www.pontianak.tribunnwes.com/2015/11/12/gunung-barujari-meletus-bandara-lombok-dibuka-setelah-sepekan-lebih-ditutup

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *