Hargai Cabai Masih Mahal?

Oleh: Ajeng Dianingtyas Putri

Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM

 

Overview Cabai

Cabai rawit merupakan salah satu tanaman hortikultura maupun sayuran yang tingkat konsumsinya cukup banyak, utamanya di Indonesia. Dari Januari sampai Maret ini, hargai cabai, khususnya cabai rawit mengalami kenaikan yang signifikan. Bahkan dibeberapa kota, masih mencapai Rp.100.000 lebih. Kenapa harga cabai naik sampai dua bulan lebih? Tentu pertanyaan ini menarik untuk lebih didalami. Menurut data Kementerian Pertanian (Kementan) konsumsi cabai rawit pada tahun 2015 sebesar 335.968 ton dan pada tahun 2016 meningkat  sebesar 39% yaitu dengan jumlah 46.771 ton. Namun, tingginya konsumsi cabai rawit juga diimbangi dengan tingkat produksinya dimana tingkat produksi2015 mencapai 796.676 ton sedangkan pada tahun 2016 meningkat sebesar 2% yaitu dengan jumlah 818.530 ton. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat surplus pada tahun 2015 sebesar 50.388 ton dan surplus pada tahun 2016 sebesar 6.771 ton. Namun, tiga bulan terakhir ini harga cabai rawit rata-rata terus meningkat hingga 120% dari tahun sebelumnya yaitu dari Rp.35.881,- menjadi Rp.78.947.-. Bahkan terdapat beberapa daerah seperti Palangka Raya yang mengalami kenaikan lebih dari 200% yaitu dari Rp.50.000,- hingga mencapai Rp.170.000,-. Kenaikan harga cabai rawit yang sangat tinggi ini menimbulkan pertanyaan mengapa cabai rawit terus mengalami kelonjakan harga yang tinggi sedangkan data mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki surplus produksi cabai rawit.

Dari grafik tren harga cabai rawit dari tahun 2014 sampai 2017 di atas, harga cabai rawitmengalami fluktuasi dari bulan ke bulan. Namun, jika diamati peningkatan harga cabai rawit yang signifikan hanya bertahan selama dua bulan, kecuali untuk kenaikan harga cabai tiga bulan terakhir ini, yaitu dari bulan November 2016 sampai Januari 2017.

Penyebab Kenaikan Harga Cabai

Terdapat beberapa permasalahan yang mengakibatkan naiknya harga cabai yang dapat dilihat dari sudut pandang pertanian dan ekonomi. Masalah pertanian yang muncul pra-panen seperti cuaca dan iklim buruk, munculnya hama, gulma, dan penyakit-penyakit pada cabai rawit membuat produktivitas cabai per lahan menurun serta masalah pertanian yang muncul pasca-panen seperti sifat cabai yang mudah busuk.

Permasalahan ekonomi utama yang memicu kenaikan harga cabai rawit adalah panjangnya rantai distribusi. Tidak meratanya produksi antar wilayah dan selera masyarakat juga memicu naiknya harga cabai.Cabai dapat tumbuh baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Akan tetapi, tanaman cabai tidak tahan terhadap hujan, terutama pada waktu berbunga karena bunga-bunganya akan mudah gugur (Sunarjono, 2010). Curah hujan yang ideal untuk tanaman cabai yaitu 600-1250 mm/tahun atau 50-105 mm/bulan. Melihat cuaca penghujan dan curah hujan yang tinggi di Indonesia saat ini membuat produktivitas tanaman cabai menurun. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Region II Jawa Tengah Joko Siswanto, mengatakan bahwa pada bulan Oktober 2016 hingga Februari 2017 curah hujan di Jawa Tengah cukup tinggi yaitu berkisar antara 400-500 mm, dimana Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah penghasil cabai rawit terbesar di Indonesia.

Selain faktor cuaca, munculnya penyakit Antraknosa (Capsicum annuum L) juga mengakibatkan turunnya produktivitas cabai. Antraknosa merupakan penyakit utama tanaman cabai yang biasanya muncul saat musim hujan. Penyakit ini berakibat pada munculnya bintik-bintik kecil yang semakin membesar pada cabai.

Panjangnya rantai distribusi dari produsen sampai konsumen membuat waktu proses distribusi ini lebih lama sehingga mengakibatkan cabai busuk sebelum sampai ke tangan konsumen. Hal itu tentu mengakibatkan supply di pasar turun sehingga harga terus melambung.

Jumlah produksi cabai rawit yang terus berfluktuasi serta produksinya yang tidak merata di berbagai provinsi di Indonesia mengakibatkan harga cabai yang berbeda di berbagai daerah. Harga cabai di daerah penghasil cabai seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih murah dari daerah yang produksi cabainya sedikit dan jauh dari sentra produksi cabai seperti Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Menurut data Kementerian Pertanian, kenaikan harga cabai tertinggi terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat (141 %) dan Watampone, Sulawesi Selatan (124 %).

 

 

 

Provinsi

Produksi Tanaman Sayuran

Cabai Rawit (Ton)

2015 2014 2013 2012 2011
ACEH 58918 52870 36712 38618 19507
SUMATERA UTARA 39656 33895 36945 48362 35449
SUMATERA BARAT 11696 7407 7120 7435 10106
RIAU 4562 6253 6420 5953 5329
JAMBI 6574 6765 13348 4380 5258
SUMATERA SELATAN 3303 3867 3992 4974 4501
BENGKULU 7104 8919 12927 11281 11742
LAMPUNG 14728 15002 13340 14309 18365
KEP. BANGKA BELITUNG 2400 3100 3351 2875 3292
KEP. RIAU 952 1119 926 1103 968
DKI JAKARTA 0 0 0 0 0
JAWA BARAT 112636 115832 123755 90524 105237
JAWA TENGAH 149991 107953 85361 85000 65227
DI YOGYAKARTA 3277 3168 3228 2320 2163
JAWA TIMUR 250009 238821 227486 244040 181806
BANTEN 4651 4881 4231 5184 3092
BALI 31248 28440 20425 16041 17055
NUSA TENGGARA BARAT 73526 64013 28927 29700 19666
NUSA TENGGARA TIMUR 2436 2608 3333 4521 3209
KALIMANTAN BARAT 4683 4563 5620 5474 6426
KALIMANTAN TENGAH 3239 4116 3885 2874 2974
KALIMANTAN SELATAN 4789 3606 2625 2194 2506
KALIMANTAN TIMUR 5687 8118 7251 7168 7023
KALIMANTAN UTARA 1920
SULAWESI UTARA 8284 8487 8461 9656 9180
SULAWESI TENGAH 15924 12520 7660 10158 14818
SULAWESI SELATAN 26571 20794 18006 20672 15913
SULAWESI TENGGARA 3594 6820 4869 4086 2848
GORONTALO 8232 11771 12523 11834 10869
SULAWESI BARAT 1412 2288 1974 2168 1864
MALUKU 2849 2917 3495 2030 1656
MALUKU UTARA 2266 5174 838 523 504
PAPUA BARAT 324 749 831 1652 1643
PAPUA 2513 3648 3637 5143 4031
INDONESIA 869954 800484 713502 702252 594227

Sumber: (Badan Pusat Statistik, 2016)

Berkurangnya supply cabai di pasar yang mengakibatkan harga cabai naik ternyata tidak mengubah selera masyarakat Indonesia yang lebih menyukai masakan yang menggunakan cabai segar daripada cabai kering. Sesuai dengan prinsip ekonomi, supply di pasar yang menurun dengan demand tetap akan mengakibatkan harga naik.

Solusi Stabilisasi Harga Cabai

Upaya stabilisasi harga cabai dapat dilakukan dengan cara meminimalisir masalah-masalah yang mengakibatkan munculnya kenaikan harga cabai. Untuk meminimalisir penyakit-penyakit yang muncul pada tanaman cabai serta meminimalisir dampak buruk tingginya curah hujan, perlu dilakukan sosialisasi teknis dan tata cara perawatan cabai rawit yang baik untuk petani agar petani tidak merugi karena hasil panennya menurun.Peran mahasiswa dan akademisi dalam bidang pertanian disini adalah menghasilkan inovasi-inovasi teknologi agar tanaman cabai dapat tumbuh dengan produktivitas maksimal dan inovasi agar usia layak konsumsi cabai dapat lebih lama sehingga cabai tidak cepat busuk.

Produksi yang berfluktuasi tiap bulan dandistribusi produksi yang tidak merata dapat ditanggulangi dengan rotasi tanaman pangan dan holtikultura yang tepat pada tiap-tiap daerah. Salah satu kebijakan pemerintah dalam menerapkan hal ini adalah dengan sistem penanaman yang dirancang oleh pemerintah pada setiap daerah (pemerintah menetapkan daerah tertentu menanam tanaman tertentu pada musim tertentu). Sistem ini merupakan sistem pertanian yang telah diterpkan oleh pemerintah Thailand sampai saat ini. Namun, perlu diketahui bahwa Indonesia telah menerapkan sistem ini pada era Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Penetapan rotasi penanaman secara terstruktur ini dapat memberikan dampak baik bagi stabilitas pangan nasional sehingga harganya dapat stabil. Selain itu, hal ini juga memudahkan pemerintah untuk mengukur produksi dan perencanaan. Namun, sistem tersebut sulit diterapkan untuk sekarang ini, dimana era demokrasi dan kebebasan sangat dijunjung tinggi. Pengaturan rotasi tanaman dari pemerintah kepada petani dapat menimbulkan kontra terhadap asas demokrasi di Indonesia. Selain itu, luasnya wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan juga mengakibatkan pemerintah sulit menerapkan sistem ini.

Pemerintah juga dapat mengatasi panjangnya rantai distribusi dari produsen (petani) ke konsumen dengan cara memotong rantai tersebut. Meskipun tidak mudah, namun pemerintah dapat mengupayakan hal tersebut dengan merancangkan mekanisme distribusi yang jelas dengan pemerintah sebagai pelaku distributor utamanya. Upaya ini sudah dilakukan untuk komoditas tanaman pangan, yaitu beras dimana Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sebagai tata niaga beras. Namun, terdapat pertimbangan bahwa cabai rawit ini bukanlah komoditas pangan primer untuk masyarakat Indonesia, sehingga perlunya lembaga tata niaga ini masih dipertimbangkan perlu atau tidaknya.

Upaya untuk menekan harga cabai dari individu dalam suatu keluarga adalah menanam pohon untuk kebutuhan sendiri (kemandirian pangan). Dengan diterapkannya kemandirian pangan, maka permintaan cabai rawit di pasar akan turun seiring dengan penawaran di pasar. Hal tersebut akan membuat harga cabai rawit stabil kembali.

Kesimpulan

Maka sebagai mahasiswa dan generasi penerus bangsa di era globalisasi dimana informasi dapat diserap dengan mudah, kita perlu menimbang dan mengkaji informasi-informasi yang ada dalam media tersebut sehingga kita dapat memberkan informasi yang benar kepada masyarakat. Isu-isu simpang siur tentang gejolak harga cabai ini dapat mengakibatkan kepanikan terhadap pasar. Maka dari itu, kajian dan pembuktian tentang kebenaran isu harga cabai perlu dilakukan dengan berdasar pada data-data yang ada. Berfikir dan berupaya untuk menghasilkan inovasi dimulai dari diri sendiri merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan suatu permasalahan bangsa, daripada hanya bepangku tangan menunggu upaya dari pemerintah.

 

 

 

REFERENSI

Badan Pusat Statistik. 2017. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi, ed. Februari 2015. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Diunduh dari: https://www.bps.go.id/ pada 20 Februari 2017 (04:15).

Badan Pusat Statistik. 2017. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi ed. Februari 2016. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Diunduh dari: https://www.bps.go.id/ pada 20 Februari 2017 (04:18).

Badan Pusat Statistik. 2017. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi ed. Februari 2017. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Diunduh dari: https://www.bps.go.id/ pada 20 Februari 2017 (04:25).

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2016. Statistik Pertanian 2016. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Diunduh dari: https://www.epublikasi.setjen.pertanian.go.id pada 20 Februari 2017 (04:30).

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2016. Outlook Komoditas Pertanian Sub Sektor Hortikultura. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Diunduh dari: https://www.epublikasi.setjen.pertanian.go.id pada 20 Februari 2017 (05:00).

Maulidah, S. dkk. 2012. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi dan Pendapatan Usaha Tani Cabai Rawit. 8 (2). 51-182.

Priscilla, Testi. 2017. Harga Cabe di Pasar Besar Palangka Raya Naik 200 persen. Diakses dari: http://www.borneonews.co.id/berita/46819-harga-cabe-di-pasar-besar-palangka-raya-naik-200-persen pada 23 Februari 2017 (18:03).

Sulistyo, P.J. 2016. Oktober 2016 -Februari 2017 Curah Hujan di Jateng Cukup Tinggi. Diakses dari: http://semarangpedia.com/oktober-2016-februari-2017-curah-hujan-di-jateng-cukup-tinggi pada 23 Februari 2017 (17:55).

 

2 thoughts on “Hargai Cabai Masih Mahal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *