EVALUASI TRANSPORTASI UMUM KOTA YOGYAKARTA

Seiring dengan perkembangan jaman, populasi dan mobilitas manusia semakin mengalami peningkatan. Hal yang demikian sangat terasa perubahannya, terlebih jika kita mengerucutkan perhatian ke kota kota besar. Kota besar masih menjadi tujuan favorit bagi para pendatang untuk mencari pekerjaan. Akibatnya, kondisi kota menjadi semakin padat dan salah satu akibatnya adalah akan meningkat pula penggunaan sarana transportasi di kota. Tak bisa dihindari,  masalah masalah transportasi akan muncul mengikuti fenomena tersebut.  Yogyakarta merupakan salah satu kota yang mengalami keadaan seperti itu.

Masalah transportasi di Yogyakarta mungkin secara umum sama dengan masalah transportasi di kota kota besar lainnya. Dapat dirasakan, dalam beberapa tahun terakhir peningkatan volume kendaraan cukup tinggi. Hampir di semua persimpangan di kota Yogyakarta akan selalu mengalami kemacetan, terlebih pada jam masuk atau keluar kantor. Tentunya masalah ini haruslah mendapatkan perhatian yang cukup serius agar diperoleh solusinya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan peningkatan volume lalulintas ini. Salah satu sebab karena mobilitas manusia yang meningkat dan keberagaman daerah asal dan tujuan perjalanan. Untuk menangani  masalah tersebut, hal yang dapat dilakukan adalah dengan  mengurangi perjalanan atau dengan mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke penggunaan kendaraan umum dalam melakukan perjalanan.

Pengurangan perjalanan dapat dilakukan dengan berbagai cara semisal pengaturan tata guna lahan seperti are permukiman, industri,sekolah, dll sedemikian rupa sehingga dapat meminimalisir jumlah perjalanan. Ada pula cara lain seperti dengan memaksimalkan fungsi dari sarana komunikasi ( HP, internet, Koran,dll ) sehingga berbagai macam kebutuhan dapat dikerjakan atau dipesan dari rumah.

Cara yang kedua adalah dengan pengalihan penggunaan kendaraan pribadi ke umum. Memang, tidaklah mudah untuk membuat orang merubah pola pikir dan kesadaran untuk menggunakan transportasi umum. Ada cukup banyak alasan mengapa orang lebih senang menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan kendaraan umum. Maka, untuk itu perlu adanya terobosan dari penyedia jasa transportasi untuk meningkatkan daya tarik dan pelayanan agar masyarakat mulai mau untuk beralih menggunakan transportasi umum.

Saat ini, kondisi transportasi umum di Yogyakarta sendiri bias dibilang kurang baik. Jika kita tinjau dari segi fisik misalnya, cukup banyak angkutan di Yogyakarta yang rusak dan sebenarnya sudah seharusnya mendapatkan uji kelayakan. Kerangka bus yang rusak, jok yang sobek, dan mesin bus yang menghasilkan asap berlebihan tentunya akan menimbulkan kesan kotor dan semrawut sehingga ini jelas akan menurunkan daya tarik angkutan itu sendiri bagi penumpang. Belum lagi rute trayek angkutan kota yang tidak efisien. Dengan kondisi yang demikian, tentunya  orang akan lebih memilih kendaraan pribadi.

Sejalan dengan kebijakan pembangunan transportasi dan untuk mendorong penggunaan angkutan massal di perkotaan sebagai pelaksanaan pembatasan kendaraan pribadi dengan mengembangkan standar pelayanan angkutan umum massal untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat dan mampu berkompetisi dengan kendaraan pribadi, maka perlu dibuat suatu standar pelayanan minimal bagi pelayanan angkutan perkotaan.

Dalam survey yang dilakukan departemen kajian strategis yang berakhir pada 30 november 2013 yang terdiri dari 95 responden menemukan bahwa responden memilih memperbaiki transportasi umum guna mengatasi permasalahan yang kemacetan di Yogyakarta. Sebanyak   65 % responden percaya bahwa transportasi publik dapat mengatasi kemacetan.  Akan tetapi, responden masih enggan berpindah ke transportasi umum dikarenakan seringnya ketidak tepatan jadwal kedatangan bus, titik dan waktu yang terbatas hingga kenyamanan dan keamanan di dalam trasportasi masal tersebut. Transjogja sebagai transportasi umum di kota Yogyakarta banyak dipilih oleh responden dikarenakan bus transjogja ini lebih baik daripada transportasi umum lain yang ada di Yogyakarta dalam hal keamanan dan kenyamanan, ketepatan waktu tetapi terbatas di titik(shelter) atau halted an keterbatasan jam kerja.

 

Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang didapatkan dari  EVALUASI KINERJA BUS TRANS JOGJA TRAYEK 3A  oleh Aldila Riana Prabawati didapatkan bahwa:

 

1. Waktu Tempuh

Waktu tempuh adalah perjalanan bus pergi dan pulang yang dihitung dari lokasi keberangkatan awal hingga kembali ke lokasi pemberangkatan awal. Waktu tempuh dapat dapat dipengaruhi oleh kecepatan perjalanan, panjang rute perjalanan, waktu naik turun penumpang dan waktu tunggu terminal. Waktu tempuh 1 putaran bus Trans Jogja pada waktu survey bisa dikatakan layak karena sebagian besar tidak mengalami keterlambatan, sebagaimana yang ditetapkan oleh Dishubkominfo DIY 122 menit pada jalur 3A. Dari hasil survey didapat nilai rata-rata waktu tempuh satu putaran untuk jalur 3A pada hari Minggu pagi yaitu 115,75 menit,Minggu sore 122.25 menit,Senin pagi 121,5 menit. Senin sore 121,25 menit.

 

2. Headway

Waktu keberangkatan antar armada (headway) yaitu selang waktu kedatangan bus pertama dengan bus berikutnya pada rute tertentu dalam waktu tertentu. Berdasarkan data dari Dishubkominfo propinsi DIY, ketetapan headway untuk jalur 3A adalah 16 menit. Berdasarkan hasil survey, maka rata – rata headway tidak ada yang mengalami keterlambatan. Dari data hasil survey, didapat rata – rata headway jalur 3A untuk hari Minggu adalah 14,94 menit (pagi) dan 15,16 menit (sore), Senin adalah 14,96 menit (pagi) dan 15 menit (sore).

 

3. Kapasitas

Didapatkan dimensi Trans Yogya sehingga diketahui standar kenyamanan tempat duduk r = 0,32 m2/space dan standar kenyamanan tempat berdiri σ = 0,152 m2/space, masih memenuhi persyaratan yang telah di tetapkan yaitu 0,15-0,25 m2/space untuk berdiri dan 0,30- 0,55 m2/space untuk duduk. Untuk jumlah tempat duduk dan berdiri yang didapatkan dari data sekunder dan pengamatan langsung didapatkan kapasitas total satu unit armada Transjakarta (Cv) sebesar 41 penumpang per armada, dengan kapasitas 22 penumpang untuk tempat duduk dan 19 penumpang untuk tempat berdiri.

 

4. Dari peramalan pertambahan penumpang pengguna Transyogya dengan metode Furness didapatkan Matriks asal Tujuan pada 2016, sehingga dapat diketahui pembebanan untuk masing-masing ruas  dapat diketahui kapasitas penumpang masih memenuhi atau bisa dikatakan layak untuk kondisi tempat duduk dan tempat berdiri tetapi tidak nyaman.

 

Dari hasil penelitian tersebut maka dapat dikatakan transjogja sudah bisa dikatakan layak dalam melayani kebutuhan trasnportasi umum di kota Yogyakarta. Ketepatan waktu baik waktu tempuh dan headway cukup tepat waktu tetapi terdapat masalah di kenyamanan karena dengan kapasitas 22 penumpang duduk dan 19 penumpang dapat dikatakan layak tetapi tidak nyaman. Kelemahan mungkin terdapat di jumlah armada dan jumlah titik layanan yang terbatas. Oleh karena itu, apabila ingin membuat masyarakat berpindah ke transjogja maka jumlah aramada harus ditambah dan titik layanan diperluas.

Dimas Ragil Mumpuni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *