Emansipasi dalam Roda Ekonomi

Kartini, seseorang yang menjadi pahlawan bagi wanita-wanita Indonesia telah merubah pemikiran tentang wanita yang hanya bisa melakukan pekerjaan rumah tangga saja. Kartini memperjuangkan emansipasi bagi kaum wanita Indonesia. Emansipasi merupakan satu kata dengan interpretasi yang berbeda-beda. Lalu apa arti emansipasi yang sebenarnya?

Emansipasi wanita menurut KBBI adalah proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju. Emansipasi berbeda dengan persamaan gender, tetapi emansipasi merupakan persamaan hak atas perolehan pendidikan, politik, ekonomi, dan sosial bagi wanita dan laki-laki.

Pada era ini, emansipasi wanita terus berkembang bahkan wanita benar-benar telah memperoleh hak-hak yang sama dengan laki-laki. Wanita masa kini banyak yang memilih bekerja daripada hanya berdiam diri di rumah.

Emansipasi wanita dalam sosial ekonomi dapat digambarkan dalam EPR wanita. EPR atau Employment to Population Ratio sendiri adalah proporsi dari jumlah populasi masyarakat yang sedang bekerja atau memiliki pekerjaan dalam suatu negara. Sedangkan EPR wanita merupakan proporsi jumlah wanita yang bekerja atas populasi masyarakat dalam suatu negara. EPR dapat didapat dari rumus:

pics

pic2

Tabel tersebut menunjukkan bahwa persentase wanitaIndonesia yang bekerja cukup besar dan stabildalam empat tahun(2011-2014). Hal itu dibuktikan dengan membandingkan EPR wanita Indonesia dari tahun 2011-2014 lebih besar dibanding negara tetangga Indonesia yaitu Malaysia dengan selisih 3% sampai 4%. Bahkan selisih jumlah wanita Indonesia dan Timor Leste yang bekerja atau memiliki pekerjaan yaitu sebesar 23% sampai 25%. Sedangkan jika dibandingkan dengan Filipina, EPR wanita Indonesia pada tahun 2011 1% di bawah Filipina. Namun, pada tahun 2012 sampai 2014 Indonesia memiliki posisi yang sama dengan Filipina. . Hal itu dibuktikan dengan membandingkan EPR wanita Indonesia dari tahun 2011-2014 lebih besar dibanding negara tetangga Indonesia yaitu Malaysia dengan selisih 3% sampai 4%. Bahkan selisih jumlah wanita Indonesia dan Timor Leste yang bekerja atau memiliki pekerjaan yaitu sebesar 23% sampai 25%. Sedangkan jika dibandingkan dengan Filipina, EPR wanita Indonesia pada tahun 2011 1% di bawah Filipina. Namun, pada tahun 2012 sampai 2014 Indonesia memiliki posisi yang sama dengan Filipina. Hal itu menunjukkan bahwa tingkat partisipasi wanita dalam roda ekonomi negara Indonesia dan Filipina cenderung sama. Tetapi situasi tersebut akan berbeda lagi dengan membandingan Indonesia dengan Singapura sebagai negara maju. Singapura memiliki tingkat EPR yang cukup besar pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 yaitu sebesar 56% sampai 57%.

Besarnya tingkat partisipasi wanita dalam bekerja tentu ikut menyumbang pendapatan nasional Indonesia. Apalagi sekarang ini pemegang kedudukan tertinggi tidak hanya terbatas pada kaum laki-laki, wanita juga memiliki hak untuk memiliki pekerjaan dan jabatan tertinggi. Di luar jabatan yang tinggi, banyak pula tenaga kerja wanita yang bekerja di luar negeri yang ikut serta dalam perputaran roda ekonomi Indonesia. Besarnya kontribusi pendapatan wanita ini dapat ditunjukkan pada tabel di bawah ini yaitu sebesar 33,46% pada tahun 2011 dan terus meningkat hingga 35,75% pada tahun 2014.

pic3

Emansipasi wanita dalam bekerja ini tidak lain dipengaruhi oleh emansipasi pendidikan pula. Pendidikan yang merupakan indikator pembangunan manusia ini sudah dapat dienyam oleh wanita sekarang bahkan telah menjadi hak yang bukan lagi hanya untuk kaum laki-laki. Namun sayangnya, kualitas pendidikan di Indonesia masih kurang baik dan belum merata. Tidak hanya untuk kaum perempuan saja, tetapi pendidikan yang didapat oleh kaum wanita juga kurang baik dan belum merata. Meskipun indeks pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Hal ini ditunjukkan dari kenaikan partisipasi siswa yang melanjutkan ke tingkat SMA/MA/Paket C sebanyak 64,9% pada tahun 2011 naik menjadi 72,08% pada tahun 2015(Sumber: BPS)

Tingginya kualitas pendidikan akan mempengaruhi kualitas pekerjaan pula. Di Indonesia, banyak wanita yang telah menjadi tenaga profesional. Hal itu dibuktikan pada grafik berikut ini:

pic4

Grafik di atas menggambarkan bahwa dari 100% tenaga kerja wanita, rata-rata 45% di antaranya merupakan tenaga kerja professional. Hal itu menunjukkan bahwa tenaga  kerja wanita di Indonesia cukup berkualitas namun masih lebih banyak tenaga kerja wanita yang masih perlu dibekali pendidikan dan keterampilan agar mayoritas tenaga kerja wanita Indonesia menjadi tenaga kerja yang professional.

Kurangnya kualitas tenaga kerja wanita di Indonesia dapat menimbulkan perlakuan tidak layak seperti kekerasan yang didapat tenaga kerja wanita yang ada di dalam maupun luar negeri yang sekarang ini masih marak. Lalu bagaimana solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah? Solusinya adalah pemerintah perlu meningkatkankualitas pendidikan sehingga dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pemerintah juga perlu meningkatkan pengawasan dan perlindungan yang lebih bagi penyumbang devisa negara tersebut dan tenaga kerja wanita yang bekerja di luar negeri perlu dibekali pendidikan dan keterampilan yang cukup untuk meminimalisir kesalahan dan tindak kekerasan.

Namun, usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia juga perlu didukung masyarakat itu sendiri, utamanya kaum wanita. Kaum wanita harus memiliki pikiran yang cerdas dan maju seperti sosok Kartini agar dapat menjadi wanita yang berkualitas dan professional sehingga dapat berkontribusi dalam roda perekonomian Indonesia.

Kesimpulannya adalah emansipasi wanita yang digerakkan oleh Kartini membawa perubahan bagi dunia pendidikan, politik, dan sosial yang membawa dampak positif bagi roda ekonomi Indonesia. Namun permasalahan yang dihadapi oleh tenaga kerja wanita perlu diminimalisir dengan tindakan preventif maupun represif dari semua pihak agar wanita tetap bisa berkontribusi dalam perputaran roda ekonomi Indonesia tanpa menimbulkan suatu masalah dan merugikan salah satu pihak.

 

Oleh: Ajeng Dianingtyas Putri

Sumber: www.bps.go.id
Www.worldbank.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *