Dilema BI 7 Day Repo Rate

Oleh Vania Ayu Cahyani, staff ahli Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM 2016

Kolom berita keuangan Indonesia saat ini sedang dipenuhi dengan berita peralihan suku bunga acuan dari BI rate menjadi BI 7 Day Repo Rate. Sebenarnya istilahh BI 7 Day Repo Rate, bukanlah hal baru. Sudah banyak negara yang memberlakukan hal serupa dan dampaknya beragam. Ada yang efektif ada juga yang tidak. Wacana penerapan suku bunga acuan baru ini juga sudah muncul sejak awal tahun 2016 bersamaan dengan ambisi pemerintah untuk meurunkan suku bunga menjadi single digit. BI 7 Day Repo Rate merupakan suku bungan acuan yang memiliki tenor jangka pendek, yaitu hanya 1 minggu sampai 1 bulan. Berbeda dengan Bi Rate yang memiliki tenor jangka panjang yakni 12 bulan.

Alasan dibalik pergantian suku bunga acuan ini adalah karena suku bunga acuan sebelumnya tidak dapat menggambarkan keadaan pasar uang yang sebenarnya. Padahal salah satu fungsi Bank Indonesia mengatur suku bunga adalah sebagai langkah menjaga stabilitas keuangan. Transaksi dalam pasar keuangan didominasi oleh transaksi jangka pendek. Transaksi jangka pendek ini dapat berlangsung setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit. Sehingga dibutuhkan instrumen keuangan yang dapat merespon cepat terhadap pasar uaang yang memiliki overnight rate. Transaksi jangka pendek ini terjadi antar bank serta menggunakan suku bunga yang disebut Inter Bank Call Money dalam Pasar Uang Antar Bank (PUAB). BI Rate yang bertenor panjang tidak mampu memenuhi kebutuhan likuiditas jangaka pendek. Hal ini akan membuat transmisi kebijakan akan langsung dirasakan oleh bank. Bagitu BI menaikkan atau menurunkan tingkat bunga acuan, bank dapat dengan segera menyesuaikan, tidak perlu menunggu hingga 12 bulan.  Hal ini juga sangat menguntungkan bagi investor pasar uang yang sangat memerlukan informasi likuiditas dalam jangka pendek. BI 7 Day Repo Rate akan meningkatkan kinerja keuangan serta perbankan dalam kebijakan moneternya. Penerapan BI 7 Day Repo Rate ini juga sangat mendukung ambisi pemerintah untuk menekan suku bunga menjadi single digit. Suku bunga acuan ini diharapkan dapat segera menurunkan bunga funding kemudian akan disusul dengan bunga lending. Pemerintah mengusahakan tercapainya suku bunga single digit untuk memacu perekonomian dengan semakin banyak, mudah, serta murahnya investasi yang akan dimanfaatkan untuk memacu roda perekonomian terutama oleh UMKM serta mendukung pembangunan infrastruktur yang sedang digalakkan besar-besaran.       Namun,apakah suku bunga acuan ini mampu menjawab segala tuntutan pemerintah tersebut? Apakah pelaksanaannya akan efektif ataukah malah sebaliknya?

Dibalik segala kelebihan yang dimiliki oleh BI 7 Day Repo Rate, suku bunga acuan ini juga memiliki kelemahan yang dapat menjadi penyebab kemungkinan ketidakefektifan penerapannya. Pertama, BI 7 Day Repo Rate tidak ditentukan menurut inflasi year to year tetapi bergantung kepada tingkat inflasi month to month. Suku bunga acuan ini hanya tepat digunakan saat inflasi sedang rendah. Padahal, tingkat inflasi dari bulan ke bulan tidak akan selalu rendah dan lebih fluktuatif dibandingkan tingkat inflasi year to year.Tingkat inflasi Indonesia juga tidak tepat jika terus berada pada tingkat terlalu rendah karena akan menurunkan gairah berproduksi produsen yang biasa disebut disincentive problem.

Kedua, suku bunga acuan ini hanya menembak interbank call money sehingga kurang efektif untuk menurunkan suku bunga funding apalagi lending. Target pemerintah untuk menekan suku bunga menjadi single digit melalui mekanisme ini ataupun usaha yang lain, memiliki efek samping yang sangat mungkin terjadi. Usaha pemerintah untuk menekan suku bunga akan berpengaruh paling besar pada suku bunga funding. Perlu waktu yang lebih lama untuk menurunkan suku bunga lending karena sifatnya yang kurang elastis terhadap suku bunga acuan. Padahal, target utama usaha pemerintah ini adalah untuk menurunkan suku bunga lending yang akan mendorong perekonomian terutama UMKM serta lebih banyak uang yang akan dikucurkan untuk pembangunan infrastruktur.

Meskipun suku bunga lending akhirnya mencapai single digit, tetap ada dampak negatifnya. Dampak negatif ini akan dialami oleh Bank Pengkreditan Rakyat. Saat ini bunga funding dan lending BPR lebih tinggi dibandingkan dengan bank umum.  BPR mematok suku bunga lebih tinggi dari Bank Umum untuk mempertahankan dan menarik nasabah. Dahulu, kekuatan utama BPR berada pada kredit menengah ke bawah, namun saat ini bank umum menjadi salah satu kompetitor BPR. Jika suku bunga bank mencapai single digit, suku bunga lending bank umum juga akan ikut menurun sehingga daya saing BPR akan semakin lemah serta tidak menutup kemungkinan collapse. Collapsenya BPR ini juga akan berujung pada pemilik UMKM sendiri. Dengan turunnya suku bunga lending ini, bank umum akan “malas” untuk memberikan kredit mikro karena kosnya besar dan bunga yang didapatkan bank umum tidak signifikan apalagi ditekan hingga single digit. Bank akan lebih memilih untuk memberikan kredit berbentuk corporate loan atau commercial loan yang berenilai milyaran rupiah serta berkos kecil. Pemilik UMKM ini akan kehilangan pilihan kredit dan akhirnya akan memilih lintah darat.

 

Sumber :

Bank Indonesia. 2016. BI 7 Day (Reverse) Repo Rate. Diakses Agustus 21, 2016, dari
http://www.bi.go.id/en/moneter/bi-7day-RR/penjelasan/Contents/Default.aspx

Hasanah, Wardatul. 2016. Efektifitas BI Rate dan BI Seven Days Repo Rate terhadap Kinerja
Perbankan. Diakses Agustus 21, 2016, dari                            http://www.kompasiana.com/wardatulhasanah/efektifitas-bi-rate-dan-bi-seven-days-repo-
rate-terhadap-kinerja-perbankan_5724574c129373971b8b25d4

 

Nugroho. 2016. Efektifkah BI 7 Day Repo Rate? Diakses Agustus 21, 2016, dari
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/efektifkah-bi-7-day-repo-rate/

Wirayani, Prima. 2016. Challanges loom ahead of new benchmark policy. Diakses Agustus 21, 2016,
dari http://www.thejakartapost.com/news/2016/08/16/challenges-loom-ahead-new-benchmark-rate-policy.html

4 thoughts on “Dilema BI 7 Day Repo Rate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *