Cinta

Oleh: Ilham Syahrimanda

“Seperti angin membadai
Kau tak melihatnya ,Kau merasakannya
Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun
Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas
Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan
Begitulah cinta…
ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda…
tak terlihat,hanya terasa…
tapi dahsyat!!”

Ya… begitulah kira-kira penggalan puisi yang ditulis oleh Anis Matta dalam salah satu bait puisi sakralnya, berjudul Cinta Tanpa Definisi. Saya merenung dengan renungan yang sangat dalam, meniti setiap kata, meresapi setiap makna dari frasa yang dituangkan dalam puisi itu. Satu kata untuk beliau, Cerdas!

Berbicara mengenai cinta,saya teringat dengan ucapan salah satu peserta LT BEM FEB UGM dalam sebuah momen sharing.Kebetulan saat itu saya diamanahi sebagai pembicara sharing ringan dengan mereka.Seorang anak menggunakan terminologi “membangun cinta” untuk mengekspresikan rasa cintanya kepada BEM FEB UGM.Peserta tersebut tidak mau menggunakan terminologi jatuh cinta,dia lebih memilih kata membangun cinta untuk BEM FEB UGM. “Kalau jatuh cinta itu sakit kak,jadi saya lebih suka menggunakan kata membangun cinta”,katanya kepadaku diikuti oleh tawa peserta lainnya.

Semua orang bebas memaknai cinta.semua orang bebas menggunakan terminologi ini.Semua orang pun mungkin memiliki definisi masing-masing mengenai cinta,termasuk saya tentunya.Namun percayalah,definisi-definisi yang kita ungkapkan pada akhirnya akan membiaskan makna cinta sesungguhnya,sebagaimana judul puisi anis Matta di atas,Cinta tanpa Definisi.Karena bagaimana mungkin kita mendefinisikan sesuatu yang begitu luas maknanya,yang tak terukur kadarnya,yang tak terlihat bendanya,yang semua orang bebas mengartikannya.Kalau tidak percaya,saya tantang tuan-tuan untuk mendefinisikan kata cinta kemudian lihatlah sekali lagi definisi yang tuan-tuan buat.Tuan-tuan akan merasakan ketidakpuasan terhadap definisi pertama tadi.

Dalam bahasa arab,ada 18 kata untuk mengungkapkan kata cinta.Mulai dari cinta kepada orangtua,cinta kepada kekasih,cinta kepada hewan,cinta kepada sesama manusia,cinta kepada anak kecil,cinta kepada diri sendiri,”cinta monyet”,hingga cinta kepada Ilahi.Sementara bahasa Indonesia hanya mampu menyerap makna-makna cinta tadi menjadi satu kosakata,cinta.

Terlepas dari debat para pujangga mengenai definisi cinta,yang terlebih penting adalah bagaimana kita memaknai kata cinta itu sendiri.Makna cinta menurut saya dewasa ini telah membias jauh dari akar katanya.Kata cinta saat ini lebih banyak digunakan untuk mengekspresikan “rasa” antara Dua sejoli,pemuda-pemudi,romeo-Juliet,Sang pangeran dan sang Putri,laila-majnun,Aku dan kamu.Begitulah fenomena pengkerdilan makna cinta yang saat ini tengah mewabah pada insan-insan manusia.Ketika seseorang menyebut kata cinta,mereka tersipu malu,senyum-senyum sendiri,bergumam risih,seolah kata itu tabu untuk diungkapkan di khalayak ramai.Entahlah…namun bagi saya naïf sekali kalau kita mengkerdilkan maknanya.

Dahsyatnya Cinta

Bukankah cinta yang akhirnya menggerakan Adam dan Hawa untuk betemu di jabal rahmah.Cinta jualah yang menggiring Ainun dan Habibie di pelaminan.Cinta jualah yang memaksa sekumpulan aktivis BEM FEB UGM untuk berkumpul dalam sebuah rapat rutin, meskipun kadang letih dan penat perkuliahan belum hilang.Cinta jualah yang memaksa air mata keluar dari sudut mata dikala perpisahan(sebut saja perpisahan BEM he he).Cinta jualah yang memanggil anak-anak di perantauan untuk kembali ke “sarang-sarangnya” di kampung halaman.Dan karena cinta pada ilmu pengetahuan pulalah yang merangsang seseorang untuk terus belajar.Semua karena cinta…Ada apa dengan cinta?(kayak judul film he he).

Terbesit dalam benakku betapa besarnya kekuatan cinta “the power of love”.Cinta adalah kekuatan yang menggerakkan hati manusia untuk melakukan segala sesuatu dalam hidup ini,ya…SEGALA SESUATU!. Bukankah karena cinta yang menyebabkan berjuta orang membantu rakyat aceh untuk keluar dari derita akibat tsunami?Bukankah karena cinta yang menggerakkan Bung Karno dan bung Hatta untuk menisbatkan Indonesia sebagai Negara berdaulat?Bukankah karena cinta seorang hamba terbangun dari tidurnya dalam subuh yang syahdu?…semua karena cinta.

Saya Tanya kepada tuan-tuan sekalian,mengapa tuan-tuan harus belajar mati-matian dalam perkuliahan?.Mengapa harus mengembangkan diri dalam organisasi?.Itu semua karena kita cinta,minimal pada diri kita…iya kan?.Saya rasa kita semua sudah mulai mengerti betapa hebatnya cinta.

Namun ada tingkatan cinta yang jauh lebih hebat lagi,yaitu ketika cinta pada diri sendiri dikalahkan oleh cinta pada sesuatu yang lain.Begitulah perihalnya para pahlawan kemerdekaan yang keluar dari zona nyamannya demi cintanya pada bangsa.Jabatan priyai maupun harta berlimpah Ia acuhkan demi cintanya pada rakyat.Cinta itu kita kenal dengan sebutan nasionalisme.Begitu pula perjuangan seorang ibu yang melahirkan,rasa sakit itu seakan hilang diiringi oleh lelehan air mata haru melihat buah hatinya lahir ke dunia,karena cintanya.Ini dia cinta level kedua.

Dan yang terakhir ini adalah cinta yang tertinggi.Ketika cinta pada segala hal mampu ditepis demi cinta yang satu ini.saya kira hanya segelintir orang yang mampu untuk sampai pada derajat ini.Yang dilakukannya hanyalah keinginan sang maha cinta.Dalam setiap ibadahnya selalu rayuan demi rayuan ia ucapkan untuk menggoda sang maha cinta,kiranya ia ridho.Inilah cinta kepada tuhan.

Begitulah hebatnya cinta,ia memotivasi setiap orang untuk mengambil sikap dan tindakan.Apabila kita mampu memanaj cinta seseorang,tentunya seakan kita mampu menggiring ia pada suatu tujuan tertentu.Ketika seorang karyawan telah memiliki cinta pada perusahaan,maka ia akan all out dalam kerjanya.Bagaimana caranya?tingkatkan gajinya,berikan bonus,desain suasana yang nyaman pada organisasi itu…supaya ia cinta,minimal pada dirinya!.Begitulah yang dilakukan oleh Google untuk meningkatkan sense of belonging karyawan.Begitu pula perihalnya organisasi,dengan menumbuhkan cinta kader pada organisasi maka akan berimplikasi kepada kinerja yang all out dikarenakan ia merasa bahwa ini adalah organisasinya,rumahnya.

Oleh karena itu,jikalau pemerintah bekerja demi cintanya kepada rakyat,jikalau anggota legislatif bekerja karena cintanya pada konstituen,jikalau perusahaan bekerja demi cintanya pada karyawan,konsumen maupun pihak lainnya.Tentunya itu semua akan menjadi kekuatan besar bagi bangsa ini untuk terus maju secara konsisten.Maka pada akhirnya kita harus menebarkan cinta pada siapa saja,bekerjalah dengan cinta.Kiranya cinta yang ditebarkan itu akan menghasilkan cinta-cinta lainnya.Seolah bangsa ini menjadi sebuah laskar cinta.Sebagaimana syair lagu DEWA 19 :

Laskar cinta..
sebarkanlah benih-benih cinta..
Musnahkanlah virus-virus benci..
Virus yang bisa merusakkan jiwa..
Dan busukkan hati..Laskar cinta..
ajarkanlah ilmu tentang cinta..
Karena cinta adalah hakikat
Dan jalan yang terang bagi semua…manusia

Quote : …Dan tulisan adalah senjata terkuat mahasiswa untuk menghujamkan cintanya. (Ilham syahrimanda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *