Bumiku, Bumimu, Bumi kita: Refleksi Bumi di Hari Ini

“Apakah jika pohon terakhir akan ditebang, dan mata air terakhir berhenti mengalir, baru saat itulah manusia sadar bahwa uang tidak bisa dimakan dan diminum”

-Anonim-

Penulis : Mohammad Iqbal Fawzi (Staf Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM 2016)

Kondisi Bumi –khususnya Indonesia- saat ini

Suhu udara yang kian tinggi, udara dan air yang kian tercemar, hutan yang semakin berkurang, populasi hewan dan tumbuhan yang kian langka, hingga banjir yang tak pernah berhenti meluap. Kita sadari atau tidak, begitulah kiranya gambaran bumi di hari ini. Bumi menjadi kian resah untuk ditempati oleh penduduknya, but the people didn’t have choice. Mungkin jika ada planet lain yang memungkinkan untuk ditempati, tak sedikit orang yang berfikir untuk enyah dari bumi ini.

Kalimat-kalimat diatas bukanlah hiperbola semata. Berbagai fakta ilmiah pun menunjukkan hal demikian. Menurut data yang dirilis oleh Word Resource Institute (sebuah institusi riset internasional yang berfokus pada keberlangsungan sumber daya alam di bumi) menunjukkan bahwa mulai dari tahun 1990 sampai tahun 2010, hutan Indonesia –yang luasnya 90 juta hektar- telah berkurang sebanyak 25% (28 juta hektar). Baik untuk keperluan lahan perumahan, pertanian, perkebunan, pertambangan dan lain sebagainya.  Itu berarti Hutan Indonesia berkurang 1,9 juta hektar setiap tahunnya dan hutan Tropis di Indonesia merupakan 10% dari total seluruh Hutan Tropis di Dunia Padahal hal tersebut sangat berpengaruh negatif pada kehidupan manusia di sekitarnya, keanekaragaman hayati, perubahan iklim dan bencana alam yang semakin rawan terjadi.

Philip Ward, seorang peneliti senior di Institute for Environmental Studies of the VU University Amsterdam, melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 21 juta orang di seluruh dunia terkena banjir sungai setiap tahun. Angka itu bisa meningkat menjadi 54 juta pada tahun 2030 akibat perubahan iklim dan pembangunan sosial-ekonomi. Indonesia pun masuk dalam 15 negara penyumbang banjir terbesar. Negara-negar tersebut diantaranya ialah India, Bangladesh, Tiongkok, Vietnam, Pakistan, Indonesia, Mesir, Myanmar, Afghanistan, Nigeria, Brazil, Thailand, Republik Demokratik Kongo, Iraq, dan Kamboja. Di Indonesia sendiri permasalahan banjir bukanlah permasalahan yang baru, hampir setiap musim penghujan tiba Indonesia tak pernah absen dari permasahalan banjir tersebut. Permasalahannya pun sangatlah kompleks, selain perubahan iklim yang disebabkan oleh berkurangnya hutan, tingkat kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya masih minim, ditambah lagi dengan pembangunan sosial dan ekonomi yang mengesampingkan dampak terhadap lingkungan.

Tingginya angka pencemaran –baik pencemaran air, tanah, laut maupun udara- juga masih menjadi permasalahan bagi Indonesia. Pada tahun 2010, Sungai Citarum pernah dinobatkan sebagai sungai paling tercemar di dunia oleh situs huffingtonpost.com. World Bank juga menempatkan Jakarta sebagai kota dengan polutan tertinggi ketiga setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City. Dalam pencemaran udara –penghasil emisi karbon (CO2)- Indonesia juga masih ‘aktif’ ikut serta dalam menghasilkan emisi karbon tersebut. Pada tahun 2014 lalu, Indonesia menjadi negara penghasil karbon tertinggi keenam di dunia di bawah Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, dan Rusia. Total emisi karbon yang dihasilkan Indonesia adalah sebesar 2,05 miliar ton atau sekitar 4% dari total emisi yang dihasilkan di seluruh dunia, yaitu sebesar 46 miliar ton. World Resources Institute membuat laporan tentang emisi karbon dioksida (CO2) negara-negara di dunia sejak 1850 hingga 2011 melalui sebuah peta interaktif. Dari peta interaktif tersebut terlihat emisi gas rumah kaca di dunia mengalami perubahan drastis selama 160 tahun terakhir. Jika pada tahun 1990-an sekitar dua pertiga dari emisi CO2 berasal dari negara-negara maju, pada tahun 2011, emisi karbon yang dihasilkan oleh negara-negara berkembang meningkat drastis, termasuk Indonesia. Salah satu penyebabnya ialah industrialisasi yang sedang berkembang pesat di negara-negara berkembang, namun antisipasi dampak industrialisasi tersebut kepada lingkungan masih sangat minim.

Terumbu karang Indonesia pun tak mau kalah, pada Bulan Agustus 2015 lalu Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia mengeluarkan pernyataan yang cukup miris. Beliau mengatakan bahwasanya 70% terumbu karang Indonesia berada dalam kondisi rusak dan rusak berat. Menurut Menteri Susi, kerusakan terumbu karang tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya akibat penggunaan bom, potasium, dan sampah. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan masih sangat kurang. Padahal terumbu karang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia terdapat di Indonesia, serta lebih dari 2.500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2.500 jenis moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan. Sejauh ini telah tercatat lebih dari 750 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga terdapat di Indonesia. Maka dari itu, tak berlebihan jikalau Indonesia dijuluki dunia sebagai “Amazon of The Sea”. Namun, tampaknya Amazon of The Sea hari-hari ini sedang mengalami sakit yang cukup akut

 

Refleksi diri Sebagai Penduduk Bumi

                Pada tahun 2013, World Bank merilis data yang menunjukkan bahwa pertumbuhan GDP Tiongkok sangatlah pesat, yaitu berada pada angka 7,7%, namun pada tahun yang sama biaya kerusakan lingkungan di Tiongkok mencapai 250 miliar dolar AS. Pertumbuhan ekonomi –yang dipimpin oleh industrialisasi- memiliki dampak negatif kepada lingkungan, seperti limbah yang dihasilkan mencemari lingkungan, peningkatan gas CO2 di atmosfer, berkurangnya hutan dan lahan hijau, hingga daerah resapan air yang berkurang akibat lahan yang digunakan sebagai daerah industri. Sebenarnya dampak tersebut dapat diminimalisir ketika para pelaku industri tak hanya mengejar nafsu keuntungan semata, namun juga peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Disini pemerintah juga memiliki peran yang besar dalam usaha menyelamatkan lingkungan dari industrialisasi tersebut dengan membuat dan menerapkan regulasi yang efektif dan konservatif terhadap lingkungan kepada pelaku industri tersebut. Namun, masih lemahnya penegakkan hukum kembali menjadi permasalahan yang utama.

Maka dari itu 46 tahun silam, Gaylord Nelson, seorang senator dan pengajar lingkungan hidup di Amerika Serikat mencanangkan 22 April sebagai Hari Bumi yang diperingati oleh dunia internasional. Dengan tujuan untuk mengingatkan kepada seluruh penduduk bumi –khususnya manusia- bahwa bumi yang mereka tempati sedang sakit, dan sakit tersebut kian lama menjadi kian parah. Dimana penyebab penyakit tersebut berasal dari manusianya sendiri. Agar kedepannya manusia mampu menjadi lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan di bumi. Tak rakus dalam mengeksploitasi bumi ini dan pada akhinya bumi ini masih menjadi tempat yang layak untuk dihindari.

Usaha Gaylord Nelson tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi diri kita sendiri. Apakah kita menjadi salah satu orang yang ikut andil dalam ‘merawat’ bumi ini? atau malah kita menjadi orang yang ikut andil dalam ‘merusak’ bumi ini? jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa kita hanya diwarisi untuk merawat bumi ini demi kelangsungan kehidupan anak cucu kita, bukan mengeksploitasinya untuk hasrat duniawi semata. Oleh sebab itu, momentum Hari Bumi ini semoga dapat menjadi refleksi bagi diri kita masing-masing agar hati kita tergerak untuk ikut merawat dan mengobati bumi ini, sesuai dengan bidang dan kedudukan kita masing-masing. Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan dimulai dari sekarang juga. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau tidak sekarang kapan lagi?
Sumber Referensi :

Alamendah (2014). Kerusakan Lingkungan Hidup di Indonesia dan Penyebabnya. Diakses pada tanggal 21 April 2016 pukul 20.20, dari https://alamendah.org/2014/08/01/kerusakan-lingkungan-hidup-di-indonesia-dan-penyebabnya/.

Amzan, H. (2014). Sumbangan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kerusakan Lingkungan. Diakses pada tanggal 22 April 2016 Pukul 05.50, dari http://www.kompasiana.com/mhamdan/sumbangan-pertumbuhan-ekonomi-terhadap-kerusakan-lingkungan_54f76902a3331113368b471d

Luo, Tianyi (2015). World’s 15 Countries with the Most People Exposed to River Floods. Diakses pada tanggal 21 April 2016 pukul 20.10, dari http://www.wri.org/blog/2015/03/world%E2%80%99s-15-countries-most-people-exposed-river-floods.

Nurhasim, Ahmad (2015). Menteri Susi: 70 Persen Terumbu Karang di Indonesia Rusak. Diakses pada tanggal 21 April 2016 pukul 20.50, dari https://m.tempo.co/read/news/2015/08/10/090690443/menteri-susi-70-persen-terumbu-karang-di-indonesia-rusak.

Utami, Andhyta (2013). Indonesia Burning: Forest Fires Flare To Alarming Levels. Diakses pada tanggal 21 April 2016 pukul 19.50, dari http://www.wri.org/resources/charts-graphs/forest-cover-1990-2005-indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *