Blockchain: An Unbreakable Recording System?

Oleh: Fadli Ray Kifli
Departemen Kajian dan Aksi Strategis

Pada tahun 2016, Association of Certified Fraud Examiners (AFEC) menerbitkan
sebuah laporan berjudul Report to the Nations on Occupational Fraud and Abuse.
Berdasarkan sampel sebanyak 2.410 kasus, kerugian yang disebabkan dari perbuatan fraud
mencapai lebih dari $6,3 miliar dengan rata-rata kerugian sebesar $2,7 juta setiap kasusnya.
Lebih dari itu, akibat perbuatan fraud setiap organisasi kehilangan potential revenue sebesar
5%– implikasinya profit dari perusahaan bersangkutan juga akan berkurang.
Auditor memiliki tanggung jawab untuk memastikan adanya asurans yang memadai
(reasonable assurance) apakah sebuah laporan keuangan terbebas dari material misstatement
(Arens dkk 2017, 73). Namun, salah satu kendala umum dalam proses audit adalah
pengumpulan bukti yang cukup dan tepat untuk mendukung opini dari laporan keuangan
yang bersangkutan. Salah satu permasalahan umum dalam pengumpulan bukti adalah scope
limitation. Scope limitation terjadi ketika auditor tidak dapat mengumpulkan bukti yang
cukup dan tepat untuk memberikan opini/kesimpulan apakah sebuah laporan keuangan yang
disusun telah sesuai standar akuntansi. Scope limiation dapat dilakukan oleh klien, misalnya
pelarangan pemeriksaan fisik terhadap jumlah sediaan barang. Ada juga scope restrictions
yang berada di luar kendali dari klien maupun auditor, misalnya sistem informasi akuntansi
perusahaan rusak, sehingga data dari perusahaan hilang. Masalah-masalah tersebut telah
memperlambat proses audit terhadap laporan keuangan klien dan umumnya berujung pada
opini yang dimodifikasi—qualified opinion, adverse opinion, hingga desclaimer opinion.
Berdasarkan ISA’s 705, auditor yang menghadapi scope limitation dari klien dapat segera
keluar dari kontrak yang dilakukan dengan klien atau mengeluarkan disclaimer opinion. Hal
yang sama juga berlaku di Amerika, sebagaimana yang dikeluarkan AICPA melalui
Statements on Auditing Standards (SAS) no. 122 dan 123.

Jika disimpulkan salah satu permasalahan utamanya adalah pengumpulan bukti. Hal
ini dikarenakan tidak ada proses pencatatan yang bersifat “publik”, khususnya bagi
perusahaan-perusahaan yang telah teradaftar di bursa. Hingga akhirnya, pada tahun 2008,
Satoshi Nakamoto menerbitkan bitcoin. Pada tahun yang sama pula, sebuah sistem
pencatatan pun ditemukan, yaitu Blockchain. Hingga tahun 2014, masyarakat dunia pun baru
menyadari bahwa blockchain dan bitcoin adalah dua hal yang berbeda. Blockchain
merupakan sebuah teknologi layaknya sebuah buku besar yang menggunakan cryptography
signatures dan public key infrastructure yang terhubung layaknya rantai dan membentuk
catatan terhadap transaksi-transaksi yang terjadi (Lamieux, 2016). Penggunaan cryptography
signatures, hashing, dan public key infrastructure memastikan amannya proses pencatatan
melalui blockchain. Setiap transaksi yang terjadi akan tercatat dan membentuk sebuah
block” yang berperan sebagai database. Transaksi yang terakumulasi dan membentuk block
akan diberikan time-stamp untuk menghindari duplikasi transaksi. Block yang telah terbentuk
akan terhubung dengan block yang sebelumnya atau sesudahnya. Penghubung dari tiap-tiap
block tersebut merupakan sebuah algoritma kriptografi, yaitu hash. Block yang saling
terhubung secara sekuensial terbentuk layaknya rantai. Oleh karena itu disebut sebagai
blockchain. Setiap pengguna kemudian menyimpan pencatatan dari setiap transaksi yang
terjadi. Dengan kata lain, setiap transaksi akan direplikasi dan didistribusikan kepada
pengguna dari blockchain. Oleh karena itu juga, blockchain sering disebut sebagai distributed
ledger. Karena sifatnya yang decentralized dan peer-to- peer, maka apabila ada satu hacker
yang ingin mengubah data dari transaksi, maka harus melakukan penyerangan terhadap
seluruh user yang terhubung dengan blockchain secara bersamaan.

Hingga sekarang investasi pada blockchain semakin masif. Berdasarkan sebuah data
yang dipublikasikan oleh PWC, ditemukan selama tujuh tahun terakhir, pertumbuhan
investasi pada blockchain¸ bertumbuh secara eksponensial. Terakhir, pada tahun 2017, total
investasi pada blockchain mencapai $1,6 miliar. Ada peningkatan sebesar 23% dibandingkan
pada periode sebelumnya yang mencapai $1,3 miliar. Berikut data dari PWC:

Peningkatan yang terus berkelanjutan mengindikasikan bahwa investor secara umum
memandang blockchain sebagai sesuatu yang profitable. IBM melakukan forecasting, pada
tahun 2018, sekitar 91% bank akan berinvestasi pada blockchain. IBM juga memperoleh data
bahwa pada tahun 2017 sudah ada sekitar 14% financial market institutions mulai
memproduksi sistem blockchain sendiri.

Penerapan blockchain pada proses audit berkaitan erat dengan sumber bukti dalam
pengeluaran opini audit. Hal ini dikarenakan, setiap transaksi yang terjadi akan tercatat pada
blockchain dan tersebar pada seluruh nodes (miners). Seluruh user dapat melakukan
pemeriksaan terhadap transaksi yang terjadi, termasuk auditor. Misal, dalam pemeriksaan
akun piutang usaha perusahaan, auditor tidak perlu lagi meminta izin melalui klien untuk
memperoleh kontak dari seluruh kustomer. Auditor cukup melakukan pemeriksaan terhadap
seluruh block yang tercatat pada blockchain ledger. Proses verifikasi dapat dilakukan secara
otomatis yang akhirnya akan menghemat pengeluaran auditor dalam pengumpulan bukti.
Seluruh informasi yang telah tercatat dalam blockchain tidak dapat diubah—bersifat
permanen. Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan Santander Fintech, penggunaan blockchain dapat mengurangi financial services infrastructure costs mencapai $15—$20
miliar. Dengan kata lain, penggunaan blockchain—khususnya institusi yang menawarkan
jasa keuangan—memperoleh keuntungan yang substansial.

Semua transaksi yang tercatat terjadi secara sekuensial dan permanen. Setelah satu
transaksi diberikan time-stamp dan membentuk sebuah block—yang telah diberikan
cryptography signatures—maka perusahaan ataupun pihak eksternal tidak dapat melakukan
perubahan terhadap transaksi yang bersangkutan. Penggunaan blockchain dalam proses audit
juga telah menghilangkan proses sampling. Sama seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa
pada blockchain seluruh informasi yang tersedia bersifat real-time dan tidak dapat diubah.
Selain memberikan manfaat pada prosedur audit, blockchain juga diyakini dapat
digunakan sebagai sistem untuk memvalidasi transaksi, seperti transfer uang antar bank atau
pembelian surat-surat berharga (Lamieux 2016). Mengingat pengeluaran dana untuk
mengembangkan sistem pencatatan transaksi pada capital market cukup substansial. Laporan
yang diterbitkan oleh sebuah perusahan konsultan, Oliver Wyman mengungkapkan, rata-rata
setiap bank menganggarkan dana sebesar $100– $150 miliar untuk pengembangan sistem
transaksi yang relatif aman. Selaras dengan yang telah dipaparkan sebelumnya, penggunaan
blockchain dapat mengurangi dana yang perlu dikeluarkan entitas terkait. Beberapa bursa
efek di dunia juga telah menerapkan blockchain dalam perdagangan sekuritas. Australian
Stock Exchange telah menetapkan kesepakatan dengan perusahaan digital Amerika, yaitu US
Firm Digital Asset Holdings untuk mengembang sistem blockchain dalam pencatatan
transaksi sekuritas. Salah satu over the counter market yang cukup dikenal, NASDAQ telah
mengimplementasikan sistem blockchain pada tahun 2015. Security market tersebut telah
menciptakan Nasdaq Linq blockchain ledger technology untuk pencatatan transaksi penjualan
saham pada private compan ies. Beberapa perusahaan yang terlibat dengan teknologi
blockchain, seperti Chain.com, ChangeTip, Peer Nova, dan lain-lain. Citigroup dan
NASDAQ juga telah mengesahkan penggunaan Chain’s blockchain dalam pencatatan
transaksi. Selain yang telah dipaparkan, masih banyak beberapa bursa efek di beberapa
negara yang menggunakannya, seperti Korean Exchange, National Stock Exchange, Moscow
Exchange, hingga London Stock Exchange.

Potential benefits yang dapat diperoleh dari blockchain memang cukup menjanjikan.
Secara singkat, Accenture—perusahaan konsultan—mengestimasi pengehematan biaya sebesar 70% dalam pelaporan keuangan. Penggunaan blockchain juga diyakini memperkuat
internal control perusahaan. Hal ini menguntungkan bagi perusahaan publik yang terdaftar
pada bursa dalam proses audit terhadap pengendalian internal. Pengehematan 50% terhadap
biaya operasional perusahaan. Namun, bukan berarti sistem blockchain sepenuhnya aman
dari ancaman siber. Pada Juli 2017 terjadi hijacking terhadap sistem blockchain bernilai $32
juta ethereum—salah satu cryptocurrency dengan market cap terbesar kedua setelah bitcoin.
Akan tetapi, yang perlu ditekankan, kejahatan siber ini bukan disebabkan teknologi
blockchain, tetapi software yang digunakan untuk mengelola ethereum wallet yang menjadi
penyebabnya. Pada kasus ini, keunggulan dari blockchain dapat dirasakan, penyerangan pada
satu nodes akan terdeteksi pada nodes lain karena sifatnya yang decentralized. Karenanya,
kasus ini dengan cepat terdeteksi, apabila tidak, kerugian yang diderita akan melebihi $32
juta.

Peninjauan lebih lanjut memang dibutuhkan untuk mengambil keputusan strategis
untuk mengubah sistem pencatatan transaksi, dalam konteks ini adalah blockchain. Walaupun
berdasarkan beberapa report dan jurnal banyak yang mengungkapkan keuntungan dari
penerapan blockchain—khususnya penghematan biaya, keamanan, dan transparansi. Dalam
sebuah jurnal berjudul, “Trusting Records: is Blockchain Technology the Answer?”
dipaparkan lebih lanjut risiko yang dihadapi dari penggunaan blockchain, salah satunya man
in the middle attacks. Beberapa risiko tersebut dapat disandingkan dengan benefits yang
diperoleh melalui penerapan blockchain. Cost-benefit analysis dapat menjadi salah satu
alternatif yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Apakah perusahaan
mengganti sistem pencatatan transaksi menjadi blockchain atau tidak.

Bibliography

AICPA. "SAS No. 122; SAS No. 123." December 15, 2012.
Deloitte. Blockchain Technology: A Game Changer in Accounting? Deutschland: Deloitte, 2016.

IAASB. "INTERNATIONAL STANDARD ON AUDITING 705, MODIFICATIONS TO THE OPINION IN THE
INDEPENDENT AUDITOR'S REPORT." December 15, 2009.
Lamieux, Victoria Louise. "Trusting Records: Is Blockchain Technology the Answer ." 2016: 25.

Luisanna Coco, Andrea Pinna, and Michele Marchesi. "Banking on Blockchain: Costs Savings Thanks to the Blockchain Technology." 2017: 5.

McKinsey & Company. How can creative industries benefit from blockchain? 2016.
https://www.mckinsey.com/industries/media-and- entertainment/our-insights/how- can-
creative-industries- benefit-from- blockchain (accessed February 23, 2018).

NASDAQ. BUILDING ON THE BLOCKCHAIN. March 23, 2016.
http://business.nasdaq.com/marketinsite/2016/Building-on- the-Blockchain.html (accessed
March 12, 2018).

How Stock Exchanges Are Experimenting With Blockchain Technology. June 12, 2017.
https://www.nasdaq.com/article/how-stock- exchanges-are- experimenting-with- blockchain-
technology-cm801802 (accessed March 12, 2018).

NASDAQ LINQ ENABLES FIRST-EVER PRIVATE SECURITIES ISSUANCE DOCUMENTED WITH
BLOCKCHAIN TECHNOLOGY. December 30, 2015. http://ir.nasdaq.com/releasedetail.cfm?releaseid=948326 (accessed March 13, 2018).

Price Waterhouse Coopers. Blockchain in financial services. 2017.
https://www.pwc.com/us/en/industries/financial-services/research- institute/top-
issues/blockchain.html (accessed March 13, 2018).

Psalia, Sandro. "Blockchain: A game changer for audit processes?" 2017: 3.
Sohwanke, Amelia. "Bridging the digital gap: How tax fits into cryptocurrencies and blockchain
development." 2017: 1.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *